Rahang Pegal Saat Bangun Tidur? Kenali Tanda dan Penyebab Bruxism
Bangun tidur dengan rahang terasa pegal, kepala sakit, atau gigi mendadak sensitif tidak selalu disebabkan oleh posisi tidur. Keluhan tersebut bisa menjadi tanda seseorang menggemeretakkan atau mengatupkan gigi saat tidur. Kebiasaan ini dikenal sebagai bruxism.
Bruxism sering tidak disadari karena terjadi ketika seseorang sedang terlelap. Kondisi tersebut biasanya baru diketahui setelah muncul berbagai keluhan atau ketika dokter gigi menemukan tanda-tanda kerusakan pada gigi. Sejumlah ahli menyebut bruxism semakin sering ditemukan, salah satunya karena tekanan dan stres dalam kehidupan sehari-hari.
Apa Itu Bruxism?
Bruxism adalah kebiasaan menggemeretakkan atau mengatupkan gigi, baik ketika seseorang terjaga maupun saat tidur. Pada bruxism yang terjadi di malam hari, seseorang umumnya tidak menyadari aktivitas tersebut.
Dokter gigi Aditi Desai, presiden British Society of Dental Sleep Medicine, mengatakan bruxism semakin sering ditemui. Menurutnya, peningkatan tersebut tidak terlepas dari kehidupan modern yang dapat dipenuhi tekanan.
Karena berlangsung tanpa disadari, bruxism sering baru teridentifikasi setelah menimbulkan dampak pada gigi, rahang, wajah, atau kualitas tidur. Dalam beberapa kasus, pasangan atau orang lain yang tidur berdekatan dapat mengetahui kebiasaan tersebut melalui suara gigi yang bergesekan.
Tanda-Tanda Bruxism Saat Tidur
Gejala bruxism dapat berbeda pada setiap orang. Namun, terdapat sejumlah tanda yang umum muncul setelah seseorang tidur dengan kebiasaan menggemeretakkan atau mengatupkan gigi.
- Gigi tampak aus, terkelupas, atau menjadi lebih rata.
- Sakit kepala atau nyeri pada wajah saat bangun tidur.
- Rahang terasa kaku, tegang, atau pegal.
- Tidur terganggu dan tubuh mudah lelah pada siang hari.
- Gigi menjadi lebih sensitif.
- Muncul nyeri di sekitar telinga atau pelipis tanpa adanya infeksi.
Tekanan yang terjadi secara berulang dapat menyebabkan kerusakan lebih serius. Dalam kondisi yang berat, gigi bahkan dapat retak atau patah. Dokter gigi Simon Cove menjelaskan, kerusakan akibat bruxism dapat terlihat melalui pemeriksaan gigi, termasuk dengan bantuan pemindai tiga dimensi.
Menurut Cove, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka menggemeretakkan gigi. Namun, kerusakan yang ditimbulkan kebiasaan tersebut dapat terlihat ketika gigi diperiksa.
Stres Berhubungan dengan Bruxism
Stres menjadi salah satu faktor yang kerap dikaitkan dengan bruxism. Psikoterapis Rahi Popat mengatakan semakin banyak kliennya, terutama anak muda, yang menyadari kebiasaan menggemeretakkan gigi muncul atau memburuk ketika mereka berada dalam masa penuh tekanan.
Sejumlah orang bahkan dapat menghubungkan peningkatan kebiasaan tersebut dengan periode tertentu dalam hidup yang terasa sangat berat. Pada sebagian orang, bruxism baru muncul ketika menghadapi tekanan, sementara pada orang lain kebiasaan itu menjadi lebih sering atau lebih kuat.
Respons Tubuh terhadap Tekanan
Stres dan trauma dapat membuat tubuh memasuki kondisi fight or flight. Dalam keadaan ini, detak jantung dan kadar adrenalin meningkat. Otot tubuh juga dapat mengalami ketegangan, termasuk otot yang berada di sekitar rahang.
Ketika ketegangan tersebut berlangsung pada malam hari, aktivitas mengatupkan atau menggemeretakkan gigi dapat menjadi salah satu cara tubuh melepaskan stres dan ketegangan yang dirasakan sepanjang hari. Meski demikian, bruxism tetap dapat menimbulkan dampak terhadap kesehatan gigi, rahang, dan tidur.
Bruxism dan Gangguan Tidur
Pemeriksaan terhadap bruxism sebaiknya tidak hanya berfokus pada kerusakan gigi atau rasa nyeri yang muncul. Kemungkinan penyebabnya juga perlu diperhatikan. Salah satu kondisi yang dapat berkaitan dengan bruxism adalah obstructive sleep apnoea atau OSA, yang dikenal sebagai henti napas obstruktif saat tidur.
OSA terjadi ketika saluran napas mengalami penyumbatan saat seseorang tidur. Pada kondisi tertentu, aktivitas mengatupkan atau menggemeretakkan gigi dapat menjadi respons tubuh untuk membantu membuka kembali saluran napas.
Di sisi lain, aktivitas rahang tidak selalu sepenuhnya buruk. Gerakan rahang berperan dalam produksi air liur. Aktivitas otot rahang dapat mengaktifkan kelenjar ludah yang membantu membersihkan dan melindungi mulut serta mendukung proses pencernaan. Namun, tekanan berulang akibat bruxism tetap perlu diperhatikan karena dapat merusak gigi dan menyebabkan nyeri.
Penanganan Bruxism
Penanganan bruxism bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menggunakan mouthguard untuk melindungi gigi dari gesekan dan tekanan selama tidur.
Meski demikian, penggunaan alat tersebut tidak selalu mengatasi penyebab bruxism. Oleh karena itu, pemeriksaan oleh dokter gigi tetap diperlukan, terutama jika gigi mulai aus atau retak, rahang sering terasa nyeri, sakit kepala muncul ketika bangun tidur, atau kualitas tidur terganggu.
Dokter gigi dapat melihat tanda-tanda kerusakan yang mungkin tidak disadari oleh pasien. Pemeriksaan juga membantu menentukan apakah keluhan yang muncul berkaitan dengan bruxism serta mencari kemungkinan kondisi lain yang menyertainya.
Kesimpulan
Rahang kaku, sakit kepala saat bangun tidur, gigi sensitif, dan gigi yang aus dapat menjadi tanda bruxism. Kebiasaan menggemeretakkan atau mengatupkan gigi sering berlangsung tanpa disadari, khususnya ketika tidur. Stres dan trauma dapat berperan dalam muncul atau memburuknya kebiasaan tersebut, sementara pada kondisi tertentu bruxism juga dapat berkaitan dengan gangguan tidur seperti OSA.
Jika pasangan pernah mendengar suara gigi bergesekan saat tidur atau seseorang sering mengalami keluhan pada rahang dan gigi, pemeriksaan ke dokter gigi sebaiknya tidak ditunda. Deteksi lebih awal penting untuk mengetahui tingkat kerusakan dan menentukan penanganan yang sesuai. Dengan perhatian terhadap tanda-tanda yang muncul, dampak bruxism terhadap kesehatan gigi, rahang, dan kualitas tidur dapat ditangani secara lebih tepat.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment