WHO: Hampir 1 dari 5 Perempuan Mengalami Gangguan Mental Saat Hamil dan Setelah Melahirkan
Kehamilan dan masa setelah melahirkan merupakan periode penting yang sering dikaitkan dengan kebahagiaan menyambut kehadiran buah hati. Namun, fase ini juga membawa perubahan besar dalam tubuh, rutinitas, kondisi sosial, serta kehidupan sehari-hari ibu. Berbagai perubahan tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental perempuan, baik selama kehamilan maupun setelah persalinan.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan hampir satu dari lima perempuan mengalami masalah kesehatan mental selama kehamilan atau dalam satu tahun setelah melahirkan. Kondisi yang paling umum ditemukan adalah depresi dan kecemasan. WHO juga menyebut prevalensi gangguan mental pada periode perinatal cenderung lebih tinggi di negara berkembang.
Gangguan Mental Perinatal Masih Menjadi Perhatian
Sebelumnya, WHO memperkirakan sekitar 10 persen ibu hamil dan 13 persen perempuan yang baru melahirkan mengalami gangguan mental, terutama depresi. Angka tersebut meningkat di negara berkembang, yakni sekitar 15,6 persen selama kehamilan dan 19,8 persen setelah melahirkan.
Temuan mengenai kondisi tersebut kembali menjadi perhatian dalam World Health Day 2025. WHO menyebut hingga satu dari lima perempuan mengalami depresi atau kecemasan setelah melahirkan. Data ini menunjukkan bahwa kesehatan mental ibu merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Gangguan mental selama kehamilan dan setelah melahirkan dapat mencakup sejumlah kondisi, salah satunya depresi. Kondisi ini berbeda dari perubahan emosi ringan yang umumnya muncul sesaat setelah persalinan dan sering disebut sebagai baby blues.
Gejala yang Perlu Diperhatikan
Perempuan yang mengalami masalah kesehatan mental pada masa perinatal dapat merasakan kesedihan yang berlangsung lama. Mereka juga bisa kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, merasa tidak berharga, mengalami kesulitan tidur, mudah cemas, hingga kesulitan menjalani kegiatan sehari-hari.
Perubahan suasana hati setelah melahirkan memang dapat terjadi. Namun, keluhan yang berlangsung menetap, semakin berat, atau mulai menghambat aktivitas sehari-hari tidak sebaiknya dianggap sebagai bagian biasa dari proses menjadi ibu baru.
Tanda yang Tidak Boleh Diabaikan
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain rasa sedih secara terus-menerus, kecemasan berlebihan, serta kesulitan tidur bahkan ketika bayi sedang tidur. Ibu juga dapat kehilangan ketertarikan terhadap berbagai aktivitas, merasa tidak mampu merawat bayinya, atau mengalami kesulitan menjalankan perawatan diri.
Munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri juga merupakan tanda serius yang tidak boleh diabaikan. WHO mencatat, gangguan mental pada periode kehamilan dan setelah persalinan tidak hanya berdampak pada kondisi ibu, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan ibu dalam merawat diri dan bayinya.
Gambaran Kesehatan Mental Ibu di Indonesia
Gambaran mengenai masalah kesehatan mental selama kehamilan dan setelah melahirkan juga terlihat dalam penelitian di Indonesia. Mengutip penelitian dari Universitas Indonesia, Journal of Preventive Medicine and Public Health menemukan bahwa 12,6 persen ibu hamil dan 10,1 persen perempuan setelah melahirkan mengalami common mental disorders atau CMD.
Angka tersebut berarti sekitar satu dari delapan ibu hamil dan satu dari 10 perempuan setelah melahirkan dalam data penelitian menunjukkan gejala yang memenuhi kriteria CMD. Istilah CMD dalam penelitian tersebut mencakup sejumlah kondisi, seperti depresi, kecemasan, dan gangguan obsesif-kompulsif.
Meski demikian, angka tersebut tidak dapat disebut sebagai prevalensi depresi setelah melahirkan. Penelitian itu mengukur common mental disorders menggunakan instrumen skrining, bukan memberikan diagnosis klinis depresi kepada para responden. Perbedaan ini penting agar data dipahami secara tepat dan tidak disamakan dengan hasil diagnosis medis.
Faktor yang Berkaitan dengan Kondisi Mental Ibu
Pada perempuan setelah melahirkan, sejumlah faktor diketahui berkaitan dengan kondisi kesehatan mental. Faktor tersebut antara lain tinggal di wilayah pedesaan, memiliki riwayat aborsi, mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, serta menghadapi komplikasi selama kehamilan.
Kurangnya kunjungan antenatal care atau ANC, komplikasi setelah melahirkan, serta beberapa faktor yang berkaitan dengan proses persalinan dan kontrasepsi juga termasuk hal yang perlu diperhatikan.
Berbagai faktor tersebut menunjukkan bahwa kondisi mental ibu tidak berdiri sendiri. Pengalaman selama kehamilan, kondisi tubuh, situasi sosial, serta proses yang berlangsung setelah persalinan dapat menjadi bagian dari keadaan yang memengaruhi kesehatan mental perempuan.
Dukungan bagi Ibu Perlu Diperkuat
Ibu tidak harus menghadapi seluruh perubahan selama kehamilan dan setelah melahirkan seorang diri. Dukungan dari orang-orang terdekat menjadi hal penting, terutama ketika ibu mengalami perubahan suasana hati yang menetap atau kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.
WHO mendorong agar kesehatan mental menjadi bagian dari pelayanan kesehatan ibu dan anak. Dengan demikian, masalah mental pada masa perinatal dapat dikenali dan ditangani lebih awal.
Kesimpulan
Kesehatan mental selama kehamilan dan setelah melahirkan merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian setara dengan kesehatan fisik. WHO memperkirakan hampir satu dari lima perempuan mengalami gangguan mental dalam periode tersebut, dengan depresi dan kecemasan sebagai kondisi yang umum ditemukan.
Di Indonesia, penelitian juga menunjukkan adanya gejala common mental disorders pada ibu hamil dan perempuan setelah melahirkan. Karena itu, kesedihan berkepanjangan, kecemasan berlebihan, gangguan tidur, hilangnya minat, perasaan tidak mampu merawat bayi, hingga pikiran untuk menyakiti diri sendiri sebaiknya tidak diabaikan.
Ke depan, perhatian terhadap kesehatan mental perlu terus diperkuat dalam pelayanan ibu dan anak. Menjadi ibu bukan hanya tentang memastikan bayi tumbuh sehat, tetapi juga memastikan orang yang merawatnya memiliki kondisi mental yang turut diperhatikan dan didukung.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment