Mengenal Food Noise, Pikiran tentang Makanan yang Tak Kunjung Reda

Pernah merasa baru saja selesai makan, tetapi pikiran kembali tertuju pada makanan? Keinginan untuk ngemil juga bisa muncul meski tubuh sebenarnya belum merasa lapar. Kondisi seperti ini belakangan sering disebut sebagai food noise, yaitu keadaan ketika pikiran seseorang terus dipenuhi keinginan, dorongan, atau bayangan mengenai makanan.

Food noise dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seseorang mungkin terus memikirkan makanan tertentu, sulit berhenti membayangkan camilan, atau berulang kali mencari sesuatu untuk dimakan meski tubuh tidak sedang membutuhkan asupan. Kondisi tersebut kerap dianggap sebagai tanda kurangnya kemauan atau disiplin dalam menjalani diet. Namun, keinginan makan tidak selalu hanya berkaitan dengan persoalan kemauan.

Food Noise Tidak Selalu Berarti Kurang Disiplin

Psikolog LIGHThouse Clinic, Tara de Thouars, mengatakan food noise sering disalahartikan sebagai kurangnya kemauan ketika seseorang berusaha mengatur berat badan. Menurut dia, hubungan seseorang dengan makanan terbentuk dari berbagai faktor yang saling berkaitan.

“Pola pikir membentuk bagaimana seseorang bersikap dan membuat pilihan. Pola pikir dan hubungan dengan makanan yang tidak tepat dapat memengaruhi pola makan yang juga tidak tepat,” ujar Tara dalam keterangannya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa perilaku makan perlu dipahami secara lebih menyeluruh. Ketika seseorang terus-menerus memikirkan makanan, penyebabnya tidak bisa langsung disimpulkan sebagai kurang disiplin. Dorongan tersebut dapat berkaitan dengan rasa lapar secara fisik, kebiasaan, kondisi emosional, paparan terhadap makanan, atau faktor lainnya.

Pendekatan Psikologis Membantu Mengenali Pemicu

Tara menjelaskan, pendekatan psikologis diperlukan untuk membantu seseorang memahami pikiran dan dorongan makan yang muncul. Pendekatan ini juga dapat membantu mengidentifikasi akar masalah yang membuat pola makan menjadi kurang tepat.

Dengan memahami pemicunya, seseorang dapat melihat hubungan antara pola pikir, kebiasaan, dan pilihan makanan. Hal ini penting terutama bagi mereka yang sering merasa gagal mengendalikan keinginan makan, karena persoalannya mungkin tidak berdiri sendiri.

Peran Mekanisme Biologis dalam Rasa Lapar

Persoalan pengendalian nafsu makan dapat menjadi lebih kompleks pada orang yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas dalam waktu lama. Tubuh memiliki sistem biologis yang membantu mempertahankan berat badan.

Ketika seseorang mulai menurunkan berat badan, tubuh dapat memberikan respons untuk mengembalikan berat tersebut. Salah satu responsnya adalah meningkatkan rasa lapar dan menurunkan rasa kenyang. Mekanisme ini dapat membuat sebagian orang merasa lebih sulit mengendalikan nafsu makan selama menjalani diet.

Karena itu, diet yang berulang kali tidak berhasil tidak selalu terjadi karena seseorang tidak memiliki motivasi atau disiplin. Mekanisme biologis tubuh juga dapat memengaruhi proses penurunan berat badan dan kemampuan seseorang dalam mengatur asupan makanan.

Hormon Incretin dan Pengaturan Nafsu Makan

Salah satu bagian dari sistem yang berperan dalam pengaturan nafsu makan adalah hormon incretin. Hormon incretin merupakan kelompok hormon yang diproduksi oleh usus setelah seseorang makan. Dua hormon yang termasuk di dalamnya adalah GLP-1 atau glucagon-like peptide-1 dan GIP atau glucose-dependent insulinotropic polypeptide.

Hormon-hormon tersebut membantu tubuh merespons makanan yang masuk. Selain berperan dalam pengaturan kadar gula darah, incretin juga berkaitan dengan rasa kenyang dan pengaturan nafsu makan.

Apabila mekanisme pengaturan lapar dan kenyang mengalami gangguan, seseorang dapat lebih mudah merasa lapar atau kesulitan memperoleh rasa kenyang setelah makan. Situasi ini pada akhirnya dapat membuat upaya untuk mengatur asupan makanan menjadi lebih menantang.

Penanganan Obesitas Perlu Dilakukan Secara Komprehensif

Penanganan kelebihan berat badan dan obesitas idealnya tidak hanya berfokus pada angka di timbangan. Pola makan, aktivitas fisik, kondisi psikologis, kebiasaan, lingkungan, serta faktor biologis perlu dipertimbangkan secara bersama-sama.

Pendampingan ahli gizi dapat membantu seseorang menyusun pola makan yang realistis dan sesuai kebutuhan. Di sisi lain, psikolog dapat membantu mengidentifikasi pemicu emosional, kebiasaan, serta pola pikir yang berhubungan dengan perilaku makan.

Pada kondisi tertentu, pendekatan medis juga dapat menjadi bagian dari penanganan obesitas. Dokter Guadelupe Maria Melissa, Medical Manager LIGHT Group, menjelaskan bahwa terapi berbasis tirzepatide bekerja melalui dua jalur hormon incretin, yaitu GLP-1 dan GIP.

Menurut Guadelupe, kedua hormon tersebut berperan dalam mengatur nafsu makan dan rasa kenyang. Pada pasien yang sesuai, terapi ini dapat membantu mengurangi rasa lapar, meningkatkan kontrol terhadap asupan makanan, serta mengurangi dorongan atau pikiran berlebihan terhadap makanan yang dikenal sebagai food noise.

Terapi Medis Bukan Satu-Satunya Solusi

Meski dapat menjadi bagian dari penanganan, terapi medis bukan satu-satunya aspek dalam perjalanan penurunan berat badan. Guadelupe menegaskan bahwa terapi injeksi hanyalah salah satu bagian dari proses tersebut.

Keberhasilan dalam jangka panjang tetap membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Pengaturan pola makan yang dipersonalisasi juga diperlukan agar hasil yang telah dicapai dapat dipertahankan.

Kesimpulan

Food noise menggambarkan kondisi ketika pikiran seseorang terus dipenuhi keinginan atau dorongan terhadap makanan. Kondisi ini tidak seharusnya langsung dipandang sebagai bukti kurangnya disiplin, sebab perilaku makan dapat dipengaruhi oleh pola pikir, kebiasaan, kondisi emosional, lingkungan, serta mekanisme biologis tubuh.

Ke depan, pemahaman terhadap food noise dan obesitas perlu dilakukan melalui pendekatan yang lebih menyeluruh. Dukungan psikologis, pendampingan ahli gizi, serta pendekatan medis pada kondisi tertentu dapat menjadi bagian yang saling melengkapi. Dengan demikian, perjalanan mengatur berat badan tidak hanya berorientasi pada penurunan angka di timbangan, tetapi juga pada pengelolaan pola makan dan keberlanjutan hasilnya.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment