Netanyahu Kutuk Serangan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina di Qusra
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam serangan yang dilakukan sejumlah pemukim Israel terhadap warga Palestina di Desa Qusra, Tepi Barat, pada Sabtu (29/8). Insiden tersebut terjadi setelah ketegangan di wilayah itu berlangsung selama hampir tiga minggu dan memicu perhatian terhadap meningkatnya kekerasan di kawasan pendudukan tersebut.
Warga Qusra menyebut puluhan pemukim menyerang desa mereka dengan melempari warga Palestina menggunakan batu. Para pemukim juga disebut membarikade diri di dalam sebuah rumah yang saat itu masih ditempati warga Palestina. Militer Israel kemudian mengerahkan pasukan tentara dan polisi perbatasan ke lokasi setelah menerima laporan mengenai kerusuhan.
Ketegangan Berlangsung Selama Hampir Tiga Minggu
Ketegangan di sekitar Qusra telah berlangsung sejak awal Agustus. Saat itu, kelompok pemukim Israel memblokir pasokan yang menuju rumah-rumah warga Palestina di pinggiran desa dekat Nablus. Akibat pemblokiran tersebut, sejumlah warga Palestina dilaporkan terjebak di dalam rumah mereka.
Tindakan pemblokiran itu mendapat kritik keras dari Duta Besar Amerika Serikat. Situasi kemudian kembali memanas ketika puluhan pemukim mendatangi Desa Qusra pada Sabtu (29/8) dan terlibat dalam aksi kekerasan terhadap warga Palestina.
Kronologi Serangan di Desa Qusra
Seorang warga Qusra, Yussef Abdul Kareem Hassan, mengatakan beberapa penduduk sedang mengerjakan pekerjaan rumah ketika sekelompok pemukim datang ke lokasi. Menurut Hassan, para pemukim tersebut kemudian meminta bantuan dan kembali bersama puluhan orang lainnya.
Kelompok itu selanjutnya mengepung warga Palestina yang berada di dalam sebuah rumah. Mereka melempari rumah dan warga dengan batu, sementara para pemukim membarikade diri di dalam bangunan tersebut.
Di desa Jalud, yang terletak di dekat Qusra, pemukim Israel juga dilaporkan menyerang sebuah keluarga Palestina. Kru media asing yang sedang mendampingi keluarga tersebut turut menjadi sasaran serangan. Laporan mengenai insiden di Jalud itu disampaikan oleh kantor berita resmi Palestina, Wafa.
Netanyahu Sebut Pelaku sebagai Perusuh
Netanyahu mengutuk keras serangkaian serangan yang terjadi di Qusra dan Jalud. Dalam pernyataannya, ia menyebut tindakan tersebut sebagai kekerasan kriminal yang dilakukan oleh segelintir perusuh yang melanggar hukum.
Menurut Netanyahu, aksi kekerasan itu tidak hanya menimbulkan ketidakadilan bagi komunitas Yahudi yang taat hukum, tetapi juga mengganggu tugas militer Israel atau IDF. Ia menilai serangan tersebut dapat merusak reputasi Israel di dunia.
“Saya mengutuk keras tindakan kekerasan kriminal yang dilakukan di desa Qusra dan Jalud oleh segelintir perusuh yang melanggar hukum, menyebabkan ketidakadilan besar bagi komunitas Yahudi yang taat hukum, mengganggu IDF dalam menjalankan misinya, dan merusak reputasi Israel di dunia,” kata Netanyahu.
Militer Israel Kerahkan Pasukan dan Buka Penyelidikan
Militer Israel mengatakan pasukan tentara dan polisi perbatasan dikerahkan ke Qusra setelah menerima laporan mengenai kerusuhan. Setibanya di lokasi, pasukan keamanan menemukan puluhan pemukim yang membarikade diri di dalam rumah warga Palestina, sementara warga Palestina masih berada di dalam rumah tersebut.
Militer Israel juga menyatakan telah mengetahui adanya laporan mengenai warga Palestina yang terluka dalam insiden itu. Pasukan kemudian berupaya mengeluarkan para pemukim dari rumah dan memisahkan kelompok warga Palestina dari kelompok pemukim.
Selain itu, aparat menyita sejumlah kendaraan yang diduga digunakan untuk menuju lokasi kejadian. Polisi Israel membuka penyelidikan terhadap insiden tersebut, sedangkan kendaraan yang disita akan digunakan sebagai barang bukti.
Militer Israel menyatakan bahwa pasukan keamanan mengutuk segala bentuk kekerasan. Pernyataan tersebut disampaikan ketika perhatian publik kembali tertuju pada serangan pemukim terhadap warga Palestina di Tepi Barat.
Kekerasan Pemukim di Tepi Barat Terus Disorot
Kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat telah berlangsung selama bertahun-tahun. Dalam beberapa bulan terakhir, serangan serupa dilaporkan mengalami peningkatan.
Lebih dari 500.000 warga Israel tinggal di permukiman di wilayah Palestina. Permukiman tersebut dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional. Pada saat yang sama, sekitar tiga juta warga Palestina juga tinggal di Tepi Barat, wilayah yang diduduki Israel sejak 1967.
Berdasarkan perhitungan AFP yang mengacu pada data Kementerian Kesehatan Palestina, pasukan Israel atau pemukim telah menewaskan 1.103 warga Palestina di Tepi Barat sejak perang di Gaza dimulai pada Oktober 2023. Jumlah tersebut mencakup warga sipil dan anggota kelompok bersenjata.
Data Israel menyebut 48 warga Israel, termasuk warga sipil dan personel keamanan, tewas dalam serangan Palestina atau selama operasi militer Israel pada periode yang sama.
Kesimpulan
Serangan di Qusra dan Jalud memperlihatkan kembali tingginya ketegangan antara warga Palestina dan pemukim Israel di Tepi Barat. Kecaman Netanyahu, pengerahan pasukan, serta penyelidikan polisi Israel menjadi langkah awal untuk menangani insiden tersebut. Namun, perkembangan situasi selanjutnya akan sangat bergantung pada hasil penyelidikan dan kemampuan aparat mencegah kekerasan serupa agar tidak kembali terjadi.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment