Donald Trump Akui Kontak Rahasia AS dengan IRGC untuk Buka Jalur Negosiasi Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintah AS melakukan komunikasi langsung secara rahasia dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC. Langkah tersebut ditempuh untuk membuka jalur komunikasi tambahan dalam upaya mendorong negosiasi antara Washington dan Teheran.

Pengakuan itu disampaikan Trump dalam wawancara eksklusif dengan Fox News. Ia menyebut para pejabat Amerika telah berkomunikasi dengan sejumlah pejabat IRGC untuk membahas kemungkinan kesepakatan. Saluran komunikasi rahasia tersebut menjadi perhatian karena dilakukan dengan melewati jalur negosiasi resmi yang melibatkan sejumlah pejabat pemerintahan Iran.

Trump Konfirmasi Komunikasi Langsung dengan IRGC

Dalam wawancara tersebut, Trump mengakui bahwa Washington berupaya berbicara langsung dengan pihak yang dinilai memiliki pengaruh besar terhadap arah kebijakan Iran. Ia menggambarkan para pemimpin Iran sebagai pihak yang tangguh dalam bernegosiasi, tetapi berada dalam kondisi sulit.

“Mereka pemain poker yang hebat, tetapi mereka sekarat,” ujar Trump ketika menceritakan komunikasi antara pejabat AS dan IRGC.

Pernyataan Trump sekaligus mengonfirmasi laporan Axios yang sebelumnya mengungkap adanya upaya pejabat pemerintahan Trump menghubungi pemimpin IRGC secara langsung. Kontak tersebut dilakukan karena pemerintah AS disebut tidak sepenuhnya yakin siapa yang memegang kendali utama atas pengambilan keputusan di Iran.

Nechirvan Barzani Menjadi Penghubung

Jalur komunikasi rahasia itu disebut berlangsung melalui Presiden Wilayah Kurdistan di Irak, Nechirvan Barzani. Ia dinilai memiliki hubungan kepercayaan dengan Amerika Serikat maupun Iran sehingga dipandang sebagai perantara yang dapat membantu menyampaikan pesan di antara kedua pihak.

Menurut informasi dari tiga pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, keputusan menggunakan jalur tersebut menunjukkan kompleksitas negosiasi Washington dengan Teheran. Amerika Serikat menghadapi kesulitan untuk memastikan pihak mana yang benar-benar memiliki kewenangan dalam menentukan sikap Iran.

Situasi tersebut semakin rumit setelah muncul ketidakpastian mengenai kondisi Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Keadaan itu mendorong penilaian di Washington bahwa IRGC kemungkinan memegang peran penting dalam mengendalikan kekuasaan di Iran.

Upaya Tulsi Gabbard Menghubungi Komandan IRGC

Komunikasi rahasia tersebut dilaporkan berlangsung pada Mei ketika Tulsi Gabbard masih menjabat sebagai Direktur Intelijen Nasional AS. Gabbard kemudian menghubungi Barzani dan memintanya berbicara dengan Komandan IRGC, Jenderal Ahmad Vahidi.

Kepada Barzani, Gabbard menyampaikan bahwa Gedung Putih ingin mendapatkan kepastian secara langsung mengenai sikap IRGC. Washington ingin mengetahui apakah Vahidi dan pemimpin IRGC lainnya menyetujui hasil pembicaraan yang sebelumnya telah dinegosiasikan oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf serta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Selain itu, Gedung Putih juga ingin mengetahui apakah IRGC mempunyai gagasan, tuntutan, atau persyaratan lain yang belum disampaikan melalui negosiator resmi Iran.

IRGC Disebut Satu Suara dengan Negosiator Iran

Berdasarkan laporan Axios, Barzani menerima permintaan tersebut dan berupaya menghubungi Vahidi. Setelah berhasil berbicara secara langsung, Vahidi disebut memberikan jawaban kepada Gabbard dan Gedung Putih.

Dalam komunikasi itu, Vahidi menegaskan bahwa IRGC memiliki sikap yang sejalan dengan para negosiator resmi Iran. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa, setidaknya dalam konteks pembahasan yang dimaksud, tidak terdapat perbedaan terbuka antara IRGC dan pihak-pihak Iran yang menjalankan negosiasi.

Rencana Pertemuan Rahasia di Erbil Gagal Terwujud

Setelah komunikasi awal tersebut, pemerintahan Trump dilaporkan meminta Barzani menjadi tuan rumah pertemuan rahasia antara negosiator AS dan Iran. Pertemuan itu rencananya digelar di Erbil, ibu kota Wilayah Kurdistan Irak.

Pihak Iran tidak langsung menutup kemungkinan untuk menghadiri pertemuan tersebut. Namun, mereka menyampaikan kekhawatiran terkait aspek keamanan. Iran menilai keberadaan jaringan intelijen Israel di Irak dapat meningkatkan risiko bagi para peserta perundingan.

Karena persoalan keamanan tersebut, pertemuan rahasia yang direncanakan di Erbil akhirnya tidak pernah terlaksana.

Kesimpulan

Pengakuan Donald Trump memperlihatkan bahwa Amerika Serikat berusaha menggunakan berbagai jalur untuk berkomunikasi dengan Iran, termasuk melalui kontak langsung dan perantara regional. Keterlibatan IRGC menjadi penting karena Washington menilai organisasi tersebut memiliki pengaruh besar terhadap arah kekuasaan dan kebijakan Iran.

Meski komunikasi rahasia telah dilakukan dan IRGC disebut menyatakan keselarasan dengan negosiator Iran, rencana pertemuan langsung di Erbil belum berhasil diwujudkan. Ke depan, keberlanjutan negosiasi AS-Iran akan sangat bergantung pada kemampuan kedua pihak membangun kepercayaan, memastikan keamanan komunikasi, serta menentukan saluran resmi yang dapat diterima oleh semua pihak.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment