Program PLTS 100 GWp Berpotensi Ciptakan 5,5 Juta Lapangan Kerja dan Hemat Rp73,9 Triliun
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan besarnya potensi program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp). Program tersebut diproyeksikan tidak hanya memperkuat pemanfaatan energi bersih di Indonesia, tetapi juga memberikan dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan penghematan anggaran negara.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyebut program PLTS 100 GWp berpotensi menciptakan hingga 5,5 juta lapangan kerja. Selain itu, program ini diperkirakan dapat menghemat anggaran negara hingga Rp73,9 triliun serta menurunkan emisi karbon sebesar 140 juta ton.
PLTS 100 GWp Berikan Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Eniya menyampaikan bahwa program PLTS berkapasitas 100 GWp telah diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dalam skala besar tersebut memiliki sejumlah manfaat strategis, baik dari sisi energi, ekonomi, maupun lingkungan.
“Untuk 100 gigawatt peak itu, kemarin sudah diluncurkan oleh Pak Presiden [Prabowo Subianto]. Potensi penghematan itu bisa sampai Rp73,9 triliun, juga bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan 5,5 juta. Diharapkan penurunan emisi sebesar 140 juta ton,” ujar Eniya dalam acara Indo EBTKE ConEx and Exhibition 2026 di JIExpo Kemayoran, Rabu (2/9).
Potensi penghematan anggaran menjadi salah satu manfaat penting dari pengembangan energi surya. Di sisi lain, penurunan emisi karbon sebesar 140 juta ton menunjukkan kontribusi program tersebut terhadap upaya memperluas penggunaan energi yang lebih bersih.
Persiapan Program PLTS Terus Dipercepat
Menurut Eniya, pemerintah saat ini terus mempercepat persiapan pelaksanaan program PLTS 100 GWp. Tahap awal program tersebut telah dimulai melalui peluncuran proyek berkapasitas 5,3 GW di Bali pada Agustus 2026.
Meski demikian, pemerintah masih menyusun sejumlah regulasi yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan program tersebut. Salah satu aturan yang tengah dipersiapkan adalah rancangan peraturan presiden mengenai pengembangan PLTS 100 GWp.
Penyusunan regulasi dinilai menjadi bagian penting agar pengembangan PLTS dapat berjalan sesuai arah yang telah ditetapkan. Dengan adanya aturan pendukung, persiapan dan pelaksanaan proyek diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah.
Penggunaan Produk dan Tenaga Kerja Lokal Diutamakan
Eniya menegaskan bahwa program PLTS 100 GWp tidak semata-mata ditujukan untuk menambah kapasitas energi bersih. Program tersebut juga diarahkan untuk mendorong pertumbuhan industri dalam negeri, termasuk melalui penggunaan produk serta tenaga kerja lokal.
Pemerintah ingin target penciptaan lapangan kerja dalam program tersebut dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di dalam negeri. Karena itu, keterlibatan tenaga kerja lokal menjadi salah satu hal yang ditekankan dalam pelaksanaan proyek.
“Seluruh program ini akan sangat membangun karena ada target penciptaan lapangan pekerjaan. Jadi harus ada tenaga lokal di sini,” kata Eniya.
Industri Manufaktur Diminta Meningkatkan Kesiapan
Percepatan pembangunan PLTS dalam skala besar juga membutuhkan kesiapan industri manufaktur nasional. Seiring dengan meningkatnya realisasi proyek, kebutuhan terhadap panel surya dan berbagai peralatan pendukung diperkirakan turut bertambah.
Eniya mengingatkan pelaku industri agar mampu memenuhi permintaan peralatan energi surya secara cepat. Pemerintah tidak menginginkan kebutuhan panel dan perlengkapan proyek PLTS sepenuhnya dipenuhi melalui produk impor.
Ia mencontohkan, apabila terdapat pesanan pembangkit dengan kapasitas 1 gigawatt, proses pembentukan atau “shaping” yang membutuhkan waktu hingga enam bulan dianggap terlalu lama. Oleh sebab itu, industri dalam negeri didorong untuk segera meningkatkan kemampuan produksi solar cell.
“Kalau sekarang mulai ada pesanan 1 gigawatt, shaping-nya perlu enam bulan, ya itu kelamaan. Jadi sekarang teman-teman semua industri harus membuat solar cell karena kita mengutamakan produk dalam negeri,” ujar Eniya.
Kesimpulan
Program PLTS 100 GWp memiliki potensi besar dalam mendukung transisi energi di Indonesia. Berdasarkan keterangan Kementerian ESDM, program ini berpeluang menciptakan hingga 5,5 juta lapangan kerja, menghemat anggaran negara sampai Rp73,9 triliun, serta menurunkan emisi karbon sebesar 140 juta ton.
Pemerintah kini mempercepat persiapan proyek, menyusun regulasi pendukung, dan mendorong keterlibatan industri serta tenaga kerja lokal. Ke depan, kesiapan manufaktur dalam negeri akan menjadi salah satu faktor penting agar kebutuhan panel surya dan peralatan pendukung dapat dipenuhi secara cepat tanpa ketergantungan penuh pada produk impor.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment