Hukum Sholat Istisqo, Dalil, Tata Cara, dan Waktu Pelaksanaannya

Sholat Istisqo merupakan salah satu ibadah yang dilakukan umat Islam untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT. Salat ini umumnya dilaksanakan ketika terjadi kemarau panjang yang menyebabkan sumber air semakin terbatas. Selain sholat, umat Muslim juga dapat memohon hujan melalui doa, taubat, dan puasa.

Di antara berbagai ikhtiar tersebut, sholat Istisqo menjadi salah satu cara yang banyak dipilih karena dilaksanakan secara khusus untuk memohon pertolongan Allah SWT. Lantas, bagaimana hukum sholat Istisqo, apa dalilnya, serta bagaimana tata cara pelaksanaannya?

Pengertian Sholat Istisqo

Secara istilah syariat, sholat Istisqo adalah salat yang dikerjakan seorang hamba untuk meminta hujan kepada Allah SWT. Ibadah ini disyariatkan ketika wilayah atau masyarakat mengalami kemarau panjang hingga persediaan air menjadi minim.

Sholat Istisqo bukan satu-satunya bentuk ikhtiar untuk memohon hujan. Umat Muslim juga dapat memperbanyak doa, bertaubat, dan melaksanakan puasa. Namun, sholat Istisqo memiliki kekhususan karena dilakukan sebagai salat untuk meminta turunnya hujan.

Hukum Melaksanakan Sholat Istisqo

Dikutip dari NU Online, hukum melaksanakan sholat Istisqo adalah sunnah muakkad. Artinya, ibadah ini termasuk amalan sunah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan oleh umat Islam.

Meski demikian, hukum sholat Istisqo dapat berubah menjadi wajib apabila pemerintah memberikan seruan kepada masyarakat untuk melaksanakannya. Dengan demikian, pelaksanaan salat ini pada dasarnya bersifat sangat dianjurkan, tetapi dapat memiliki ketentuan berbeda apabila terdapat seruan resmi dari pemerintah.

Dalil Pelaksanaan Sholat Istisqo

Dalil mengenai pelaksanaan sholat Istisqo bersumber dari hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid RA. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW keluar menuju lapangan untuk memohon hujan, menghadap kiblat, membalikkan selendangnya, kemudian melaksanakan salat dua rakaat.

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُصَلَّى يَسْتَسْقِي وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَقَلَبَ رِدَاءَهُ

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar untuk melaksanakan shalat istisqa (meminta hujan). Lalu beliau menghadap kiblat dan melaksanakan shalat dua rakaat sambil membalik selendangnya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari nomor 1024 dan Muslim nomor 894.

Anjuran Pelaksanaan Sholat Istisqo

Sholat Istisqo lebih baik dilaksanakan secara bersama-sama atau berjemaah. Berdasarkan hadis tersebut, salat ini juga hendaknya dikerjakan di lapangan. Pelaksanaan di tempat terbuka menjadi salah satu hal yang disebutkan dalam keterangan mengenai praktik sholat Istisqo.

Para ulama juga menganjurkan agar umat Muslim yang mengikuti sholat Istisqo tidak datang dengan kemewahan. Sebaliknya, peserta dianjurkan mengenakan pakaian yang sederhana, tetapi tetap bersih dan suci.

Tata Cara Sholat Istisqo

Secara umum, tata cara sholat Istisqo sama dengan pelaksanaan salat Idulfitri dan Iduladha. Salat ini dikerjakan sebanyak dua rakaat dengan niat melaksanakan sholat sunah Istisqo.

Rakaat Pertama dan Kedua

Setelah membaca takbiratul ihram pada rakaat pertama, disunahkan membaca takbir sebanyak tujuh kali. Kemudian, pada rakaat kedua, sebelum membaca surat Al-Fatihah, disunahkan membaca takbir sebanyak lima kali.

Setelah salat selesai, umat Muslim dianjurkan melaksanakan dua khutbah. Bentuk khutbah tersebut menyerupai khutbah pada salat Idulfitri dan Iduladha. Perbedaannya terletak pada bacaan yang digunakan. Jika khutbah salat Id menggunakan takbir, khutbah sholat Istisqo menggantinya dengan bacaan istigfar.

Bacaan istigfar tersebut dilakukan sebanyak sembilan kali pada khutbah pertama dan tujuh kali pada khutbah kedua.

Waktu Pelaksanaan Sholat Istisqo

Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai waktu pelaksanaan sholat Istisqo, terutama berkaitan dengan batas akhir waktunya. Namun, pendapat Imam Syafi’i dan mayoritas ulama menyebutkan bahwa salat ini tidak memiliki waktu khusus.

Dengan demikian, sholat Istisqo dapat dikerjakan pada siang ataupun malam hari. Meski begitu, pelaksanaannya tetap tidak dilakukan pada waktu-waktu yang dimakruhkan untuk melaksanakan ibadah salat.

Kesimpulan

Sholat Istisqo adalah salat sunah untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT, terutama ketika terjadi kemarau panjang dan sumber air mulai terbatas. Hukumnya adalah sunnah muakkad, tetapi dapat berubah menjadi wajib apabila pemerintah menyerukan pelaksanaannya.

Salat ini dikerjakan dua rakaat, dianjurkan secara berjemaah di lapangan, serta diikuti dua khutbah dengan bacaan istigfar. Umat Muslim juga dianjurkan hadir dengan pakaian sederhana, bersih, dan suci. Dengan memahami hukum, dalil, tata cara, serta waktunya, pelaksanaan sholat Istisqo diharapkan dapat menjadi bagian dari ikhtiar umat untuk memohon pertolongan Allah SWT.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment