5.000 Marinir dan Pelaut AS Tiba di Pattaya Usai 250 Hari Operasi dengan Iran
Pendahuluan
Sekitar 5.000 marinir dan pelaut Amerika Serikat tiba di Pattaya, Thailand, awal pekan ini setelah menjalani penugasan panjang selama sekitar 250 hari dalam perang dengan Iran. Para personel tersebut merupakan bagian dari kru kapal induk USS Abraham Lincoln yang akhirnya dapat menginjak daratan setelah berbulan-bulan berada di laut.
Kedatangan mereka ke Thailand menjadi perhatian karena berlangsung setelah muncul laporan mengenai memburuknya kondisi kehidupan di atas kapal. Penugasan selama sembilan setengah bulan di laut disebut memicu berbagai persoalan, mulai dari tekanan terhadap kesehatan mental, kondisi hidup yang buruk, hingga kekurangan pasokan. Di Pattaya, para marinir dan pelaut Amerika Serikat itu dijadwalkan beristirahat selama kurang lebih empat hari sebelum kembali ke kampung halaman.
Kru USS Abraham Lincoln Beristirahat di Pattaya
South China Morning Post melaporkan, para kru kapal induk USS Abraham Lincoln memanfaatkan kesempatan tersebut untuk beristirahat dan memulihkan tenaga. Mereka tiba melalui Laem Chabang, pelabuhan yang menjadi akses menuju kawasan Pattaya.
Laksamana Muda Robert Loughran, komandan Carrier Strike Group 3, mengatakan bahwa kedatangan para personel di Laem Chabang memberikan kesempatan yang layak bagi mereka untuk memulihkan kondisi setelah menjalani operasi panjang.
“Kedatangan kami di Laem Chabang memberikan kesempatan yang layak bagi para pelaut dan marinir kami untuk beristirahat dan memulihkan tenaga,” ujar Loughran dalam sebuah pernyataan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota kelompok tempur tersebut. Menurutnya, pencapaian yang diraih selama menjalankan operasi merupakan sesuatu yang bersejarah. Loughran mengaku bangga terhadap profesionalisme dan keahlian yang ditunjukkan setiap anggota tim.
Setibanya di daratan, sebagian personel menghabiskan malam pertama dengan menikmati kebebasan untuk keluar dari kapal. Setelah berbulan-bulan berada di laut, kesempatan tersebut menjadi momen untuk bersantai dan melepas penat.
Empat Hari untuk Melepas Penat
Seorang pelaut muda yang mengenakan kaus Angkatan Laut Amerika Serikat berwarna biru dan tampak kusut mengatakan dirinya ingin bersantai secara perlahan. Ia tidak menyebutkan identitasnya ketika mengambil uang tunai dari mesin ATM.
Pelaut tersebut juga mengaku bahwa kunjungan ke Pattaya merupakan pengalaman pertamanya. Ia belum menentukan kegiatan yang akan dilakukan selama berada di kota tersebut, tetapi menyatakan ingin melihat situasi dan menikmati waktu luangnya.
Rencana singgah selama sekitar empat hari di Pattaya menjadi jeda singkat bagi ribuan marinir dan pelaut sebelum mereka kembali ke Amerika Serikat. Waktu istirahat itu berlangsung setelah mereka menyelesaikan rekor penugasan di laut yang mencapai sembilan setengah bulan.
Sejarah Pattaya dan Kedatangan Tentara AS
Pattaya yang kini dikenal sebagai kawasan wisata pantai di Thailand timur dulunya merupakan desa nelayan kecil yang sepi. Berdasarkan keterangan situs Pattaya Knowledge, wilayah tersebut pernah dihuni beberapa ratus penduduk yang menjalani kehidupan sederhana dan tradisional.
Perubahan Pattaya mulai terlihat pada 1959, ketika sekelompok tentara Amerika Serikat yang sedang bertugas dalam Perang Vietnam datang untuk beristirahat. Para tentara yang berbasis di Korat itu sengaja dikirim ke Pattaya untuk berlibur.
Mereka menyewa rumah di tepi pantai dan menikmati keindahan alam setempat. Pengalaman tersebut kemudian diceritakan kepada tentara lain dari mulut ke mulut. Kabar mengenai Pattaya sebagai tempat untuk melepas penat pun semakin menyebar di kalangan personel militer Amerika Serikat.
Selain itu, Amerika Serikat pernah menggunakan sejumlah pangkalan udara di Thailand, termasuk U-Tapao dan Takhli, secara besar-besaran selama Perang Vietnam. Keberadaan pangkalan tersebut turut membuat banyak tentara Amerika berkunjung ke Thailand untuk relaksasi dan rekreasi.
Dari Desa Nelayan Menjadi Destinasi Wisata
Seiring waktu, Pattaya berkembang menjadi kawasan wisata yang tidak hanya dikunjungi tentara, tetapi juga masyarakat umum. Lokasinya yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Bangkok membuat kota ini dapat dijangkau menggunakan berbagai moda transportasi.
Kehadiran ribuan marinir dan pelaut AS dari USS Abraham Lincoln kembali memperlihatkan hubungan panjang antara Pattaya dan personel militer Amerika Serikat. Namun, bagi para kru kapal induk tersebut, kunjungan kali ini terutama menjadi kesempatan untuk beristirahat setelah menjalani penugasan panjang dan melelahkan.
Kesimpulan
Kedatangan sekitar 5.000 marinir dan pelaut Amerika Serikat di Pattaya menandai berakhirnya salah satu masa penugasan laut terpanjang bagi kru USS Abraham Lincoln. Setelah 250 hari menjalankan operasi dan sembilan setengah bulan berada di laut, mereka memperoleh waktu sekitar empat hari untuk memulihkan tenaga sebelum pulang ke kampung halaman.
Di sisi lain, kunjungan tersebut juga mengingatkan kembali sejarah Pattaya yang pernah menjadi tempat persinggahan tentara Amerika pada masa Perang Vietnam. Dari desa nelayan yang sederhana, Pattaya kemudian berkembang menjadi destinasi wisata yang dikenal luas. Ke depan, waktu singkat para kru USS Abraham Lincoln di kota itu diharapkan dapat menjadi masa pemulihan sebelum mereka melanjutkan perjalanan pulang.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment