Pakar UGM: Erupsi Enam Gunung Api Indonesia Bukan Akibat Rekayasa Teknologi

Yogyakarta – Fenomena erupsi atau peningkatan aktivitas enam gunung api di Indonesia dalam waktu yang berdekatan dinilai bukan disebabkan oleh rekayasa teknologi maupun narasi konspirasi. Pakar Vulkanologi Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Agung Harijoko, menjelaskan bahwa erupsi merupakan proses geologi alami yang terjadi akibat peningkatan tekanan gas dan magma di dalam bumi.

Menurut Agung, tekanan tersebut dapat mendorong magma dan gas keluar melalui retakan kerak bumi atau kawah gunung api. Ia menegaskan, hingga kini tidak terdapat bukti yang menunjukkan adanya keterkaitan antara erupsi gunung api dengan teknologi frekuensi atau campur tangan manusia.

Erupsi Gunung Api Merupakan Proses Geologi

Agung mengatakan, pemahaman mengenai erupsi harus didasarkan pada proses geologi yang berlangsung di dalam sistem gunung api. Ketika tekanan gas dan magma meningkat, material vulkanik dapat terdorong keluar melalui jalur yang tersedia di kerak bumi.

“Jadi tidak ada kaitannya dengan teknologi frekuensi atau apa itu ya. Belum ada buktinya kalau mau dikatakan seperti itu. Jadi tetap kalau saya percaya itu proses alami, proses geologi,” kata Agung dalam diskusi di UGM, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (9/9).

Ia menilai, kemunculan aktivitas pada sejumlah gunung api dalam waktu yang hampir bersamaan juga masih sangat mungkin dijelaskan secara ilmiah. Kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan langsung atau campur tangan manusia.

“Sangat mungkin terjadi, jadi tidak ada campur tangan manusia,” tegasnya.

Enam Gunung Api Aktif dalam Periode Berdekatan

Agung merujuk pada fenomena aktivitas enam gunung api yang terjadi hampir bersamaan. Gunung-gunung tersebut adalah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.

Menurut Agung, aktivitas pada gunung-gunung tersebut merupakan proses alam yang berlangsung secara independen. Setiap gunung memiliki sistem atau dapur magma masing-masing, sehingga erupsi di satu gunung tidak otomatis memicu erupsi di gunung lainnya.

“Sangat bisa erupsi dalam waktu berdekatan karena mereka punya sistem sendiri-sendiri. Jadi bukan artinya gunung sini memengaruhi yang lain. Memang kebetulan kondisi di masing-masing gunung api sudah memungkinkan untuk terjadi erupsi,” ungkapnya.

Selain itu, jarak antargunung yang sangat berjauhan menjadi alasan lain mengapa satu letusan tidak dapat dianggap “menular” ke gunung api lainnya. Gunung-gunung tersebut tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa, Selat Sunda, Nusa Tenggara, hingga Maluku.

Kesamaan Waktu Erupsi Berkaitan dengan Siklus Aktivitas

Dosen Fakultas Geografi UGM, Indranova Suhendro, menjelaskan bahwa setiap gunung api memiliki karakteristik dan siklus aktivitas yang berbeda. Karena itu, kemunculan aktivitas secara bersamaan lebih tepat dipahami sebagai pertemuan waktu dari siklus masing-masing gunung.

Beberapa gunung api, seperti Gunung Semeru dan Gunung Anak Krakatau, diketahui memiliki frekuensi erupsi yang lebih tinggi. Sementara itu, gunung api lainnya dapat mengalami periode istirahat yang lebih panjang sebelum kembali menunjukkan aktivitas.

Ketika siklus aktivitas tersebut beririsan dalam satu periode, beberapa gunung api dapat terlihat aktif secara bersamaan. Indranova menyebut kondisi itu lebih berkaitan dengan persoalan waktu atau timing, bukan karena adanya hubungan langsung antarsistem magma.

Kesamaan jalur subduksi di Indonesia juga tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh gunung api memiliki sistem magma yang saling terhubung. Setiap gunung tetap mempunyai sistem lokal masing-masing. Dengan demikian, erupsi pada satu gunung tidak secara otomatis menyebabkan gunung lain mengalami erupsi.

Mekanisme Erupsi Setiap Gunung Berbeda

Indranova menambahkan, perbedaan sistem lokal pada setiap gunung tercermin dari mekanisme erupsinya. Pada Gunung Sinabung, Gunung Ibu, dan Gunung Semeru, salah satu mekanisme yang dapat terjadi adalah panas dari magma di bawah gunung memanaskan air yang tersimpan di dalam tubuh gunung.

Pemanasan tersebut dapat meningkatkan tekanan dan memicu erupsi freatik. Mekanisme ini tidak selalu disertai tanda berupa peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik.

Sementara itu, erupsi magmatik di Gunung Anak Krakatau berkaitan dengan magma yang memiliki kandungan gas tinggi. Indranova mengibaratkan mekanisme tersebut seperti minuman bersoda. Sifat eksplosifnya muncul akibat pembentukan gas secara masif yang dipicu oleh proses dekompresi intens.

Gempa Flores Diduga Berpengaruh pada Dua Gunung Api

Meski sebagian besar aktivitas erupsi berlangsung melalui proses internal masing-masing gunung, Indranova menyebut faktor eksternal dapat berperan dalam kondisi tertentu. Ia mencontohkan peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik di Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok setelah gempa Flores.

Peningkatan aktivitas tersebut kemudian diikuti oleh aktivitas erupsi. Indranova mengaitkan kemungkinan itu dengan pengaruh guncangan gempa terhadap gas yang terlarut di dalam magma. Namun, ia menegaskan bahwa mekanisme tersebut belum dapat dipastikan berlaku pada seluruh gunung api.

Menurutnya, peningkatan drastis gejala aktivitas kegempaan vulkanik di Gunung Lewotolok dan Gunung Lewotobi Laki-laki setelah gempa Flores menjadi penanda kuat adanya pengaruh aktivitas kegempaan tersebut terhadap kedua gunung api.

Kesimpulan

Erupsi enam gunung api di Indonesia dalam waktu yang berdekatan dinilai masih dapat dijelaskan melalui proses geologi dan siklus aktivitas masing-masing gunung. Pakar UGM menegaskan tidak ada bukti bahwa fenomena tersebut disebabkan oleh teknologi frekuensi, rekayasa manusia, atau narasi konspirasi lainnya.

Setiap gunung memiliki sistem magma dan mekanisme erupsi yang berbeda. Jarak antargunung yang berjauhan juga membuat kemungkinan satu gunung memicu gunung lainnya menjadi sangat kecil. Meski demikian, faktor eksternal seperti gempa dapat berpengaruh pada kondisi tertentu, sebagaimana terlihat pada aktivitas Gunung Lewotolok dan Gunung Lewotobi Laki-laki setelah gempa Flores. Ke depan, pemahaman terhadap karakteristik dan siklus setiap gunung api tetap menjadi bagian penting dalam menjelaskan aktivitas vulkanik di Indonesia.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment