Anak Sering Mengorok Saat Tidur? Kenali Penyebab dan Tanda yang Perlu Diperiksa
Suara ngorok saat anak tidur sering kali dianggap sebagai hal biasa, terutama ketika anak sedang pilek, mengalami hidung tersumbat, atau merasa lelah. Namun, kebiasaan mengorok yang muncul hampir setiap kali anak tidur perlu mendapat perhatian dari orang tua. Pasalnya, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan pernapasan saat tidur, termasuk obstructive sleep apnea (OSA).
Obstructive sleep apnea terjadi ketika saluran napas menyempit atau tertutup selama tidur. Akibatnya, aliran udara terganggu dan napas anak dapat berhenti beberapa kali. Meski begitu, anak yang mengorok belum tentu mengalami sleep apnea. Oleh karena itu, orang tua perlu mengamati penyebab, pola ngorok, serta kondisi anak saat tidur.
Penyebab Anak Mengorok Saat Tidur
Ada sejumlah kondisi yang dapat membuat anak lebih mudah mengorok. Penyebabnya tidak selalu sama, sehingga penanganan perlu disesuaikan dengan faktor yang mendasarinya.
Pembesaran amandel dan adenoid
Pembesaran amandel dan adenoid merupakan salah satu kondisi yang berkaitan dengan OSA pada anak. Adenoid adalah jaringan yang berada di belakang hidung. Ketika amandel dan adenoid membesar, saluran napas dapat menjadi lebih sempit, terutama saat anak tidur.
Penyempitan saluran napas tersebut dapat menimbulkan suara ngorok. Pada sebagian anak, kondisi ini juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan selama tidur. Informasi mengenai kaitan pembesaran amandel dan adenoid dengan OSA pada anak turut dibahas dalam Journal of Pediatric Health Care.
Berat badan berlebih
Berat badan berlebih juga dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan saat tidur. Jaringan di sekitar saluran napas dapat membuat bagian tersebut lebih mudah menyempit ketika anak tidur.
Karena itu, kondisi berat badan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika anak memiliki kebiasaan mengorok. Pada anak dengan berat badan berlebih atau obesitas, pengelolaan berat badan dapat menjadi bagian dari penanganan sesuai kondisi yang mendasarinya.
Pilek dan infeksi saluran pernapasan
Pilek dan infeksi saluran pernapasan dapat menyebabkan hidung tersumbat. Kondisi ini membuat anak lebih sulit bernapas melalui hidung dan cenderung bernapas melalui mulut ketika tidur.
Pernapasan melalui mulut dapat membuat anak lebih mudah mengorok. Umumnya, ngorok yang disebabkan oleh hidung tersumbat akan membaik setelah pilek atau infeksi saluran pernapasan mereda.
Kelainan bentuk wajah dan gangguan otot atau saraf
Mengutip American Academy of Pediatrics (AAP), beberapa kondisi lain juga dapat meningkatkan risiko OSA pada anak. Kondisi tersebut termasuk kelainan bentuk wajah atau tengkorak.
Selain itu, gangguan pada otot dan saraf yang berperan dalam proses pernapasan juga dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan napas saat tidur. Oleh sebab itu, kebiasaan mengorok yang berlangsung terus-menerus sebaiknya tidak diabaikan.
Tanda Anak Mengorok yang Perlu Diperhatikan
Orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan ada atau tidaknya suara ngorok. Pola napas dan kualitas tidur anak juga perlu diamati. Kebiasaan mengorok pada anak dan remaja dapat disampaikan kepada dokter ketika pemeriksaan kesehatan.
Jika anak sering mengorok dan menunjukkan tanda gangguan pernapasan saat tidur, dokter dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan tidur. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Anak mengorok hampir setiap kali tidur, bukan hanya ketika sedang pilek.
- Terdapat jeda ketika anak bernapas.
- Anak tiba-tiba tersentak atau terlihat seperti terengah-engah saat tidur.
- Tidur anak terlihat gelisah.
- Anak sering bernapas melalui mulut.
- Anak sulit berkonsentrasi atau mengalami perubahan perilaku.
- Pertumbuhan anak tidak optimal.
Apabila menemukan tanda-tanda tersebut, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya. Pemeriksaan diperlukan agar kondisi anak dapat dinilai secara tepat.
Penanganan Disesuaikan dengan Penyebab
Penanganan anak yang mengorok bergantung pada penyebabnya. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung memberikan obat atau semprotan hidung tanpa mengetahui faktor yang membuat anak mengorok.
Jika ngorok disebabkan oleh hidung tersumbat akibat pilek atau infeksi saluran pernapasan, penanganannya dapat disesuaikan dengan kondisi yang mendasarinya. Sementara itu, pada anak dengan berat badan berlebih atau obesitas, pengelolaan berat badan dapat menjadi bagian dari penanganan.
Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat merekomendasikan pemeriksaan atau terapi lain sesuai penyebab dan tingkat keparahan gangguan pernapasan saat tidur. Dengan demikian, langkah penanganan tidak hanya berfokus pada menghilangkan suara ngorok, tetapi juga pada penyebabnya.
Kesimpulan
Mengorok saja belum cukup untuk memastikan anak mengalami sleep apnea. Suara tersebut bisa muncul sementara akibat pilek atau hidung tersumbat, tetapi juga dapat berkaitan dengan penyempitan saluran napas saat tidur.
Orang tua perlu memperhatikan apakah anak mengorok hampir setiap malam, mengalami jeda napas, terengah-engah, tidur gelisah, sering bernapas melalui mulut, atau menunjukkan perubahan perilaku dan pertumbuhan yang tidak optimal. Jika tanda-tanda tersebut muncul, pemeriksaan dokter penting dilakukan untuk mengetahui penyebabnya.
Ke depan, perhatian terhadap pola tidur dan pernapasan anak perlu menjadi bagian dari pemantauan kesehatan sehari-hari. Anak yang tampak tidur nyenyak belum tentu bernapas dengan baik sepanjang malam. Karena itu, mencari tahu penyebab ngorok merupakan langkah yang lebih penting daripada sekadar berusaha menghentikan suaranya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment