Kualitas Udara Singapura Masuk Level Tidak Sehat akibat Kabut Asap Karhutla

Kualitas udara di Singapura pada Jumat (4/9) pagi memburuk dan masuk kategori tidak sehat. Kondisi tersebut dipengaruhi kabut asap lintas batas negara atau transboundary haze yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.

Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) mencatat Indeks Standar Polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) mencapai angka 105 pada pukul 10.00 pagi. Angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di negara kota itu telah melewati ambang batas kategori baik dan sedang.

PSI Singapura Tembus Angka 105

Berdasarkan klasifikasi PSI, kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat ketika indeks berada pada rentang 101 hingga 200. Dengan catatan PSI sebesar 105, masyarakat Singapura mulai menghadapi dampak dari penurunan kualitas udara akibat kabut asap yang terbawa dari wilayah sekitar.

Situasi ini menjadi perhatian karena terakhir kali Singapura masuk ke kategori kualitas udara tidak sehat terjadi ketika kabut asap lintas batas menyelimuti negara tersebut pada Oktober 2023. Fenomena serupa kembali muncul setelah adanya peningkatan titik panas dan kabut asap di wilayah yang berada di sekitar Singapura.

Cuaca Kering Diperkirakan Berlangsung

Dilansir dari The Straits Times, Layanan Meteorologi Singapura memprediksi kondisi berkabut masih berpotensi terjadi dalam dua pekan ke depan. Cuaca kering diperkirakan berlangsung hingga paruh pertama September, sehingga berpeluang memperburuk kondisi kabut asap apabila tidak diikuti hujan yang cukup.

Meski demikian, curah hujan diperkirakan kemungkinan meningkat pada minggu kedua. Kehadiran hujan diharapkan dapat membantu mengurangi konsentrasi kabut asap di udara. Namun, tingkat keparahan kabut tetap akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama kondisi angin dan perkembangan titik panas di wilayah sumber kebakaran.

Imbauan untuk Mengurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Menanggapi penurunan kualitas udara tersebut, NEA mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Imbauan ini disampaikan seiring meningkatnya paparan kabut asap yang dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat, khususnya ketika indeks polusi berada dalam kategori tidak sehat.

Selain mencatat kondisi udara yang memburuk, NEA juga memantau peningkatan titik panas serta kemunculan kabut asap di wilayah sekitar Singapura. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sumber kabut asap masih aktif dan kondisi udara dapat berubah mengikuti arah pergerakan angin.

Asap Berasal dari Karhutla di Indonesia

Kabut asap pekat dilaporkan teramati hampir setiap hari sejak 21 Agustus di wilayah selatan dan tengah Sumatra, serta sejumlah bagian Kalimantan. Asap tersebut kemudian berpotensi terbawa angin melintasi perbatasan dan memengaruhi kualitas udara di negara-negara tetangga, termasuk Singapura.

Kondisi ini terjadi setelah kebakaran hutan dan lahan atau karhutla melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Kebakaran tersebut disebut dipicu oleh fenomena cuaca El Nino Super yang berkontribusi terhadap kondisi lebih kering. Cuaca kering dapat meningkatkan risiko munculnya titik panas dan membuat kabut asap bertahan lebih lama.

Namun, dampak kabut asap terhadap Singapura pada dasarnya sangat bergantung pada arah angin. Apabila angin bergerak dari wilayah sumber kebakaran menuju Singapura, konsentrasi asap di negara tersebut dapat meningkat. Sebaliknya, perubahan arah angin dapat memengaruhi sebaran dan tingkat keparahan kabut.

Malaysia Juga Terdampak Kabut Asap

Singapura bukan satu-satunya negara tetangga Indonesia yang terdampak kabut asap. Malaysia juga mengalami penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah. Bahkan, kualitas udara di beberapa daerah Negeri Jiran dilaporkan mencapai tingkat berbahaya dan diikuti lonjakan kasus asma.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa karhutla dan kabut asap memiliki dampak lintas batas. Perubahan kualitas udara tidak hanya dirasakan di wilayah yang berdekatan dengan titik kebakaran, tetapi juga dapat menyebar ke negara tetangga sesuai kondisi cuaca dan arah angin.

Kesimpulan

Kualitas udara Singapura yang mencapai PSI 105 menandai masuknya negara tersebut ke kategori tidak sehat akibat kabut asap karhutla lintas batas. Kondisi kering, peningkatan titik panas, serta kabut asap dari wilayah Sumatra dan Kalimantan menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai.

Dalam dua pekan ke depan, kondisi udara Singapura masih berpotensi berkabut, meskipun curah hujan diperkirakan meningkat pada minggu kedua. Perkembangan situasi akan sangat dipengaruhi oleh hujan dan arah angin. Masyarakat di Singapura diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara berada pada level tidak sehat.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment