Malone Lam Mengaku Bersalah dalam Kasus Pencurian Kripto US$260 Juta di AS
Malone Lam, warga negara Singapura berusia 22 tahun, mengaku bersalah atas perannya dalam jaringan pencurian mata uang kripto yang merugikan para korban hingga lebih dari US$260 juta atau sekitar Rp4,2 triliun. Pengakuan tersebut disampaikan dalam persidangan di Washington, DC, Amerika Serikat, pada Selasa (8/9).
Lam disebut sebagai pengatur sekaligus pemimpin jaringan kejahatan yang menyasar pemilik aset kripto dalam jumlah besar. Bersama sejumlah kaki tangannya, ia menjalankan aksi menggunakan metode “rekayasa sosial” untuk mendapatkan akses ke dompet digital para korban.
Lam Mengaku Memimpin Jaringan Pencurian Kripto
Dalam sidang yang berlangsung hampir dua setengah jam, jaksa Christopher Howland menyatakan bahwa Lam “memainkan banyak peran” dalam jaringan tersebut. Pria yang diketahui putus sekolah itu mengakui keterlibatannya dalam konspirasi kejahatan terorganisir, termasuk penipuan melalui transfer dana elektronik dan pencucian uang.
Lam hadir di ruang sidang dengan mengenakan seragam penjara berwarna hijau zaitun dan kaus putih. Ia beberapa kali berbicara untuk memastikan bahwa dirinya memahami serta menyetujui keterangan yang disampaikan jaksa.
Ketika hakim meminta jawaban terkait pengakuannya, Lam sempat menarik napas panjang sebelum menyatakan bersalah.
“Saya mengaku bersalah, Yang Mulia,” kata Lam, seperti dilaporkan Channel News Asia.
Perkara ini disebut sebagai kasus terkait bitcoin pertama yang ditangani Departemen Kehakiman Amerika Serikat dengan menggunakan Undang-Undang Organisasi yang Dipengaruhi dan Korup oleh Penjahat atau RICO.
Modus Rekayasa Sosial untuk Menguras Dompet Kripto
Dalam menjalankan aksinya, Lam dan para kaki tangannya menyamar sebagai karyawan dari perusahaan yang dipercaya masyarakat, termasuk Google. Mereka kemudian membujuk korban agar menyerahkan informasi penting, seperti kata sandi, frasa kunci, dan kode autentikasi.
Setelah memperoleh informasi tersebut, kelompok itu menggunakannya untuk mengakses dompet mata uang kripto milik korban. Aset digital yang tersimpan di dalam dompet kemudian dikuras dan dipindahkan oleh para pelaku.
Pencurian 4.100 Bitcoin
Salah satu aksi terbesar terjadi pada Agustus 2024. Saat itu, Lam dan kelompoknya berhasil memperoleh lebih dari 4.100 bitcoin milik seorang korban di Washington, DC. Nilai aset tersebut mencapai sekitar US$230 juta atau lebih dari Rp3,7 triliun pada saat pencurian berlangsung.
Lam ditangkap pada September 2024, atau beberapa pekan setelah pencurian tersebut terjadi. Setelah mendapatkan aset kripto korban, kelompok itu juga berupaya menyamarkan aliran dana hasil kejahatan.
Hasil Kejahatan Digunakan untuk Gaya Hidup Mewah
Para pelaku disebut mencuci mata uang kripto hasil curian dan mengubahnya menjadi uang tunai maupun kartu pembayaran. Kehidupan mewah Lam kemudian menarik perhatian aparat penegak hukum.
Lam disebut menghabiskan jutaan dolar untuk membeli mobil mewah, jam tangan, dan pakaian. Ia juga menyewa jet pribadi, menggunakan jasa pengawal keamanan, serta menyewa sejumlah properti di Miami, Los Angeles, dan Hamptons.
Beberapa kendaraan yang dibelinya bahkan memiliki nilai hingga US$3,8 juta. Selain itu, Lam menghabiskan ratusan ribu dolar untuk hiburan malam. Dalam salah satu kesempatan, ia dilaporkan mengeluarkan sekitar US$569 ribu di sebuah klub malam di Los Angeles.
Dalam persidangan, Lam juga mengungkapkan bahwa dirinya rutin menemui terapis dan mengonsumsi obat untuk menangani depresi, kecemasan, serta gangguan tidur.
Terancam Hukuman 20 Tahun Penjara
Kasus tersebut melibatkan total 18 terdakwa. Lam menjadi terdakwa ke-11 yang menyatakan bersalah dalam perkara ini.
Atas perannya, Lam menghadapi ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Hukuman tersebut berkaitan dengan konspirasi kejahatan terorganisir yang mencakup penipuan melalui transfer dana elektronik dan pencucian uang.
Selain ancaman hukuman penjara, Lam dan para kaki tangannya juga diperintahkan mengembalikan lebih dari US$245 juta dana hasil pencurian kepada para korban.
Sidang Berikutnya pada 8 Desember
Lam dijadwalkan kembali menjalani persidangan pada 8 Desember. Dalam sidang tersebut, hakim diperkirakan akan menetapkan jadwal pembacaan vonis.
Pengakuan bersalah Lam menjadi perkembangan penting dalam penanganan kasus pencurian kripto berskala besar di Amerika Serikat. Namun, proses hukum terhadap terdakwa lain dan upaya pengembalian dana kepada para korban masih terus menjadi bagian penting dari perkara tersebut.
Kesimpulan: Malone Lam mengaku bersalah karena memimpin jaringan pencurian mata uang kripto yang menggunakan rekayasa sosial dan menyebabkan kerugian lebih dari US$260 juta. Dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara serta kewajiban mengembalikan lebih dari US$245 juta, nasib hukum Lam akan ditentukan dalam proses persidangan lanjutan pada Desember.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment