Dua Siswi Korban Keracunan MBG di Karo Dirujuk ke Jakarta untuk Perawatan Lanjutan

JAKARTA – Dua siswi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dirujuk ke rumah sakit di Jakarta untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Kedua siswi tersebut, Febiona dan Agnesia, diberangkatkan melalui Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, pada Sabtu (12/9).

Rujukan ke Jakarta dilakukan setelah Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka meminta agar kedua korban memperoleh penanganan khusus. Keduanya dinilai membutuhkan perhatian lebih karena mengalami kondisi medis dan psikologis yang lebih berat dibandingkan sejumlah korban lainnya.

Dua Siswi Mendapat Penanganan Khusus di Jakarta

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengatakan Febiona dan Agnesia sebelumnya telah mendapatkan penanganan dari tim dokter di Sumatera Utara. Menurut dia, kemampuan tim medis di Medan dinilai memadai untuk menangani kondisi kedua siswi tersebut.

Namun, setelah Wakil Presiden melakukan kunjungan dan memantau kondisi para korban, muncul arahan agar Febiona dan Agnesia dirujuk ke Jakarta. Penanganan mereka akan dipantau secara langsung sebagai bagian dari upaya memberikan perawatan yang lebih komprehensif.

“Sebenarnya kalau secara penanganan medis dari tim dokter yang membawa ke Jakarta, menyampaikan tim medis kita yang di Medan mumpuni. Namun kemarin kunjungan Bapak Wakil Presiden menyampaikan segala penanganan langsung dimonitor langsung oleh Bapak Wapres,” kata Bobby setelah melepas keberangkatan kedua siswi tersebut di Bandara Kualanamu.

Tim Dokter Sumut Tetap Mendampingi

Bobby menjelaskan, tim dokter dari Sumatera Utara turut mendampingi Febiona dan Agnesia selama menjalani perawatan di Jakarta. Pendampingan ini dilakukan untuk memastikan proses pemulihan tetap terkoordinasi dengan tim medis yang sebelumnya menangani keduanya di Sumut.

Keterlibatan tim dokter dari daerah asal diharapkan dapat membantu menjaga kesinambungan informasi medis selama proses perawatan. Dengan demikian, perkembangan kondisi kedua korban dapat terus dipantau secara terkoordinasi oleh tenaga medis yang telah mengetahui penanganan mereka sebelumnya.

Perhatian Tidak Hanya pada Kondisi Fisik

Gubernur Sumatera Utara menegaskan bahwa proses pemulihan para korban tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik. Kondisi mental dan psikologis anak-anak yang terdampak juga menjadi perhatian dalam penanganan lanjutan.

Menurut Bobby, Febiona dan Agnesia menunjukkan indikasi medis serta trauma yang lebih tinggi dibandingkan teman-teman mereka yang lain. Karena itu, Wakil Presiden meminta agar keduanya dibawa ke Jakarta untuk mendapatkan penanganan khusus.

“Jadi anak yang memang memiliki indikasi medis dan traumanya lebih tinggi daripada teman-temannya yang lain ini Pak Wapres minta langsung dibawa ke Jakarta dan penanganannya juga dari tim dokter kita juga ikut berangkat ke Jakarta. Ini atas perintah Bapak Wakil Presiden,” ujarnya.

Ratusan Pelajar Terdampak Keracunan MBG

Keracunan tersebut terjadi setelah para pelajar mengonsumsi makanan dari program MBG di sekolah pada 13 Agustus 2026. Sebanyak 353 pelajar di Kabupaten Karo dilaporkan mengalami gejala keracunan. Keluhan baru dirasakan beberapa jam setelah makanan yang dibagikan dalam program tersebut dikonsumsi.

Dari ratusan pelajar yang terdampak, kondisi Febiona dan Agnesia masih memerlukan perhatian khusus. Febiona dilaporkan mengalami gangguan ingatan dan kejang-kejang. Sementara itu, Agnesia disebut mengalami masalah pada bagian ginjal.

Kesimpulan

Rujukan Febiona dan Agnesia ke Jakarta menjadi langkah lanjutan dalam menangani korban keracunan MBG di Kabupaten Karo. Keputusan tersebut diambil setelah adanya permintaan Wakil Presiden agar kedua siswi memperoleh perawatan khusus, terutama karena kondisi medis dan psikologis mereka dinilai lebih berat dibandingkan korban lainnya.

Tim dokter dari Sumatera Utara tetap dilibatkan selama proses perawatan di Jakarta untuk menjaga koordinasi dengan tim medis yang menangani mereka sebelumnya. Ke depan, pemulihan kedua siswi diharapkan dapat terus dipantau secara menyeluruh dengan memperhatikan aspek kesehatan fisik, mental, dan psikologis.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment