Biaya Produksi Beras Indonesia Lebih Tinggi dari Thailand dan Vietnam, Ini Penyebabnya
Biaya produksi beras di Indonesia masih dinilai lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Vietnam. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut salah satu faktor yang memengaruhi kesenjangan tersebut adalah besaran subsidi pemerintah. Menurutnya, subsidi sektor pertanian di sejumlah negara lain jauh lebih besar sehingga turut membantu menekan ongkos produksi pangan.
Pernyataan Amran disampaikan setelah Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas membandingkan biaya produksi beras di Indonesia dengan negara-negara tetangga. Perbedaan biaya tersebut menjadi salah satu tantangan yang masih harus diselesaikan pemerintah untuk meningkatkan daya saing pangan nasional.
Subsidi Indonesia Dinilai Masih Lebih Kecil
Amran mengatakan negara seperti Vietnam, Amerika Serikat, dan China memberikan subsidi pertanian dalam jumlah yang jauh lebih besar. Ia menyebut subsidi di negara-negara tersebut dapat mencapai sekitar 70 hingga 80 persen.
“Di sana itu subsidi, saya dari Vietnam, saya bahkan dari Arkansas, Amerika, China, itu subsidinya 70-80 persen. Dan kalau kita bandingkan, sebenarnya sama kalau subsidi kita kecil banget dibanding negara lain,” kata Amran di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Senin (7/9).
Menurut Amran, keterbatasan kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) membuat pemerintah belum dapat memperbesar subsidi secara signifikan. Ia menilai dukungan yang diberikan saat ini perlu disesuaikan dengan kapasitas anggaran negara.
“Enggak (subsidi diperbesar), cukuplah dulu. Ini kan APBN juga,” ujar Amran.
Dukungan Pemerintah melalui SPHP Jagung
Meski subsidi tidak diperbesar, pemerintah tetap menyiapkan dukungan lain untuk menjaga pasokan pangan. Salah satunya melalui tambahan Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung sebanyak 150 ribu ton.
Tambahan pasokan tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan di tingkat peternak. Amran menyebut kebijakan itu merupakan bentuk dukungan pemerintah yang berada di luar skema subsidi.
“Ada tambahan lagi SPHP jagung 150 ribu. Tapi Pak Menko (Zulkifli Hasan) benar, itu artinya di luar dari subsidi pemerintah,” kata Amran.
Biaya Produksi Beras Indonesia Capai Rp12 Ribu per Kilogram
Sebelumnya, Zulhas menyampaikan perbandingan biaya produksi beras di sejumlah negara. Ia menyebut ongkos untuk menghasilkan satu kilogram beras di Thailand dan Vietnam berada di kisaran Rp3.800.
Sementara itu, biaya produksi beras di Indonesia disebut mencapai sekitar Rp12 ribu per kilogram. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup besar dalam efisiensi produksi pangan.
“Negara tetangga kita dekat, Thailand, Vietnam itu, untuk dapat 1 kilo beras, dia hanya mengeluarkan biaya Rp3.800 per kilogram. Kita untuk 1 kg beras, itu perlu biaya Rp12 ribu. Betapa kita kalah jauh tertinggal,” ujar Zulhas dalam acara peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (4/9).
Teknologi dan Produktivitas Menjadi Tantangan
Zulhas menilai tingginya biaya produksi beras Indonesia tidak hanya berkaitan dengan subsidi. Faktor teknologi, penggunaan varietas baru, serta manajemen pengolahan sawah juga disebut memengaruhi produktivitas pertanian.
Produktivitas yang lebih rendah dapat membuat biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan komoditas menjadi lebih besar. Karena itu, peningkatan teknologi dan pengelolaan pertanian menjadi bagian penting dalam upaya menekan biaya produksi pangan di dalam negeri.
Persoalan serupa juga terlihat pada komoditas tebu dan kedelai. Zulhas menyebut biaya menghasilkan satu kilogram tebu di Lumajang mencapai sekitar Rp14 ribu. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan India dan Brasil yang disebut tidak sampai Rp4.000 per kilogram.
Untuk kedelai, produksi menggunakan bibit yang saat ini digunakan di Indonesia berada di kisaran satu ton per hektare. Di negara yang mengembangkan rekayasa genetik, produktivitas kedelai disebut dapat mencapai hingga 10 ton per hektare. Perbedaan produktivitas itu turut menyebabkan harga kedelai Indonesia bisa tiga hingga empat kali lebih mahal.
Ketergantungan Bibit Impor Masih Disoroti
Zulhas juga menyinggung ketergantungan terhadap bibit impor yang masih terjadi pada hampir seluruh tanaman pangan. Menurutnya, persoalan bibit, teknologi, produktivitas, dan biaya produksi saling berkaitan.
Rangkaian persoalan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dalam membangun sektor pangan yang lebih efisien. Perbaikan pada satu aspek dinilai perlu berjalan beriringan dengan pembenahan aspek lainnya agar biaya produksi dapat ditekan secara berkelanjutan.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan Vietnam
Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertinggal dibandingkan Vietnam. Namun, ia mengingatkan bahwa kedua negara memiliki karakter dan tingkat kompleksitas yang berbeda, termasuk dalam kondisi makroekonomi.
Destry menyebut ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I dengan kondisi makroekonomi yang tetap terjaga. Ia juga membandingkan tingkat inflasi kedua negara. Menurutnya, Vietnam memang mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, tetapi inflasinya berada di atas Indonesia, yakni sekitar 4,5 hingga 5 persen.
Kesimpulan
Biaya produksi beras Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Vietnam dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari keterbatasan subsidi, produktivitas, teknologi, hingga penggunaan bibit. Pemerintah telah memberikan dukungan tambahan melalui SPHP jagung, tetapi ruang untuk memperbesar subsidi masih dibatasi kemampuan APBN.
Ke depan, persoalan tersebut membutuhkan pembenahan yang saling terhubung. Peningkatan produktivitas, penguatan teknologi pertanian, pengembangan bibit, serta dukungan kebijakan yang sesuai dengan kemampuan anggaran menjadi faktor penting untuk menekan biaya produksi pangan Indonesia.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment