AS dan Korea Selatan Persingkat Latihan Militer UFS, Peluang Dialog dengan Korea Utara Terbuka

Amerika Serikat dan Korea Selatan sepakat mempersingkat latihan militer tahunan Ulchi Freedom Shield (UFS). Latihan gabungan yang semula dijadwalkan berlangsung hingga 27 Agustus kini akan berakhir pada 21 Agustus. Keputusan tersebut diambil setelah Presiden AS Donald Trump mengkritik pelaksanaan latihan dan meminta Pentagon mengurangi skalanya.

Perubahan jadwal ini menjadi perhatian karena UFS merupakan latihan penting bagi pasukan AS dan Korea Selatan dalam menghadapi kemungkinan serangan dari Korea Utara. Di sisi lain, pengurangan skala latihan dinilai dapat membuka peluang baru bagi Washington dan Pyongyang untuk kembali berkomunikasi.

Latihan UFS Berakhir Lebih Cepat

Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan periode latihan UFS disesuaikan sehingga hanya berlangsung pada 17 hingga 21 Agustus. Menurutnya, keputusan tersebut dibuat atas saran dari pihak Amerika Serikat.

Trump sebelumnya menyebut latihan militer gabungan itu sebagai kegiatan yang “tidak pantas dan bermusuhan”. Ia juga meminta Pentagon mengurangi skala latihan tersebut. Kritik itu disampaikan Trump melalui platform Truth Social.

Meski mengalami pengurangan, Pentagon memastikan UFS tetap mempertahankan kesiapan militer yang penting. Namun, skala latihan disebut berkurang secara signifikan dibandingkan rencana awal.

Fase Serangan Balasan Dibatalkan

UFS pada awalnya dirancang dalam dua fase. Fase pertama berfokus pada pertahanan terhadap potensi ancaman dari Korea Utara dan tetap berlangsung hingga 21 Agustus.

Sementara itu, fase kedua yang dijadwalkan pada 24 hingga 27 Agustus berfokus pada serangan balasan. Fase tersebut kini dibatalkan sebagai bagian dari keputusan untuk mempersingkat latihan.

Seorang pejabat militer Korea Selatan mengatakan kepada AFP bahwa Seoul memandang keputusan tersebut sebagai sesuatu yang “tidak biasa”. Kendati demikian, latihan tetap dilaksanakan dengan mempertahankan aspek kesiapan pertahanan yang dianggap penting oleh kedua negara.

Korea Utara Tetap Mengecam Latihan Gabungan

Korea Utara telah lama menentang latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan. Pyongyang menganggap latihan tersebut sebagai gladi bersih untuk melakukan invasi ke wilayahnya.

Melalui Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), pemerintah Korea Utara menyebut UFS sebagai “ancaman paling langsung dan terbuka” terhadap Korea Utara serta keamanan regional. Namun, pernyataan tersebut tidak secara langsung menyinggung keputusan Trump untuk mengurangi durasi maupun skala latihan.

Pyongyang juga tidak menyebut upaya Trump untuk membuka kembali komunikasi dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Peneliti senior di Institut Unifikasi Nasional Korea, Hong Min, menilai sikap tersebut kemungkinan dipilih untuk menjaga posisi tawar dalam kemungkinan perundingan dengan Washington.

Menurut Hong, Korea Utara sengaja menyampaikan kritik secara umum. Dengan tidak secara terbuka mengakui langkah Trump, Pyongyang dapat menjadikan isu latihan militer sebagai salah satu materi tawar-menawar dalam pembicaraan mendatang.

Trump Klaim Komunikasi dengan Kim Jong Un Positif

Di tengah keputusan pengurangan latihan UFS, Trump mengatakan hubungannya dengan Kim Jong Un telah membuat situasi di Semenanjung Korea menjadi “jauh lebih aman”. Ia juga mengungkapkan bahwa Kim telah merespons upayanya untuk membuka kembali komunikasi.

Ketika ditanya apakah Kim menjawab permintaannya untuk berbicara, Trump menjawab, “Ya, dia sudah menanggapi.” Trump menyebut komunikasi tersebut “sangat positif”, tetapi tidak menjelaskan isi pembicaraan secara lebih rinci.

Kantor kepresidenan Korea Selatan sebelumnya menegaskan bahwa UFS tidak memiliki niat untuk menyerang Korea Utara ataupun meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea. Pernyataan itu disampaikan untuk menjelaskan tujuan latihan gabungan yang selama ini dikecam Pyongyang.

Peluang Pertemuan AS-Korea Utara

Mantan Presiden Universitas Studi Korea Utara, Yang Moo-jin, mengatakan terdapat spekulasi bahwa Washington dapat berupaya memulai kembali pembicaraan dengan Pyongyang menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November.

Menurut Yang, pertemuan dengan Kim Jong Un dapat memberikan Trump kesempatan untuk mengamankan warisan kebijakan luar negerinya. Wall Street Journal juga melaporkan bahwa Trump telah meminta para pembantunya mengatur pertemuan dengan Kim sesegera mungkin pada musim gugur tahun ini. Laporan tersebut mengutip sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.

Profesor Universitas Ewha, Park Won-gon, menilai pengurangan latihan militer berpotensi membantu membuka jalan bagi dialog AS dan Korea Utara. Ia menyebut penghentian latihan gabungan selama ini menjadi salah satu prasyarat yang diajukan Pyongyang untuk berdialog dengan Washington.

AS Tetap Pertahankan Pasukan di Korea Selatan

Trump dan Kim sebelumnya telah bertemu tiga kali selama masa jabatan pertama Trump di Gedung Putih. Namun, keduanya belum kembali bertemu sejak Trump memasuki masa jabatan keduanya.

Di tengah upaya membuka kembali komunikasi tersebut, Amerika Serikat tetap menempatkan sekitar 28.500 tentara di Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan negara itu. Kehadiran pasukan AS merupakan bagian dari warisan Perang Korea 1950-1953 yang berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Trump juga berulang kali mengkritik aliansi AS dengan Korea Selatan. Sikap tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai komitmen Washington terhadap keamanan Asia Timur dan membuat sejumlah mitra regional waspada.

Kesimpulan

Keputusan AS dan Korea Selatan mempersingkat latihan UFS menunjukkan adanya penyesuaian terhadap kebijakan militer serta diplomasi di Semenanjung Korea. Fase pertahanan tetap dijalankan, sementara fase serangan balasan dibatalkan. Langkah ini dapat meredakan sebagian ketegangan dengan Korea Utara, meskipun Pyongyang masih mempertahankan kritik terhadap latihan gabungan.

Ke depan, pengurangan latihan militer dan klaim Trump mengenai komunikasi positif dengan Kim Jong Un berpotensi menjadi dasar bagi pembukaan kembali dialog. Namun, perkembangan tersebut tetap bergantung pada respons Korea Utara serta kesediaan Washington dan Pyongyang untuk mengubah langkah militer menjadi pembicaraan diplomatik.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment