PTPN Group dan PT KUAB Bersinergi Kembangkan Budidaya Kedelai Nasional di Lahan 4.800 Hektare

Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) mengoordinasikan kerja sama sejumlah entitas PTPN Group dengan PT Karya Unggulan Anak Bangsa (KUAB) untuk mendukung pengembangan kedelai nasional. Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) mengenai pemanfaatan lahan serta pengembangan budidaya kedelai dari sektor hulu hingga hilir.

Penandatanganan MoU berlangsung di Jakarta, Jumat (11/09). Kesepakatan tersebut menjadi langkah awal bagi para pihak untuk mengkaji pemanfaatan sejumlah aset perkebunan PTPN Group dalam mendukung program budidaya kedelai secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan.

PTPN III Koordinasikan Sinergi Pengembangan Kedelai

MoU ditandatangani oleh Direktur Utama PT KUAB Ali Zum Mashar dan Direktur Aset PTPN III (Persero) Agung Setya Imam Efendi. Prosesi tersebut disaksikan oleh Direktur Utama PTPN III (Persero) Denaldy Mulino Mauna serta Pendiri sekaligus Presiden Direktur Arsari Group Hashim S. Djojohadikusumo.

Acara penandatanganan juga dihadiri oleh jajaran direksi dan perwakilan sejumlah entitas PTPN Group, yakni PTPN I, PTPN IV PalmCo, serta PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).

Denaldy mengatakan, Holding Perkebunan Nusantara akan menjalankan fungsi koordinasi dan fasilitasi. Peran tersebut ditujukan untuk memastikan sinergi antarentitas PTPN Group berlangsung secara terarah dan tetap mengacu pada prinsip tata kelola perusahaan yang baik.

Menurut Denaldy, PTPN Group memiliki pengalaman dalam pengelolaan perkebunan, kapabilitas operasional, serta potensi aset yang dapat dikolaborasikan dengan teknologi, varietas, pendanaan, dan kemampuan budidaya yang dimiliki PT KUAB.

“PTPN Group siap mengambil peran dalam mendukung pengembangan kedelai nasional melalui kolaborasi yang terukur dan berbasis kelayakan,” ujar Denaldy.

Ia menjelaskan, program tersebut akan dilaksanakan secara bertahap. Dengan pendekatan itu, model bisnis, produktivitas, kesiapan lahan, dan aspek keberlanjutan dapat diuji serta dievaluasi secara objektif sebelum diperluas.

Pembagian Peran PTPN Group dan PT KUAB

Peran entitas PTPN

Dalam rencana kerja sama ini, PTPN I, PTPN IV PalmCo, dan PT SGN akan menjalankan peran sesuai kepemilikan serta pengelolaan lahan masing-masing. PTPN IV PalmCo juga akan mendukung transfer pengetahuan, pengembangan budidaya, dan penyerapan hasil kedelai untuk kebutuhan penanaman berikutnya.

Pembagian peran tersebut diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antara pemanfaatan lahan, proses budidaya, dan keberlanjutan program. Sinergi antarpihak menjadi bagian penting dalam membangun model pengembangan kedelai yang dapat diuji secara bertahap.

Kontribusi PT KUAB

Sementara itu, PT KUAB akan berperan sebagai pelaksana budidaya. Perusahaan tersebut juga bertugas menyediakan teknologi dan varietas kedelai MIGO, pendanaan, serta transfer pengetahuan dalam pelaksanaan program.

Kolaborasi ini menggabungkan pengalaman pengelolaan perkebunan dan aset PTPN Group dengan dukungan teknologi, varietas, pendanaan, serta kemampuan budidaya dari PT KUAB. Seluruh unsur tersebut akan menjadi bagian dari kajian untuk menentukan kelayakan pengembangan program secara lebih luas.

Potensi Lahan Kedelai Mencapai 4.800 Hektare

Rencana pengembangan mencakup sejumlah lokasi indikatif di lingkungan PTPN Group. Total potensi lahan yang disiapkan mencapai sekitar 4.800 hektare.

Lokasi tersebut meliputi Kebun Jalupang di Kabupaten Subang, Kebun Pasir Badak di Kabupaten Sukabumi, Kebun Cikumpay di Kabupaten Purwakarta, Kebun Cibungur di Kabupaten Sukabumi, Kebun Cisalak Baru di Kabupaten Lebak, serta areal PG Jatitujuh di Kabupaten Majalengka.

MoU yang telah ditandatangani menjadi landasan awal untuk melakukan kajian lebih mendalam terhadap lokasi-lokasi tersebut. Sebelum kesepakatan dibuat, PTPN Group dan PT KUAB telah melakukan kunjungan serta pemeriksaan lapangan di sejumlah calon lokasi budidaya.

Proses itu dilanjutkan dengan pembahasan kesesuaian lahan, pemetaan areal yang diusulkan, dan penyusunan rancangan kerja sama. Tahapan tersebut diperlukan untuk memastikan kesiapan lokasi dan menyusun pelaksanaan program berdasarkan hasil kajian.

Pilot Project Disiapkan pada 2026

Sebagai tahap awal, para pihak merencanakan pelaksanaan pilot project pada 2026. Luas uji coba direncanakan mencapai 50 hektare di setiap lokasi yang telah disiapkan.

Hasil pelaksanaan proyek percontohan tersebut akan menjadi dasar evaluasi sebelum program dikembangkan secara lebih luas pada 2027. Evaluasi akan mencakup sejumlah aspek, antara lain model bisnis, produktivitas, kesiapan lahan, serta keberlanjutan program.

Kolaborasi untuk Mendukung Swasembada Kedelai

Pendiri sekaligus Presiden Direktur Arsari Group Hashim S. Djojohadikusumo menilai pengembangan kedelai nasional membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Ia berharap Indonesia dapat mencapai swasembada kedelai dalam waktu tiga hingga empat tahun.

“Hendaknya, kita bisa swasembada kedelai ini mungkin dalam waktu 3-4 tahun. Dan saya kira maksud kita adalah untuk menyuplai, memasok benih ke koperasi atau ke banyak petani di seluruh Indonesia,” kata Hashim.

Hashim juga menyampaikan bahwa banyak lahan di Indonesia yang dinilai cocok untuk pengembangan kedelai. Karena itu, ia menyambut baik sinergi antara PTPN Group dan PT KUAB sebagai bagian dari upaya membangun fondasi pengembangan kedelai nasional secara berkelanjutan.

Menurutnya, kerja sama tersebut memiliki nilai strategis bagi upaya mencapai swasembada pangan, khususnya komoditas kedelai. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PTPN atas kolaborasi yang dinilai penting bagi bangsa Indonesia.

Kesimpulan

Sinergi PTPN Group dan PT KUAB menjadi langkah awal dalam pengembangan budidaya kedelai nasional melalui pemanfaatan lahan, dukungan teknologi, penyediaan varietas, pendanaan, serta transfer pengetahuan. Dengan potensi lahan sekitar 4.800 hektare, program ini akan diawali melalui pilot project seluas 50 hektare di setiap lokasi pada 2026.

Hasil uji coba tersebut akan menjadi dasar evaluasi untuk menentukan pengembangan lebih luas pada 2027. Melalui pelaksanaan yang bertahap dan berbasis kelayakan, kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem pangan serta mendukung percepatan swasembada kedelai nasional.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment