Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Kalimantan Barat, Sejumlah Rute Terpaksa Dibatalkan
Asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu operasional penerbangan di sejumlah wilayah Kalimantan. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan beberapa penerbangan di Kalimantan Barat terpaksa dibatalkan karena jarak pandang menurun dan tidak memenuhi aspek keselamatan penerbangan.
Menurut Dudy, penerbangan tidak boleh dipaksakan ketika kondisi cuaca dan jarak pandang berisiko terhadap proses lepas landas maupun pendaratan. Keputusan untuk melanjutkan, menunda, mengalihkan, atau membatalkan penerbangan dilakukan berdasarkan kondisi aktual di lapangan serta informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Asap Karhutla Hambat Jarak Pandang Penerbangan
Dudy menyampaikan bahwa asap karhutla di Kalimantan Barat menghalangi jarak pandang pesawat. Akibatnya, sejumlah penerbangan harus dibatalkan demi menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat. Ia menegaskan bahwa maskapai tidak memiliki alasan untuk memaksakan penerbangan apabila situasi tidak memungkinkan.
“Memang seperti di Kalimantan Barat itu banyak asap yang kemudian menghalangi jarak pandang penerbangan. Jadi beberapa penerbangan terpaksa harus dibatalkan,” ujar Dudy di Lahan KAI Manggarai, Jakarta Selatan, Jumat (21/8).
Ia menjelaskan, kondisi asap dapat berubah mengikuti arah angin. Apabila jarak pandang masih berada dalam batas yang memungkinkan, penerbangan dapat tetap beroperasi. Namun, jika asap mengganggu proses take-off dan landing berdasarkan informasi BMKG, penerbangan tidak akan dilakukan.
“Kalau kondisi asap itu tidak menghalangi take-off landing, kita persilakan, tapi kalau menghalangi sesuai dengan informasi BMKG ya kita tidak lakukan,” kata Dudy.
Keselamatan Menjadi Prioritas Utama
Menteri Perhubungan menyebut keselamatan harus menjadi pertimbangan utama dalam seluruh kegiatan transportasi. Penundaan maupun pembatalan penerbangan akibat cuaca dan jarak pandang merupakan konsekuensi dari faktor alam yang berada di luar kendali maskapai.
Dudy menilai kondisi tersebut dapat dikategorikan sebagai force majeure. Dengan demikian, pembatalan bukan dilakukan atas kehendak maskapai, melainkan karena situasi alam menuntut adanya penyesuaian untuk mencegah risiko keselamatan.
“Pokoknya kalau transportasi harus memprioritaskan keselamatan. Tidak dipaksakan, jangan dipaksakan,” ujar Dudy.
Ia juga menyarankan masyarakat untuk mempertimbangkan moda transportasi lain apabila penerbangan menuju wilayah terdampak mengalami gangguan. Salah satu alternatif yang disebut adalah penggunaan kapal.
Operasional Bandara Singkawang Terdampak
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan sebelumnya melaporkan bahwa asap karhutla berdampak pada operasional sejumlah bandara di Kalimantan, termasuk Bandara Singkawang (SKJ). Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F Laisa mengatakan jarak pandang merupakan salah satu faktor penting dalam keselamatan penerbangan.
Apabila jarak pandang berada di bawah batas operasional yang dipersyaratkan, penerbangan dapat ditunda, dialihkan, atau dibatalkan. Operator penerbangan juga diwajibkan menyesuaikan operasional berdasarkan perkembangan kondisi cuaca.
Pada 16 Agustus 2026, jarak pandang di Bandara Singkawang tercatat sekitar 3.000 meter. Kondisi ini berdampak pada penerbangan TransNusa dan Super Air Jet. TransNusa terdampak pada rute Bandara Soekarno-Hatta (CGK)-Singkawang yang membawa 174 penumpang serta rute sebaliknya dengan 153 penumpang. Sementara itu, Super Air Jet terdampak pada rute CGK-Singkawang dengan 180 penumpang dan rute Singkawang-CGK dengan 87 penumpang.
Gangguan kembali terjadi pada 18 Agustus ketika jarak pandang berada di sekitar 2.000 meter. TransNusa terdampak pada rute CGK-Singkawang dan Singkawang-CGK, masing-masing dengan 174 penumpang. Pada Super Air Jet, jumlah penumpang terdampak masing-masing mencapai 180 dan 179 orang.
Pada 19 Agustus, jarak pandang sekitar 2.500 meter berdampak terhadap penerbangan TransNusa dengan jumlah penumpang masing-masing 164 dan 165 orang untuk rute CGK-Singkawang dan sebaliknya. Super Air Jet terdampak dengan masing-masing 180 penumpang pada kedua rute tersebut.
Penumpang Mendapatkan Pilihan Refund dan Reschedule
Penumpang yang terdampak gangguan penerbangan mendapatkan penanganan dari maskapai. Bentuk penanganannya berupa pengembalian dana secara penuh atau perubahan tanggal penerbangan tanpa biaya hingga tujuh hari ke depan. Pelaksanaannya mengikuti kebijakan masing-masing maskapai.
Keterlambatan Penerbangan di Bandara Iskandar
Selain Bandara Singkawang, dampak asap karhutla juga terpantau di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Sejumlah penerbangan NAM Air mengalami perubahan jadwal akibat kondisi tersebut.
Penerbangan rute CGK-PKN yang semula dijadwalkan berangkat pukul 07.00 WIB ditunda menjadi 08.50 WIB. Rute PKN-SRG berubah dari pukul 07.30 WIB menjadi 09.38 WIB. Selanjutnya, penerbangan SRG-PKN bergeser dari pukul 10.15 WIB menjadi 12.05 WIB, sedangkan rute PKN-SUB berubah dari pukul 10.45 WIB menjadi 12.34 WIB.
Kementerian Perhubungan juga melakukan pemantauan di sejumlah bandara di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Utara. Sebagian bandara masih beroperasi normal, sementara bandara lainnya terus diawasi berdasarkan perkembangan cuaca dan jarak pandang.
Kesimpulan
Asap karhutla telah mengganggu penerbangan di sejumlah wilayah Kalimantan, terutama karena menurunkan jarak pandang. Kemenhub menegaskan bahwa keselamatan menjadi dasar utama dalam menentukan keberlanjutan operasional penerbangan. Karena itu, penerbangan dapat ditunda, dialihkan, atau dibatalkan apabila kondisi tidak memenuhi persyaratan keselamatan.
Ke depan, Kemenhub bersama pengelola bandara, maskapai, AirNav Indonesia, BMKG, dan instansi terkait akan terus memantau perkembangan karhutla serta dampaknya terhadap penerbangan. Penyesuaian jadwal dan operasional tetap bergantung pada kondisi aktual di lapangan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment