Menlu Korsel: Pengurangan Latihan Militer AS Sinyal Tekanan untuk Seoul

Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun menilai keputusan Amerika Serikat untuk mengurangi latihan militer bersama dengan Korea Selatan merupakan bentuk tekanan terhadap Seoul. Menurutnya, langkah tersebut berkaitan dengan sejumlah persoalan yang masih belum terselesaikan antara kedua negara, termasuk investasi Korea Selatan di Amerika Serikat.

Cho juga menduga Washington ingin mendorong Seoul agar mendukung upaya Amerika Serikat dalam menghadapi perang melawan Iran. Selain itu, keputusan pengurangan latihan militer tersebut dinilai membawa pesan lain, yakni kepada Korea Utara, di tengah keinginan Presiden AS Donald Trump untuk kembali membuka dialog dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

AS Dinilai Menekan Korea Selatan

Cho mengatakan pesan yang disampaikan Trump mencakup tekanan terhadap beberapa masalah yang masih tertunda antara pemerintah Amerika Serikat dan Korea Selatan. Ia juga menyebut adanya keinginan Washington untuk memecahkan kebuntuan dalam perang Iran.

“Saya pikir pesan Presiden Trump mencakup tekanan terkait beberapa masalah yang masih tertunda mengenai pemerintah Korea Selatan, serta pesan kepada Korea Utara dan keinginan Amerika Serikat untuk memecahkan kebuntuan dalam perang Iran,” kata Cho.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keputusan untuk mengurangi latihan militer tidak hanya berkaitan dengan aspek pertahanan. Seoul melihat langkah itu sebagai bagian dari pesan politik yang lebih luas, terutama dalam hubungan bilateral dengan Washington.

Komitmen Investasi US$350 Miliar

Rencana Investasi Belum Dirinci

Salah satu isu yang berpotensi memicu gesekan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat adalah komitmen investasi Seoul senilai US$350 miliar di AS. Komitmen tersebut tercantum dalam kesepakatan perdagangan yang ditandatangani kedua negara pada tahun lalu.

Namun, hingga kini Korea Selatan belum mengumumkan rincian rencana investasi tersebut. Cho mengatakan, Amerika Serikat telah mengirimkan proposal kepada Seoul yang berisi sejumlah proyek untuk dipertimbangkan.

Meski demikian, pemerintah Korea Selatan belum dapat mempercepat proses pelaksanaan rencana itu. Seoul masih harus menilai kelayakan komersial setiap proyek serta menjalankan prosedur hukum yang berlaku.

“Kami tidak dapat bergerak lebih cepat dalam rencana investasi tersebut karena kami harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti kelayakan komersial dan menjalankan prosedur hukum,” ujar Cho seperti dikutip Reuters.

Cho juga menyebut adanya masalah tak terduga lainnya yang masih menjadi bagian dari persoalan antara kedua negara. Namun, ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai masalah tersebut.

Latihan Militer AS-Korsel Dipersingkat

Pernyataan Cho disampaikan setelah Korea Selatan dan Amerika Serikat mengumumkan perubahan terhadap latihan militer tahunan mereka pada Rabu, 19 Agustus. Latihan tersebut akan dipersingkat menjadi lima hari, dari sebelumnya berlangsung selama 11 hari.

Selain mengurangi durasi, kedua negara juga sepakat mengurangi sebagian latihan lapangan. Kebijakan itu diambil setelah Trump memerintahkan pengurangan signifikan terhadap keterlibatan militer Amerika Serikat di Korea Selatan.

Amerika Serikat selama ini merupakan sekutu tradisional Korea Selatan. Karena itu, perubahan dalam skala dan durasi latihan militer menjadi perhatian, terutama karena latihan bersama tersebut selama ini berkaitan dengan kesiapan pertahanan kedua negara.

Peluang Dialog Trump dan Kim Jong Un

Menteri Unifikasi Korea Selatan Chung Dong-young, yang hadir dalam sidang yang sama, menyampaikan pandangan berbeda mengenai latar belakang langkah tersebut. Ia meyakini Trump sedang bergerak lebih dekat menuju kemungkinan mengatur pertemuan baru dengan Kim Jong Un.

Menurut Chung, Trump ingin mengurangi latihan militer yang selama ini membuat Pyongyang marah. Pengurangan latihan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan kondisi yang lebih memungkinkan bagi pembukaan kembali komunikasi antara Washington dan Pyongyang.

Trump sebelumnya memang menyatakan niat untuk kembali berdialog dengan Kim Jong Un. Pertemuan terakhir kedua pemimpin berlangsung di Vietnam pada 2019, tetapi tidak menghasilkan perkembangan signifikan, terutama terkait isu denuklirisasi Korea Utara.

Kesimpulan

Korea Selatan memandang pengurangan latihan militer bersama dengan Amerika Serikat sebagai sinyal tekanan dari Washington. Tekanan itu diduga berkaitan dengan dukungan Seoul terhadap upaya AS dalam perang melawan Iran, penyelesaian komitmen investasi senilai US$350 miliar, serta sejumlah persoalan bilateral lainnya.

Di sisi lain, langkah tersebut juga dinilai dapat membuka ruang bagi upaya Trump untuk kembali berdialog dengan Kim Jong Un. Ke depan, hubungan AS-Korsel akan dipengaruhi oleh perkembangan rencana investasi, penyelesaian masalah yang masih tertunda, serta kemungkinan dimulainya kembali komunikasi antara Amerika Serikat dan Korea Utara.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment