China Pulihkan Jalan G216 yang Rusak akibat Banjir Bandang di Gyirong

China mempercepat pemulihan Jalan Raya Nasional G216 yang rusak parah akibat banjir bandang dan longsor di wilayah Gyirong, Shigatse, Daerah Otonom Xizang. Dalam hitungan hari, tim penyelamat dikerahkan untuk membersihkan puing-puing, memperbaiki badan jalan, serta membangun jalur sementara menuju Pelabuhan Gyirong.

Hingga pukul 16.00 pada Senin (31/8), petugas telah membersihkan sekitar 1,1 kilometer ruas jalan dari Pelabuhan Gyirong. Pekerjaan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menembus area paling sulit di jalur utama menuju pelabuhan.

Jalan G216 Rusak Parah akibat Banjir dan Longsor

Bencana bermula ketika longsor lumpur besar dari sisi Nepal menghantam kawasan Pelabuhan Gyirong pada Rabu pagi pekan sebelumnya. Peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa dan menyebabkan sejumlah orang masih dilaporkan hilang.

Material longsoran dan aliran banjir bandang merusak sejumlah bagian Jalan Raya Nasional G216. Kerusakan infrastruktur juga disertai terputusnya aliran listrik dan jaringan telekomunikasi. Situasi ini membuat proses pencarian serta penyelamatan menjadi lebih sulit bagi petugas di lapangan.

Untuk mempercepat pembukaan kembali akses, Kementerian Manajemen Darurat China mengerahkan tim penyelamat profesional dari China Anneng Group ke Kabupaten Gyirong. Pada Senin, sebanyak 158 personel dan 28 unit peralatan dikirim ke kawasan inti bencana. Peralatan tersebut mencakup ekskavator dan loader.

Perbaikan Dilakukan di Tengah Medan Ekstrem

Proses pemulihan Jalan G216 menghadapi berbagai kendala teknis. Ketika mendekati kawasan jurang di sekitar pelabuhan, tim harus bekerja di antara tebing curam dengan bebatuan yang tidak stabil dan aliran air berarus deras.

Ruang kerja yang terbatas membuat alat berat tidak dapat dioperasikan secara bersamaan. Selain itu, lumpur lunak di dasar sungai menyebabkan roda dan rantai ekskavator mudah tergelincir. Batu-batu besar yang ditempatkan di dalam aliran air juga kerap terseret oleh arus kuat.

Kondisi tersebut membatasi pergerakan alat berat sekaligus memperlambat proses pemindahan material. Untuk mengatasinya, tim penyelamat menerapkan sistem estafet menggunakan ekskavator. Batu-batu berukuran besar dipindahkan satu per satu, kemudian ditempatkan di sepanjang tepi aliran air guna menahan erosi.

Membangun Kembali Dasar Jalan Secara Bertahap

Setelah susunan batu terbentuk, petugas mengisi bagian belakangnya dengan material dan melakukan pemadatan. Tahapan tersebut dikerjakan secara berulang untuk membentuk kembali dasar jalan yang sebelumnya rusak akibat banjir dan longsor.

Di titik dengan arus paling deras, operator mengarahkan alat berat langsung ke dalam air. Langkah ini dilakukan untuk memperpanjang badan jalan sedikit demi sedikit hingga terbentuk jalur sementara yang dapat mendukung akses menuju kawasan pelabuhan.

Metode tersebut memungkinkan tim tetap bekerja meski menghadapi medan sempit, aliran air kuat, serta ancaman material longsor. Pembersihan hingga sekitar 1,1 kilometer dari Pelabuhan Gyirong menunjukkan kemajuan dalam upaya membuka kembali akses utama di wilayah terdampak.

Teknologi Laser dan AI Pantau Tebing

Selain berfokus pada perbaikan jalan, tim penyelamat juga memperkuat sistem keselamatan untuk mengantisipasi bahaya geologi sekunder. Petugas terus mengawasi kondisi tebing di sekitar lokasi selama pekerjaan berlangsung.

Menurut laporan yang dikutip dari China Daily, pemantauan dilakukan menggunakan perangkat berbasis laser dan kecerdasan buatan atau AI. Teknologi tersebut digunakan untuk mendeteksi perubahan bentuk tebing, jatuhan batu, serta tanda-tanda lain yang menunjukkan ketidakstabilan lereng.

Petugas juga menyiapkan jalur evakuasi darurat di sekitar area kerja. Apabila sistem pemantauan menunjukkan perubahan kondisi lereng yang tidak normal, tim akan mengeluarkan peringatan dan segera mengevakuasi para pekerja dari lokasi berbahaya.

Kesimpulan

China terus mempercepat pemulihan Jalan G216 setelah banjir bandang dan longsor merusak akses menuju Pelabuhan Gyirong. Dengan mengerahkan personel, alat berat, serta teknologi pemantauan, tim penyelamat berupaya membangun kembali ruas jalan secara bertahap di tengah medan yang sulit.

Pembersihan sepanjang sekitar 1,1 kilometer menjadi perkembangan penting dalam proses pembukaan kembali jalur tersebut. Namun, pekerjaan masih memerlukan kehati-hatian karena ancaman tebing tidak stabil dan arus air deras. Ke depan, keselamatan petugas serta pemantauan kondisi geologi akan menjadi bagian penting selama proses pemulihan jalan berlanjut.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment