Singapura Dinobatkan sebagai Negara Paling Bising di Dunia dalam Noise-Free Nations Index

Singapura dinobatkan sebagai negara paling bising di dunia berdasarkan pemeringkatan global terbaru yang disusun oleh agensi perjalanan Go2Africa. Predikat tersebut muncul dalam laporan bertajuk Noise-Free Nations Index, sebuah riset yang mengukur tingkat ketenangan berbagai negara dengan mempertimbangkan sejumlah indikator yang berkaitan dengan kepadatan penduduk, mobilitas, serta perkembangan infrastruktur.

Dalam pemeringkatan tersebut, Singapura memperoleh skor ketenangan hanya 6,78 dari 10 poin. Negara-kota ini memiliki kepadatan sekitar 8.436 penduduk dan 23.609 wisatawan per kilometer persegi. Tingginya konsentrasi penduduk dan wisatawan dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat Singapura lebih sulit menawarkan suasana yang benar-benar sunyi dibandingkan negara lain.

Noise-Free Nations Index Mengukur Tujuh Indikator

Riset yang dikutip dari VN Express tersebut mengevaluasi tujuh indikator utama untuk menentukan negara yang paling mampu menawarkan ketenangan dari hiruk-pikuk kehidupan modern. Indikator itu meliputi kepadatan penduduk, jumlah wisatawan, luas wilayah pedesaan, kawasan lindung, jumlah kendaraan bermotor, keberadaan bandara, serta jaringan kereta api.

Melalui indikator tersebut, Go2Africa tidak hanya melihat tingkat aktivitas manusia, tetapi juga mempertimbangkan ketersediaan ruang terbuka dan kawasan yang berpotensi memberikan suasana lebih tenang. Semakin padat suatu negara dengan aktivitas penduduk, wisatawan, kendaraan, dan transportasi, semakin besar pula tantangan untuk menghadirkan lingkungan yang minim gangguan.

Keterbatasan Wilayah Pedesaan di Singapura

Sebagai negara-kota, Singapura memiliki wilayah pedesaan yang relatif terbatas. Area hijau atau pedesaan hanya mencakup sekitar 30 persen dari total wilayah negara tersebut. Kondisi ini membuat pilihan lokasi yang benar-benar tenang menjadi lebih terbatas, baik bagi warga lokal maupun wisatawan.

Minimnya wilayah pedesaan juga berkaitan dengan karakter Singapura sebagai pusat perkotaan yang sangat berkembang. Sebagian besar aktivitas berlangsung di kawasan yang memiliki tingkat mobilitas tinggi. Ruang perkotaan yang padat membuat suasana tenang lebih sulit ditemukan, terutama di area yang menjadi pusat kegiatan masyarakat dan wisatawan.

Infrastruktur Transportasi Menambah Aktivitas Perkotaan

Faktor lain yang turut memengaruhi posisi Singapura adalah infrastruktur transportasinya. Negara tersebut memiliki kepadatan kendaraan bermotor, jaringan kereta api, serta aktivitas penerbangan yang termasuk tinggi di dunia.

Jaringan MRT Mengangkut Jutaan Penumpang

Mass Rapid Transit atau MRT Singapura mulai beroperasi pada 1987. Saat ini, jaringan tersebut membentang melalui lebih dari 170 stasiun yang tersebar di enam jalur utama. Sistem transportasi itu mengangkut lebih dari tiga juta penumpang setiap hari.

Besarnya jumlah penumpang dan luas jaringan MRT menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat di Singapura. Aktivitas transportasi yang berlangsung secara intensif menjadi salah satu aspek yang diperhitungkan dalam indeks ketenangan tersebut.

Bandara Changi Menjadi Pusat Penerbangan

Selain jaringan kereta api, Bandara Changi juga menjadi bagian penting dari infrastruktur transportasi Singapura. Bandara ini berdiri di atas lahan seluas lebih dari satu juta meter persegi dan terbagi dalam empat terminal. Luas tersebut disebut setara dengan 156 lapangan sepak bola.

Keberadaan bandara dengan skala besar memperkuat posisi Singapura sebagai negara dengan aktivitas perjalanan dan konektivitas internasional yang tinggi. Dalam konteks Noise-Free Nations Index, keberadaan bandara menjadi salah satu indikator yang diperhitungkan ketika menilai tingkat ketenangan suatu negara.

Pariwisata Singapura Terus Menjadi Penggerak Ekonomi

Sektor pariwisata merupakan salah satu pilar penting perekonomian Singapura. Sepanjang 2025, negara tersebut menerima 16,9 juta kunjungan wisatawan internasional. Angka itu meningkat 2,3 persen dibandingkan jumlah kunjungan pada 2024.

Lonjakan kunjungan tersebut turut menghasilkan rekor pendapatan pariwisata sebesar 32,8 miliar dolar Singapura, atau sekitar Rp457 triliun. Tingginya jumlah wisatawan menjadi salah satu alasan kepadatan aktivitas di Singapura ikut diperhitungkan dalam pemeringkatan negara paling bising.

Maladewa dan Barbados Masuk Tiga Besar

Dalam laporan yang sama, Maladewa menempati posisi kedua sebagai negara paling bising di dunia. Barbados berada di urutan ketiga. Sementara itu, Bhutan, negara kerajaan di kawasan Himalaya, dinobatkan sebagai negara paling tenang dan minim polusi suara di dunia.

Kesimpulan

Predikat Singapura sebagai negara paling bising dalam Noise-Free Nations Index menunjukkan adanya konsekuensi dari kepadatan penduduk, tingginya jumlah wisatawan, keterbatasan wilayah pedesaan, serta masifnya infrastruktur transportasi. Dengan skor ketenangan 6,78 dari 10 poin, Singapura berada di posisi yang berlawanan dengan Bhutan yang dinilai sebagai negara paling tenang.

Ke depan, pemeringkatan seperti ini dapat menjadi gambaran mengenai tantangan yang dihadapi negara-negara dengan tingkat urbanisasi dan mobilitas tinggi. Bagi Singapura, hasil tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata, pengembangan transportasi, dan ketersediaan ruang yang lebih tenang bagi masyarakat maupun wisatawan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment