KTT BRICS Adopsi Deklarasi Bersama, Serukan Penahanan Diri di Timur Tengah
BRICS secara resmi mengadopsi deklarasi bersama yang menyerukan seluruh pihak di Timur Tengah untuk menahan diri secara maksimal. Seruan tersebut disampaikan sebagai upaya memulihkan ketenangan kawasan sekaligus menjaga kelancaran perdagangan, rantai pasok, dan pasokan energi global.
Deklarasi itu disahkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS yang berlangsung selama dua hari di New Delhi, India, dan berakhir pada Sabtu (12/9). Mengutip Al Jazeera pada Minggu (13/9), negara-negara BRICS yang kini telah berkembang menjadi 11 anggota menyatakan keprihatinan mendalam terhadap eskalasi ketegangan geopolitik yang terus berlangsung di Timur Tengah.
BRICS Peringatkan Serangan terhadap Infrastruktur Sipil
Dalam deklarasi bersama tersebut, negara-negara BRICS memperingatkan semua pihak agar tidak melakukan serangan militer yang disengaja terhadap infrastruktur sipil. Peringatan itu secara khusus mencakup fasilitas nuklir yang dinilai memiliki dampak luas terhadap keselamatan masyarakat dan stabilitas kawasan.
Seruan penahanan diri dinilai penting untuk mencegah meluasnya konflik serta mengurangi dampak negatif terhadap sektor perdagangan, jalur distribusi, dan pasokan energi dunia. Stabilitas Timur Tengah juga berkaitan erat dengan kelancaran rute pelayaran internasional dan arus barang antarnegara.
Perdana Menteri India Narendra Modi menjadi tuan rumah dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut. KTT BRICS turut dihadiri sejumlah pemimpin negara, termasuk Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
BRICS Tegaskan Dukungan untuk Palestina
Selain membahas ketegangan di Timur Tengah secara umum, deklarasi BRICS kembali menegaskan sikap bersama negara-negara anggota terkait konflik Palestina. BRICS menolak dengan tegas praktik pemindahan paksa warga Palestina serta perubahan geografi maupun demografi di wilayah yang diduduki.
Negara-negara tersebut juga mendesak penghentian segera kekerasan dan serangan militer Israel di Jalur Gaza. Dalam deklarasinya, BRICS menyatakan dukungan penuh terhadap Badan Pengungsi PBB atau UNRWA.
BRICS juga mendorong terwujudnya keanggotaan penuh Palestina di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sikap tersebut menjadi bagian dari posisi bersama yang kembali disampaikan dalam forum internasional di New Delhi.
Xi Jinping Soroti Dampak Perang
Presiden China Xi Jinping, yang melakukan kunjungan pertamanya ke India dalam tujuh tahun terakhir, menyatakan bahwa peperangan yang berlangsung berkepanjangan tidak akan memberikan manfaat bagi komunitas internasional.
“Seiring situasi di Timur Tengah dan kawasan Teluk terus berkembang, perang di sana telah menyebabkan kerugian serius bagi masyarakat di seluruh kawasan,” kata Xi, sebagaimana dikutip dari kantor berita China, Xinhua.
Pernyataan tersebut menyoroti dampak luas konflik terhadap masyarakat di kawasan sekaligus memperkuat pesan BRICS agar seluruh pihak mengutamakan stabilitas dan penyelesaian ketegangan.
Stabilitas dan Kebebasan Pelayaran Jadi Perhatian
Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi dalam sesi pertemuan tertutup KTT turut menekankan pentingnya menjaga stabilitas serta kebebasan pelayaran di rute-rute internasional. Menurut dia, perkembangan di Timur Tengah telah menimbulkan dampak negatif terhadap perekonomian global, perdagangan, arus energi, dan rantai pasok.
El-Sisi menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya hubungan yang erat antara keamanan dan pembangunan. Gangguan terhadap stabilitas kawasan berpotensi memengaruhi berbagai aktivitas ekonomi yang bergantung pada kelancaran jalur perdagangan dan pasokan energi.
Dalam agenda bilateral, Modi juga bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Pertemuan tersebut membahas jaminan kebebasan navigasi serta keselamatan awak kapal niaga yang melintas di Selat Hormuz.
BRICS Bahas Pembayaran Non-Barat dan AI
Di luar isu konflik Timur Tengah, KTT BRICS membahas sejumlah ancaman dan tantangan ekonomi global. Dalam deklarasinya, negara-negara anggota menyepakati perluasan serta penguatan jalur pembayaran lintas batas non-Barat.
BRICS juga menyepakati kerja sama strategis di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Selain itu, kelompok tersebut menyampaikan penolakan keras terhadap sanksi dan pemberlakuan tarif perdagangan secara sepihak.
Sikap itu menjadi respons kolektif terhadap kebijakan Amerika Serikat yang kerap mengenakan tarif hukuman kepada sejumlah negara anggota BRICS. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat melabeli BRICS sebagai kelompok “anti-Amerika” dan mengancam menjatuhkan sanksi tarif terhadap negara-negara yang menyelaraskan diri dengan kelompok tersebut.
Diplomasi Antaranggota BRICS
Di sela-sela agenda utama KTT, diplomasi antaranggota juga berlangsung. Perdana Menteri Modi dilaporkan mengadakan pembicaraan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperdalam hubungan strategis kedua negara.
Selain itu, forum tersebut dihadiri Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed, serta perwakilan tingkat tinggi dari Uni Emirat Arab dan Brasil. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut hadir bersama pimpinan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Kesimpulan
KTT BRICS di New Delhi menghasilkan deklarasi bersama yang menempatkan penahanan diri dan perlindungan infrastruktur sipil sebagai prioritas dalam merespons ketegangan di Timur Tengah. BRICS juga kembali menyuarakan dukungan terhadap Palestina, UNRWA, serta keanggotaan penuh Palestina di PBB.
Ke depan, deklarasi tersebut menjadi dasar bagi BRICS untuk memperkuat koordinasi politik dan ekonomi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Perhatian terhadap stabilitas kawasan, kebebasan pelayaran, rantai pasok, energi, serta kerja sama ekonomi non-Barat diperkirakan tetap menjadi bagian penting dari agenda kelompok tersebut.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment