Rupiah Menguat ke Rp17.840 per Dolar AS, Sikap Hawkish BI Jadi Sentimen Positif
JAKARTA – Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Rabu (19/8) sore. Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.840 per dolar AS, naik 22 poin atau 0,12 persen dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya.
Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga terapresiasi terhadap dolar AS. Sentimen positif bagi rupiah turut dipengaruhi oleh sikap Bank Indonesia (BI) yang dinilai masih hawkish setelah mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen.
Rupiah Menguat Bersama Mayoritas Mata Uang Asia
Pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu sejalan dengan penguatan sebagian besar mata uang di kawasan Asia. Won Korea Selatan mencatatkan penguatan terbesar, yakni 1,20 persen terhadap dolar AS.
Setelah won, yen Jepang menjadi mata uang Asia dengan penguatan terbesar berikutnya. Yen tercatat menguat 0,32 persen. Dolar Singapura juga terapresiasi 0,15 persen, sedangkan yuan China menguat 0,08 persen.
Penguatan turut terjadi pada ringgit Malaysia dan dolar Hong Kong. Ringgit naik 0,03 persen, sementara dolar Hong Kong menguat 0,02 persen terhadap dolar AS.
Di tengah penguatan mayoritas mata uang Asia tersebut, peso Filipina menjadi satu-satunya mata uang di kawasan yang mengalami pelemahan. Peso tercatat turun 0,05 persen terhadap dolar AS.
Pergerakan Mata Uang Negara Maju Bervariasi
Berbeda dengan mayoritas mata uang Asia yang bergerak menguat, pergerakan mata uang negara maju terhadap dolar AS cenderung bervariasi.
Euro Eropa menguat 0,22 persen, sementara poundsterling Inggris naik 0,20 persen. Dolar Kanada juga mencatatkan apresiasi sebesar 0,13 persen, disusul franc Swiss yang menguat 0,10 persen terhadap dolar AS.
Namun, tidak seluruh mata uang negara maju bergerak positif. Dolar Australia tercatat melemah 0,12 persen terhadap dolar AS pada perdagangan tersebut.
Sikap Hawkish BI Mendukung Penguatan Rupiah
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah tidak terlepas dari sikap BI yang dinilai masih hawkish. Penilaian tersebut muncul setelah BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,75 persen.
Menurut Lukman, keputusan mempertahankan BI-Rate tersebut tetap memberikan kesan bahwa BI memiliki perhatian kuat terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Sikap itu dinilai menjadi sentimen positif bagi pergerakan mata uang Garuda di tengah ketidakpastian global.
“Rupiah ditutup menguat di level Rp17.840 per dolar AS, setelah hasil RDG BI terkesan hawkish meski mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen. Sikap tersebut mencerminkan komitmen BI yang tetap kuat pada stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global, sehingga turut memberikan sentimen positif bagi rupiah,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Rabu (19/8).
Prospek Rupiah Masih Dipengaruhi Stabilitas Nilai Tukar
Penguatan rupiah pada perdagangan Rabu menunjukkan respons positif pasar terhadap sikap BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Meskipun suku bunga acuan tidak berubah, keputusan tersebut tetap dipandang mencerminkan komitmen bank sentral terhadap stabilitas rupiah.
Di sisi lain, pergerakan mata uang global yang masih beragam memperlihatkan adanya ketidakpastian di pasar valuta asing. Dalam kondisi tersebut, sikap BI yang dinilai hawkish menjadi salah satu faktor yang memberikan sentimen positif terhadap rupiah.
Dengan demikian, rupiah menutup perdagangan di level Rp17.840 per dolar AS atau menguat 0,12 persen. Ke depan, arah pergerakan rupiah tetap akan berkaitan dengan kemampuan menjaga stabilitas nilai tukar serta respons pasar terhadap kebijakan BI di tengah dinamika mata uang global.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment