Harga BBM Nonsubsidi Berpotensi Tembus Rp20 Ribu per Liter, Dipicu Lonjakan Minyak Dunia

PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax dan Pertamina Dex, hingga berada di kisaran Rp18 ribu-Rp20 ribu per liter. Proyeksi tersebut disampaikan di tengah terus meningkatnya harga minyak mentah dunia yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengatakan, pergerakan harga BBM nonsubsidi sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak dunia. Jika tren kenaikan terus berlanjut, harga sejumlah produk BBM nonsubsidi berpotensi mengalami peningkatan signifikan.

Harga Pertamax dan Pertamina Dex Berpotensi Naik

Eko menjelaskan bahwa harga Pertamax, Pertamina Dex, dan produk BBM nonsubsidi lainnya diperkirakan dapat berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter. Proyeksi ini didasarkan pada kondisi pasar minyak global yang masih menghadapi tekanan.

“Harga Pertamax, Dex, dan lain-lain itu akan berkisaran antara di angka Rp18 ribu sampai Rp20 ribuan karena tidak ada, belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia,” ujar Eko dalam acara media gathering di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa harga BBM nonsubsidi masih sangat rentan terhadap perubahan harga minyak mentah. Berbeda dengan BBM bersubsidi, harga BBM nonsubsidi lebih terkait dengan dinamika harga komoditas energi di pasar global.

Perang di Timur Tengah Tekan Pasar Energi

Menurut Eko, krisis energi yang dihadapi dunia saat ini terasa lebih berat dibandingkan tekanan yang muncul ketika perang Rusia dan Ukraina pecah. Ia menilai konflik di Timur Tengah memberikan dampak yang lebih besar terhadap pasar energi global.

Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian adalah penutupan Selat Hormuz akibat perang di kawasan tersebut. Selat Hormuz memiliki peran penting dalam jalur distribusi energi dunia. Gangguan pada jalur tersebut dinilai memicu efek domino terhadap ketersediaan energi sekaligus kestabilan harga minyak.

“Perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz ini, ternyata dampaknya secara global selain ketersediaan energi di dunia, itu juga harga yang saat ini belum stabil ya,” kata Eko.

Ia menambahkan, kondisi geopolitik yang belum stabil membuat harga minyak dunia sulit diprediksi. Tekanan terhadap pasokan energi dan ketidakpastian di pasar global kemudian berpotensi berdampak pada harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

Harapan Harga Minyak Kembali Turun

Di tengah tingginya harga minyak dunia, Eko berharap harga komoditas tersebut dapat kembali turun ke level US$60-US$70 per barel. Menurutnya, level tersebut merupakan kisaran harga sebelum krisis geopolitik di Timur Tengah memengaruhi pasar energi.

“Kalau berharap turun 70 dolar per barel atau 60 dolar per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang,” ujar Eko.

Harapan tersebut menjadi penting karena penurunan harga minyak dunia dapat mengurangi tekanan terhadap biaya energi. Sebaliknya, apabila kenaikan terus berlanjut, harga BBM nonsubsidi berpotensi tetap berada pada level tinggi.

Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel

Harga minyak dunia kembali menembus level US$100 per barel. Kondisi tersebut diproyeksikan membuat harga minyak mengakhiri pekan di atas level tersebut untuk pertama kalinya dalam hampir empat bulan.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent pada Jumat naik US$1,05 atau sekitar 1 persen menjadi US$108,68 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat meningkat 95 sen atau 1 persen menjadi US$103,45 per barel.

Kenaikan itu melanjutkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis (10/9). Pada saat itu, harga Brent dan WTI sama-sama melonjak lebih dari 6 persen.

Dalam perhitungan mingguan, harga Brent dan WTI masing-masing telah menguat hampir 13 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak pekan yang berakhir pada 17 Juli.

Kesimpulan

PT Pertamina Patra Niaga memperkirakan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex berpotensi berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter apabila harga minyak dunia terus meningkat. Tekanan tersebut dipicu oleh krisis geopolitik dan gangguan di kawasan Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz.

Untuk ke depan, arah harga BBM nonsubsidi masih sangat bergantung pada perkembangan harga minyak mentah serta stabilitas geopolitik global. Jika harga minyak dapat kembali turun ke kisaran US$60-US$70 per barel, tekanan kenaikan harga BBM diharapkan mereda. Namun, selama belum ada indikasi penurunan harga minyak dunia, potensi kenaikan harga BBM nonsubsidi masih tetap terbuka.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment