AS Buka Suara soal Klaim Iran Bajak Drone Bawah Laut di Selat Hormuz
Militer Amerika Serikat (AS) memberikan klarifikasi setelah Iran mengklaim telah mengamankan kapal selam tak berawak milik Washington di Selat Hormuz. Komando Pusat AS atau United States Central Command (CENTCOM) menyatakan bahwa sebuah drone bawah laut milik mereka mengalami kerusakan lebih dari sehari sebelum pernyataan tersebut disampaikan.
Klarifikasi itu disampaikan di tengah munculnya klaim dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengenai keberhasilan menguasai kendaraan bawah laut nirawak AS. Namun, CENTCOM belum memastikan apakah drone yang mengalami kerusakan tersebut merupakan kendaraan yang sama dengan kapal selam tak berawak yang disebut Iran.
CENTCOM Sebut Drone Bawah Laut AS Mengalami Kerusakan
Juru bicara CENTCOM, Tim Hawkins, mengatakan drone bawah laut yang dioperasikan pasukan AS mengalami malfungsi lebih dari sehari sebelumnya. Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa (8/9), seperti dikutip AFP.
Menurut Hawkins, drone tersebut sedang digunakan untuk menyurvei perairan di kawasan Selat Hormuz. Pengoperasian kendaraan itu disebut berkaitan dengan dukungan terhadap operasi yang sedang berlangsung.
“Sebuah drone bawah laut yang dioperasikan pasukan AS malfungsi lebih dari sehari yang lalu. Drone tersebut saat itu menyurvei perairan kawasan untuk mendukung operasi yang sedang berlangsung,” kata Hawkins dalam pernyataannya.
Meski demikian, Hawkins tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai apakah drone yang mengalami kerusakan itu sama dengan kendaraan nirawak yang belakangan diklaim telah diamankan oleh Iran.
AS Sebut Drone Bukan Perangkat dengan Data Sensitif
Hawkins juga menyampaikan bahwa drone bawah laut tersebut merupakan model lama. Ia menegaskan kendaraan itu tidak digunakan untuk mengumpulkan data sensitif.
Selain itu, drone tersebut disebut tidak membawa peralatan sonar maupun radar rahasia. Keterangan ini menjadi bagian dari penjelasan CENTCOM setelah Iran menyampaikan klaim terkait keberadaan kapal selam tak berawak AS di perairan strategis tersebut.
Namun, pernyataan CENTCOM belum secara langsung membantah klaim IRGC mengenai pengamanan kendaraan bawah laut milik AS. Pihak militer AS hanya mengungkapkan kondisi drone yang mengalami kerusakan serta keterbatasan perangkat yang dibawanya.
Iran Klaim Amankan Kapal Selam Tak Berawak AS
Sebelumnya, IRGC menyatakan telah mengamankan sebuah kapal selam tak berawak milik Amerika Serikat di Selat Hormuz. Menurut keterangan IRGC, kendaraan tersebut merupakan perangkat yang modern, cerdas, dan canggih karena dilengkapi teknologi terkini.
Media pemerintah Iran menyebut kendaraan itu sebagai Dive-LD. Kapal tersebut merupakan kendaraan bawah air otonom berukuran besar yang dibangun oleh Anduril, perusahaan pertahanan yang berbasis di California.
Informasi mengenai jenis kendaraan ini menjadi sorotan karena Dive-LD memiliki kemampuan untuk menjalankan berbagai misi di bawah permukaan laut. Kendaraan tersebut dirancang untuk mendukung operasi penanggulangan ranjau, pemetaan dasar laut, pengumpulan intelijen, serta inspeksi infrastruktur bawah laut.
Spesifikasi dan Kemampuan Dive-LD
Dive-LD memiliki panjang sekitar 5,9 meter. Berdasarkan informasi yang tercantum di situs web Anduril, kendaraan bawah air otonom itu dapat beroperasi hingga 10 hari tanpa harus kembali ke pangkalan.
Kendaraan tersebut juga dirancang untuk menyelam hingga kedalaman 6.000 meter atau sekitar 19.700 kaki. Kemampuan itu membuat Dive-LD dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan pemantauan serta pemeriksaan di lingkungan bawah laut.
Selain pemetaan dan misi penanggulangan ranjau, Dive-LD disebut dapat menjalankan pengumpulan intelijen serta memeriksa infrastruktur penting, termasuk kabel dan pipa yang berada di bawah permukaan laut.
Klaim Iran dan Respons AS Masih Belum Sepenuhnya Terhubung
Hingga pernyataan CENTCOM disampaikan, belum ada kepastian bahwa drone bawah laut yang mengalami kerusakan merupakan Dive-LD yang diklaim Iran. CENTCOM tidak menyebut identitas kendaraan secara terperinci dan tidak mengonfirmasi hubungan langsung antara kerusakan drone tersebut dengan klaim IRGC.
Di sisi lain, Iran menggambarkan kendaraan yang diamankan sebagai kapal selam nirawak dengan teknologi modern. Perbedaan keterangan tersebut membuat informasi mengenai insiden di Selat Hormuz masih menyisakan pertanyaan, terutama mengenai jenis kendaraan dan kondisi sebenarnya saat diamankan atau mengalami kerusakan.
Kesimpulan
Amerika Serikat mengakui bahwa sebuah drone bawah laut miliknya mengalami kerusakan saat digunakan untuk menyurvei perairan di kawasan Selat Hormuz. Namun, CENTCOM belum memastikan apakah drone tersebut merupakan kendaraan yang diklaim Iran telah diamankan.
AS juga menyebut drone itu sebagai model lama yang tidak membawa data sensitif, sonar, maupun radar rahasia. Sementara itu, Iran menyatakan kendaraan yang diamankan adalah Dive-LD, kendaraan bawah air otonom yang memiliki kemampuan operasi hingga 10 hari dan dapat menyelam hingga kedalaman 6.000 meter.
Perkembangan selanjutnya akan menentukan apakah klaim Iran dan penjelasan CENTCOM merujuk pada kendaraan yang sama. Untuk saat ini, identitas serta status drone bawah laut tersebut masih belum dijelaskan secara pasti.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment