Kenali 7 Ciri Anak Terlalu Dimanjakan dan Dampaknya bagi Perkembangan Diri
Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anak. Memenuhi kebutuhan dan keinginan buah hati sering kali dianggap sebagai bentuk kasih sayang. Namun, jika hampir semua permintaan anak selalu dituruti tanpa aturan dan batasan, pola pengasuhan tersebut dapat berubah menjadi kebiasaan memanjakan anak secara berlebihan.
Anak yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya mungkin terlihat bahagia dan tidak kekurangan. Akan tetapi, persoalan dapat muncul ketika anak sulit menerima penolakan, tidak mampu menghadapi kekecewaan, atau menganggap orang lain harus selalu memenuhi keinginannya.
Memanjakan anak bukan hanya berkaitan dengan banyaknya barang, fasilitas, atau permintaan yang dipenuhi. Hal yang lebih penting adalah tidak adanya pola, batasan, serta pemantauan dalam pengasuhan. Lantas, apa saja ciri anak yang terlalu dimanjakan?
Ciri-ciri Anak yang Terlalu Dimanjakan
1. Mengharapkan segala sesuatu berjalan sesuai keinginan
Anak yang terbiasa dimanjakan cenderung menganggap semua hal harus berlangsung sesuai keinginannya. Kebiasaan tersebut terbentuk karena orang tua terlalu sering menuruti permintaan anak tanpa memberikan kesempatan untuk menerima penolakan atau menunggu.
Mengutip CNBC Make It, anak dengan kebiasaan tersebut juga dapat sering menjawab “tidak” terhadap berbagai permintaan orang tua.
2. Selalu menginginkan sesuatu yang baru
Anak yang dimanjakan mungkin memiliki banyak hal yang tidak dimiliki anak lain. Namun, hal tersebut tidak selalu membuatnya merasa cukup. Mereka dapat terus menginginkan barang atau hal lain secara berulang.
Menurut Medicine Net, anak yang terlalu dimanjakan cenderung kurang menghargai apa yang sudah dimiliki. Alih-alih mengucapkan terima kasih atas pemberian yang diterima, perhatian mereka justru beralih pada keinginan berikutnya.
3. Lebih mementingkan diri sendiri
Ciri lain yang dapat terlihat adalah sikap yang lebih egois. Anak mungkin lebih banyak memikirkan dirinya sendiri dibandingkan mempertimbangkan orang lain.
Mereka juga dapat merasa berhak memperoleh perlakuan khusus dari orang-orang di sekitarnya. Harapan tersebut muncul karena anak terbiasa mendapatkan perhatian dan pemenuhan keinginan tanpa batas yang jelas.
4. Sulit menerima kekalahan
Tidak ada anak yang senang ketika mengalami kekalahan. Namun, anak yang terbiasa dimanja dapat mengalami kesulitan lebih besar dalam mengungkapkan kekecewaan secara sehat.
Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, mereka mungkin menyalahkan orang lain. Anak juga dapat menunjukkan kemarahan karena keadaan tidak sesuai dengan keinginannya.
5. Menolak melakukan tugas sederhana
Anak yang terlalu dimanjakan sering kali menolak melakukan tugas-tugas sederhana. Beberapa di antaranya adalah menyikat gigi atau merapikan mainan.
Penolakan terhadap tugas tersebut dapat berkaitan dengan kebiasaan anak yang selalu dibantu atau tidak dibiasakan menjalankan tanggung jawabnya sendiri.
Kaitan Pola Asuh Permisif dengan Kemampuan Mengendalikan Diri
Kebiasaan memanjakan anak memiliki keterkaitan dengan pola asuh permisif. Dalam pola asuh ini, orang tua dinilai kurang memantau perilaku anak atau meminta anak merefleksikan tindakannya.
Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan dalam Developmental Review menyebutkan bahwa anak dengan orang tua permisif memiliki kemampuan yang lebih rendah dalam mengendalikan emosi negatif. Akibatnya, ketika menghadapi konflik, anak dapat mengalami kesulitan dalam mengendalikan dorongan agresif.
Anak perlu memperoleh kesempatan untuk belajar menunda kepuasan dan mengendalikan dorongan. Namun, kebiasaan selalu menuruti keinginan anak dapat membuat kesempatan belajar tersebut berkurang.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Child and Family Studies juga menemukan bahwa pola asuh permisif berkaitan dengan kesulitan anak dalam mengontrol diri. Studi tersebut menyoroti kurangnya kontrol orang tua sebagai salah satu prediktor rendahnya kemampuan regulasi diri anak.
Pentingnya Ruang untuk Belajar Mandiri
Regulasi diri mencakup kemampuan mengendalikan perhatian, perilaku, dan emosi. Impulsivitas menjadi salah satu komponen yang berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri.
Karena itu, memberikan kasih sayang kepada anak tidak harus selalu dilakukan dengan memenuhi semua keinginannya. Orang tua juga perlu memberikan ruang agar anak dapat belajar mandiri, menghadapi kekecewaan, serta memahami tanggung jawab atas pilihan yang dibuatnya.
Kesimpulan
Anak yang terlalu dimanjakan dapat menunjukkan sejumlah ciri, seperti mengharapkan segala sesuatu berjalan sesuai keinginan, terus meminta hal baru, kurang menghargai apa yang dimiliki, lebih egois, menuntut perlakuan khusus, sulit menerima kekalahan, dan menolak tugas sederhana.
Memanjakan anak bukan ditentukan oleh seberapa banyak cinta atau fasilitas yang diberikan. Hal yang lebih penting adalah apakah orang tua juga menghadirkan pola, batasan, dan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemandirian serta kemampuan mengendalikan diri. Dengan demikian, kasih sayang tidak hanya membuat anak merasa bahagia, tetapi juga membantunya belajar menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment