Dokter Yahudi AS Ungkap Kengerian Gaza dalam Film Dokumenter American Doctor

Jalur Gaza kembali menjadi sorotan melalui film dokumenter berjudul American Doctor. Film tersebut merekam perjalanan tiga dokter asal Amerika Serikat yang datang ke Gaza untuk membantu korban perang sekaligus menyaksikan secara langsung kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.

Salah satu dokter yang ditampilkan dalam film itu adalah Mark Perlmutter, seorang dokter bedah ortopedi keturunan Yahudi. Ia mengaku telah menangani pasien akibat bencana alam dan konflik di sekitar 30 negara, termasuk Amerika Serikat. Namun, menurut Perlmutter, tidak ada satu pun pengalaman sebelumnya yang dapat dibandingkan dengan situasi yang ia temui di Jalur Gaza.

Pengalaman Perlmutter di Gaza Disebut Paling Mengerikan

Kepada AFP, Perlmutter mengatakan bahwa pekan pertamanya di Gaza sudah terasa lebih buruk daripada gabungan seluruh pengalaman kemanusiaan yang pernah ia jalani. Ia membandingkan kondisi tersebut dengan penanganan korban serangan 11 September di New York, Badai Katrina di Louisiana, serta gempa bumi Haiti pada 2010.

Minggu pertama kami di Gaza saja sudah lebih buruk daripada gabungan seluruh pengalaman saya sebelumnya, ujar Perlmutter, sebagaimana dikutip AFP.

Kesaksian itu menjadi bagian penting dalam film American Doctor. Dokumenter tersebut sebelumnya tayang perdana di Sundance Film Festival dan dijadwalkan diputar di sejumlah bioskop pilihan di Amerika Serikat mulai Jumat (21/8).

Dokumenter Menyoroti Dampak Serangan terhadap Tenaga Medis

Salah satu bagian paling mengerikan dalam film tersebut menampilkan dampak serangan susulan atau yang disebut sebagai double-tap. Dalam peristiwa itu, rudal dilaporkan menghantam petugas tanggap darurat yang sedang memberikan pertolongan kepada pasien setelah Rumah Sakit Nasser di Khan Younis dibombardir.

Film ini disutradarai Poh Si Teng, yang sebelumnya pernah bekerja sebagai jurnalis visual untuk AFP. Teng mengatakan bahwa ia ingin memperlihatkan situasi nyata di Jalur Gaza kepada masyarakat dunia, khususnya warga Amerika Serikat.

Menurut Teng, masyarakat perlu memahami dampak dari kebijakan dan penggunaan uang pajak Amerika Serikat dalam konflik tersebut. Ia berharap film ini dapat menjadi bagian dari upaya untuk membuka diskusi yang lebih luas mengenai kondisi kemanusiaan di Gaza.

Longsoran kebenaran bermula dari potongan-potongan salju. Saya optimistis kita semua adalah potongan salju dalam bola salju yang kian membesar itu, kata Teng.

Tiga Dokter Soroti Situasi Kemanusiaan di Gaza

Selain Perlmutter, film American Doctor juga menampilkan Thaer Ahmad dan Feroze Sidhwa. Ahmad merupakan dokter spesialis kegawatdaruratan dan seorang Muslim. Sementara itu, Sidhwa adalah putra dari orang tua yang menganut Zoroastrianisme.

Sidhwa menilai masyarakat tidak harus memiliki gelar doktor atau memahami seluruh sejarah konflik Arab-Israel untuk dapat membicarakan situasi Gaza secara masuk akal. Baginya, perhatian utama seharusnya diarahkan pada dampak kekerasan terhadap warga sipil dan tenaga medis.

Pertanyaannya bukan seberapa paham Anda mengenai sejarah Arab-Israel, tetapi: apakah Anda mendukung pembunuhan anak-anak atau tidak? Apakah Anda mendukung penyiksaan terhadap tenaga medis atau tidak? Apakah Anda mendukung pengeboman rumah sakit atau tidak? ujar Sidhwa kepada AFP.

Perdebatan mengenai Serangan terhadap Rumah Sakit

Menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola kelompok Hamas, serangan Israel di Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 73 ribu orang. Israel mengakui pernah menyerang fasilitas medis, tetapi menyatakan serangan tersebut ditujukan kepada para pejuang Hamas yang diklaim berada di terowongan bawah rumah sakit.

Dalam film tersebut, ketiga dokter menyampaikan bahwa mereka tidak menemukan terowongan seperti yang diklaim berada di bawah rumah sakit tempat mereka bertugas. Pernyataan itu menjadi salah satu bagian dari perdebatan yang diangkat dalam dokumenter tersebut.

Dokter Desak Publik Melihat Krisis Secara Manusiawi

Ketiga dokter juga mengungkapkan rasa frustrasi karena harus terus meyakinkan orang lain mengenai tingkat kedaruratan kondisi di Gaza. Ahmad mengatakan bahwa kabar tentang anak-anak yang kelaparan, ibu yang kesulitan memberi makan anak, serta remaja yang tewas akibat serangan semestinya sudah cukup untuk mendorong seruan penghentian kekerasan.

Jika saya katakan ada anak-anak yang kelaparan, atau ada ibu-ibu yang kesulitan memberi makan anak mereka, atau ada remaja yang tewas akibat bom-bom dahsyat ini, respons Anda seharusnya adalah: kita harus menghentikan ini, kata Ahmad.

Ia juga menilai penderitaan korban tidak semestinya dibenarkan atau dipertanyakan berdasarkan agama, tempat lahir, latar belakang, maupun tindakan mereka. Menurut Ahmad, fokus utama seharusnya berada pada keselamatan warga sipil dan perlindungan tenaga medis.

Harapan Mengubah Narasi tentang Gaza

Teng mengaku menghadapi penolakan ketika berusaha mendapatkan pendanaan untuk proyek film tersebut. Sejumlah donatur disebut enggan membiayai karya yang menampilkan kerusakan akibat amunisi Israel yang dibiayai Amerika Serikat.

Meski demikian, ia berharap American Doctor dapat membuka mata publik dan mendorong perubahan narasi mengenai situasi di Jalur Gaza. Harapan serupa disampaikan Perlmutter. Melalui kesaksian para dokter, film ini berupaya menghadirkan gambaran langsung mengenai dampak perang terhadap pasien, warga sipil, rumah sakit, dan petugas kemanusiaan.

Kesimpulan

Film American Doctor menyoroti kesaksian tiga dokter Amerika Serikat yang menyaksikan kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza. Mark Perlmutter menyebut pengalaman tersebut sebagai situasi paling mengerikan sepanjang kariernya, sementara Thaer Ahmad dan Feroze Sidhwa menekankan pentingnya melihat penderitaan korban tanpa membedakannya berdasarkan identitas.

Dengan penayangan film ini di Amerika Serikat, para pembuatnya berharap semakin banyak masyarakat memahami dampak konflik terhadap warga sipil dan tenaga medis. Ke depan, dokumenter tersebut diharapkan dapat mendorong percakapan publik yang lebih luas mengenai perlindungan kemanusiaan dan situasi di Gaza.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment