Pertamina Perkenalkan SAF Berbasis Minyak Jelantah di IdeaFest 2026
JAKARTA – PT Pertamina (Persero) memperkenalkan Sustainable Aviation Fuel (SAF) dalam gelaran IdeaFest 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan. Bahan bakar penerbangan berkelanjutan tersebut menjadi salah satu inovasi energi rendah karbon yang diperkenalkan kepada masyarakat, dengan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) sebagai salah satu bahan bakunya.
Melalui booth Pertamina, pengunjung dapat melihat secara lebih dekat proses pemanfaatan minyak jelantah, mulai dari tahap pengumpulan hingga pengolahannya menjadi bahan baku SAF. Kehadiran inovasi ini menunjukkan bahwa kegiatan sederhana yang dilakukan masyarakat sehari-hari dapat berkontribusi terhadap pengembangan ekosistem energi yang lebih berkelanjutan.
Pertamina Kenalkan Perjalanan Minyak Jelantah Menjadi SAF
Di area pameran IdeaFest 2026, Pertamina mengajak pengunjung memahami bahwa minyak jelantah tidak hanya menjadi limbah rumah tangga. Dengan mekanisme pengumpulan dan pengolahan yang tepat, minyak tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku untuk menghasilkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, mengatakan pengembangan SAF merupakan langkah konkret perusahaan dalam mendukung transisi energi. Menurutnya, inovasi tersebut juga berkaitan dengan upaya memperkuat kemandirian energi nasional.
“Minyak itu kita buat untuk bahan bakar pesawat udara. Namun jangan khawatir, ini aman karena risetnya sudah diinisiasi sejak 2015, diteliti secara ketat dan diuji coba dari 2021 hingga 2025,” ujar Arya, Jumat (4/9).
Penjelasan tersebut disampaikan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai proses panjang di balik pengembangan SAF. Pertamina menekankan bahwa bahan bakar tersebut telah melalui tahapan riset, penelitian, dan uji coba sebelum dimanfaatkan dalam penerbangan.
SAF Minyak Jelantah Telah Digunakan Pelita Air
SAF berbasis minyak jelantah yang dikembangkan Pertamina juga telah digunakan dalam penerbangan Pelita Air Service, anak perusahaan Pertamina, untuk rute Jakarta-Bali. Pemanfaatan tersebut menjadi bukti bahwa inovasi energi rendah karbon dapat berasal dari sumber daya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Penggunaan minyak jelantah sebagai salah satu bahan baku SAF sekaligus memperlihatkan adanya hubungan antara aktivitas masyarakat dan kebutuhan pengembangan energi berkelanjutan. Minyak bekas memasak yang dikumpulkan dapat menjadi bagian dari rantai pasok bahan baku untuk sektor penerbangan.
Antusiasme Generasi Muda terhadap Program UCO
SAF Project Commercial PT Pertamina Patra Niaga, Ibrahim Akbar, mengatakan bahwa pemanfaatan minyak jelantah menjadi bahan bakar terbarukan menjadi salah satu topik yang paling menarik perhatian pengunjung IdeaFest 2026.
“Hari ini saya berkesempatan mempresentasikan program Pertamina yang mengubah minyak jelantah menjadi bahan bakar terbarukan. Saya melihat antusiasme yang sangat besar. Dari semua yang bertanya, semuanya tentang UCO,” kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, karakter pengunjung IdeaFest yang didominasi generasi muda memberikan peluang bagi Pertamina untuk memperkenalkan isu transisi energi dengan pendekatan yang lebih dekat dan relevan. Generasi muda dinilai dapat menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran mengenai penggunaan energi yang lebih berkelanjutan.
Masyarakat Dapat Berkontribusi melalui Pengumpulan Minyak Jelantah
Partisipasi masyarakat tidak berhenti pada pemahaman terhadap teknologi SAF. Masyarakat juga dapat mengambil bagian dengan mengumpulkan minyak jelantah yang kemudian menjadi salah satu sumber bahan baku dalam pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Ibrahim berharap semakin banyak lapisan masyarakat mengetahui program pembelian minyak jelantah yang telah tersedia. Dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat, jumlah minyak jelantah yang dapat dikumpulkan diharapkan turut bertambah.
“Harapannya, lebih banyak lapisan masyarakat mengetahui program ini sehingga sumber bahan baku, dalam hal ini minyak jelantah, bisa kita kumpulkan sebanyak-banyaknya,” ujarnya.
Pengembangan SAF Membutuhkan Kolaborasi
Ibrahim menambahkan, pembangunan ekosistem SAF tidak hanya bergantung pada aspek teknologi. Sejumlah tantangan lain juga perlu dijawab, termasuk perbedaan harga, mekanisme pengumpulan minyak jelantah, serta dukungan regulasi.
Karena itu, kolaborasi berbagai pihak menjadi faktor penting dalam memperkuat rantai pasok UCO. Keterlibatan masyarakat, pelaku usaha, dan pihak terkait diperlukan agar ketersediaan bahan baku dapat dikembangkan secara lebih optimal.
Dalam konteks tersebut, program pengumpulan atau pembelian minyak jelantah dapat menjadi salah satu sarana untuk mendorong partisipasi publik. Semakin banyak masyarakat yang terlibat, semakin besar pula peluang terbentuknya rantai pasok UCO yang lebih kuat untuk mendukung pengembangan SAF.
Kesimpulan
Pengenalan SAF berbasis minyak jelantah di IdeaFest 2026 menunjukkan bahwa transisi energi dapat dimulai dari aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Minyak jelantah yang dikumpulkan masyarakat berpotensi menjadi salah satu bahan baku bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Pertamina menyebut pengembangan SAF sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi dan kemandirian energi nasional. Ke depan, keberhasilan ekosistem ini akan dipengaruhi oleh kesinambungan riset, kesiapan teknologi, mekanisme pengumpulan UCO, dukungan regulasi, serta keterlibatan masyarakat dalam mengumpulkan minyak jelantah.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment