WHO Ungkap 7 Faktor Risiko Baru Demensia, Sebagian Bisa Dimodifikasi

Badan Kesehatan Dunia atau WHO memperbarui pedoman mengenai upaya mengurangi risiko penurunan kognitif dan demensia. Dalam pembaruan tersebut, WHO menambahkan tujuh kondisi kesehatan yang dinilai berkaitan dengan peningkatan risiko demensia.

Ketujuh faktor risiko baru itu meliputi stroke, cedera otak traumatis, gangguan penglihatan, masalah tidur, HIV, polusi udara, serta terapi hormon menopause. Penambahan ini melengkapi daftar 12 faktor risiko yang telah dikenal sebelumnya.

Meski hingga kini belum tersedia obat yang dapat menyembuhkan demensia, WHO menyebut sebagian faktor risikonya dapat dimodifikasi. Sekitar 45 persen dari seluruh faktor risiko demensia dinilai dapat diubah melalui pencegahan atau pengelolaan kondisi tertentu.

Tujuh Faktor Risiko Baru Demensia Menurut WHO

1. Stroke

Stroke terjadi ketika aliran darah ke bagian otak terhambat atau pembuluh darah di dalam maupun di sekitar otak pecah. Kondisi ini dapat memengaruhi fungsi otak dan menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan risiko demensia.

Daniel Amen, pendiri Amen Clinics di California, mengatakan bahwa kondisi yang memengaruhi jantung dan pembuluh darah juga dapat berdampak pada kesehatan otak. Menurutnya, gangguan pada sistem tersebut berkaitan dengan risiko demensia yang lebih tinggi.

2. Cedera Otak Traumatis

Cedera otak traumatis dapat berupa gegar otak ringan hingga cedera otak yang parah. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat dan pada beberapa kasus dapat berkaitan dengan gangguan pengendalian emosi, depresi, maupun kecemasan.

Amen mencontohkan, seseorang yang mengalami masalah emosional setelah berkonsultasi dengan psikiater mungkin sebenarnya memiliki riwayat cedera akibat kecelakaan. Karena itu, riwayat benturan atau kecelakaan yang pernah dialami perlu menjadi perhatian dalam memahami kondisi kesehatan otak.

3. Gangguan Penglihatan

Sebagian besar area otak digunakan untuk menjalankan fungsi penglihatan. Ketika penglihatan mengalami gangguan, fungsi otak juga dapat ikut terdampak. Oleh sebab itu, gangguan penglihatan dimasukkan WHO sebagai salah satu faktor risiko baru yang berkaitan dengan demensia.

4. Masalah Tidur

Tidur memiliki peran penting bagi kesehatan, termasuk kesehatan otak. Saat seseorang tidur, berlangsung proses pembuangan limbah di dalam otak. Gangguan tidur dapat menghambat proses tersebut.

Salah satu masalah tidur yang menjadi perhatian adalah sleep apnea. Kondisi ini dapat memicu perubahan pada otak yang menyerupai ciri khas penyakit Alzheimer.

5. HIV

Peradangan dan infeksi dapat memengaruhi kesehatan otak. HIV yang tidak ditangani dapat berdampak buruk terhadap sistem saraf pusat serta berhubungan dengan gangguan kognitif.

Di sisi lain, terapi antiretroviral terbukti mengurangi kejadian demensia parah yang berkaitan dengan HIV. Hal ini menunjukkan pentingnya pengelolaan infeksi tersebut untuk membantu menjaga kesehatan sistem saraf.

6. Polusi Udara

Paparan berbagai racun, seperti alkohol, ganja, timbal, merkuri, dan polusi udara, dapat menurunkan kesehatan otak. Penelitian menunjukkan bahwa paparan polusi udara dalam jangka panjang berkaitan dengan risiko penurunan kognitif dan demensia yang lebih tinggi.

WHO merekomendasikan pengurangan paparan polusi udara, baik yang berasal dari lingkungan rumah tangga maupun luar ruangan, terutama partikel halus. Upaya mengurangi paparan tersebut termasuk salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk memodifikasi faktor risiko demensia.

7. Terapi Hormon Menopause

WHO tidak merekomendasikan terapi hormon menopause secara khusus untuk mencegah demensia pada perempuan pascamenopause berusia 65 tahun ke atas. Hingga kini, belum terdapat bukti bahwa terapi hormon menopause dapat mencegah demensia.

Perubahan hormon selama menopause memang dapat memengaruhi suasana hati dan daya ingat. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi bukti bahwa terapi hormon menopause dapat digunakan sebagai metode pencegahan demensia.

Sejumlah Faktor Risiko Dapat Dimodifikasi

WHO menyatakan bahwa sekitar 45 persen faktor risiko demensia dapat dimodifikasi. Beberapa di antaranya adalah penggunaan tembakau, isolasi sosial, kurangnya aktivitas fisik, polusi udara, serta penyakit tidak menular.

Temuan ini menunjukkan bahwa pencegahan demensia tidak hanya berkaitan dengan faktor usia atau kondisi yang sulit diubah. Sebagian risiko dapat dikurangi melalui perhatian terhadap kesehatan secara menyeluruh, termasuk menjaga kesehatan otak, mengurangi paparan polusi, serta menangani kondisi kesehatan yang berkaitan dengan sistem saraf dan pembuluh darah.

Kesimpulan

Pembaruan pedoman WHO menambahkan tujuh faktor risiko baru demensia, yaitu stroke, cedera otak traumatis, gangguan penglihatan, masalah tidur, HIV, polusi udara, dan terapi hormon menopause. Sebagian faktor tersebut dapat dikendalikan atau dimodifikasi, sementara terapi hormon menopause belum direkomendasikan secara khusus untuk mencegah demensia.

Dengan belum tersedianya obat yang dapat menyembuhkan demensia, pengenalan terhadap berbagai faktor risiko menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan kognitif. Ke depan, pengelolaan kondisi kesehatan dan pengurangan paparan faktor risiko yang dapat diubah diharapkan dapat mendukung pencegahan penurunan kognitif dan demensia.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment