Membaca Buku Sebelum Tidur Bantu Menenangkan Pikiran, Ini Penjelasan Ahli
Bagi sebagian orang, tidur tidak selalu mudah dilakukan. Meski sudah berada di tempat tidur, pikiran masih dapat dipenuhi berbagai hal, mulai dari kejadian sepanjang hari, pekerjaan yang menanti esok, hingga kenangan lama yang kembali terlintas. Kondisi tersebut membuat tubuh sudah beristirahat secara fisik, tetapi pikiran masih berada dalam keadaan aktif.
Dalam situasi seperti ini, membaca buku sebelum tidur dapat menjadi kebiasaan sederhana yang membantu tubuh dan pikiran beralih menuju kondisi yang lebih rileks. Sejumlah ahli kesehatan otak dan tidur menyebutkan bahwa kebiasaan tersebut memiliki alasan ilmiah, terutama karena membaca menawarkan pengalaman yang lebih tenang dibandingkan menggunakan ponsel atau menggulir media sosial.
Mengapa Membaca Lebih Menenangkan daripada Bermain Ponsel?
Salah satu alasan membaca buku sebelum tidur dinilai lebih baik daripada menggunakan perangkat elektronik adalah paparan cahaya biru. Cahaya dari ponsel atau perangkat elektronik diketahui dapat mengganggu produksi melatonin, yaitu hormon yang berperan dalam mengatur siklus tidur dan bangun.
Selain persoalan cahaya, aktivitas di dalam ponsel juga dapat membuat otak terus menerima rangsangan. Media sosial, misalnya, menyajikan konten yang terus berubah, notifikasi, serta berbagai hal baru yang mendorong seseorang untuk kembali melihat layar. Akibatnya, pikiran dapat tetap berada dalam kondisi aktif ketika seharusnya mulai bersiap untuk beristirahat.
Laura Bojarskaite, ahli saraf sekaligus peneliti pascadoktoral di University of Oslo, mengatakan buku umumnya menawarkan pengalaman yang lebih lambat dan dapat diprediksi. Situasi ini membantu otak melepaskan diri dari rangsangan yang datang secara terus-menerus.
Membaca Membantu Mengalihkan Pikiran
Manfaat membaca sebelum tidur tidak hanya berkaitan dengan upaya menjauhkan diri dari layar. Bagi orang yang sulit tidur karena terlalu banyak berpikir, membaca dapat membantu mengalihkan perhatian dari berbagai hal yang membuat tubuh dan pikiran sulit rileks.
Bojarskaite menjelaskan bahwa membaca tidak secara langsung membuat otak menghasilkan rasa kantuk. Namun, aktivitas tersebut dapat membantu mengurangi berbagai faktor yang membuat seseorang tetap terjaga. Ketika seseorang larut dalam buku yang tenang, perhatiannya tidak lagi sepenuhnya tertuju pada percakapan yang memicu stres, pekerjaan esok hari, atau keinginan untuk terus mencari stimulasi dari ponsel.
Hal serupa disampaikan Joanna Fong-Isariyawongse, profesor madya neurologi di University of Pittsburgh yang mendalami pengobatan tidur. Menurutnya, membaca dapat menyerap perhatian secukupnya sehingga pikiran yang terus berputar menjadi lebih tenang. Aktivitas tersebut juga berpotensi membantu menurunkan respons stres tubuh, dari kondisi waspada menuju keadaan yang lebih rileks.
Konsistensi Menjadi Bagian Penting
Membaca buku sebelum tidur juga dapat dijadikan bagian dari rutinitas malam yang konsisten. Seperti halnya minum teh hangat atau menulis jurnal, kebiasaan membaca yang dilakukan dengan waktu dan cara yang sama setiap malam dapat menjadi sinyal bagi tubuh bahwa waktu beristirahat telah tiba.
Fong-Isariyawongse menekankan bahwa konsistensi merupakan kunci. Artinya, manfaat membaca sebelum tidur tidak hanya berasal dari isi buku, tetapi juga dari rutinitas yang menyertainya. Jika dilakukan secara teratur, tubuh dapat semakin terbiasa menghubungkan aktivitas membaca dengan waktu untuk bersantai dan tidur.
Pilih Bacaan yang Tidak Memicu Ketegangan
Meski dapat membantu menciptakan suasana yang lebih tenang, tidak semua jenis bacaan cocok dinikmati menjelang tidur. Bojarskaite menyarankan agar pembaca menghindari materi yang terlalu menegangkan, seperti cerita thriller yang membuat jantung berdebar, berita yang mengganggu emosi, atau laporan pekerjaan yang justru membuat pikiran kembali sibuk.
Bacaan yang sesuai untuk malam hari adalah materi yang cukup menarik untuk mempertahankan perhatian, tetapi tidak meningkatkan emosi atau membuat tubuh semakin waspada. Jika sebuah buku membuat seseorang terus penasaran hingga sulit berhenti membaca, buku tersebut mungkin lebih cocok dibaca pada siang atau sore hari.
Perhatikan Perangkat yang Digunakan
Pilihan perangkat juga perlu menjadi pertimbangan. Membaca melalui ponsel atau tablet dapat menghadirkan kembali hal-hal yang ingin dihindari sebelum tidur, seperti paparan cahaya biru dan godaan untuk membuka aplikasi lain.
Jika memungkinkan, buku fisik dapat menjadi pilihan. E-reader dengan teknologi layar e-ink juga dapat digunakan sebagai alternatif karena pengalaman membacanya lebih menyerupai buku dan memiliki lebih sedikit distraksi dibandingkan ponsel.
Kesimpulan
Membaca buku sebelum tidur bukanlah obat untuk seluruh masalah tidur. Namun, kebiasaan sederhana ini dapat membantu menciptakan suasana yang lebih tenang, mengurangi gangguan, serta memberi kesempatan bagi pikiran untuk perlahan beristirahat. Dengan memilih bacaan yang tidak terlalu menegangkan, menggunakan perangkat yang sesuai, dan menjalankannya secara konsisten, membaca dapat menjadi bagian dari rutinitas malam yang membantu mempersiapkan tubuh menuju waktu tidur.
Ke depan, kebiasaan ini dapat dipertimbangkan sebagai salah satu langkah sederhana dalam membangun rutinitas tidur yang lebih teratur. Meski hasilnya dapat berbeda bagi setiap orang, konsistensi tetap menjadi bagian penting agar tubuh mengenali aktivitas membaca sebagai tanda bahwa waktu beristirahat telah tiba.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment