Perang Dagang AS-Kanada Memanas, Tarif 50 Persen Ancam Industri dan Konsumen
Hubungan Amerika Serikat dan Kanada kembali memanas setelah negosiasi perdagangan yang sempat mendekati kesepakatan justru berakhir dengan saling mengenakan tarif. Perselisihan tersebut melibatkan sejumlah sektor penting, mulai dari baja, aluminium, otomotif, hingga produk konsumen.
Ketegangan meningkat setelah Kanada memberlakukan tarif hingga 50 persen terhadap ratusan produk Amerika Serikat pada Selasa (25/8). Sehari kemudian, Presiden AS Donald Trump menyebut Kanada sebagai salah satu negara terburuk di dunia untuk diajak berurusan.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney membalas pernyataan tersebut dengan menuduh Trump berupaya “menghancurkan” industri otomotif Kanada. Kedua negara kini saling menyalahkan atas kegagalan perundingan yang sebelumnya diperkirakan dapat menghasilkan kompromi.
Negosiasi Tarif Baja, Aluminium, dan Otomotif Gagal
Kanada pada awalnya berupaya mendapatkan pengurangan tarif tinggi yang diberlakukan AS terhadap baja, aluminium, mobil, dan truk. Pemerintah Kanada menyatakan kedua pihak sempat mencapai kesepakatan awal untuk menurunkan tarif baja dan aluminium dari 50 persen menjadi 25 persen.
Namun, kesepakatan tersebut mengalami kemunduran setelah Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dilaporkan menerima lobi dari produsen baja dan aluminium Amerika. Para produsen tersebut mendorong pemerintah untuk mempertahankan tarif yang sudah berlaku.
Lutnick juga menolak rencana pengurangan tarif terhadap mobil dan truk. Penolakan itu membuat sejumlah bagian lain dalam rancangan kesepakatan ikut runtuh. Kanada kemudian menarik kembali sejumlah tawaran yang sebelumnya disiapkan dalam perundingan.
Proyek Keystone dan Minuman Keras AS
Salah satu tawaran Kanada adalah membuka kembali pembahasan proyek pipa minyak Keystone. Proyek tersebut dibatalkan oleh Presiden AS Joe Biden pada 2021. Kanada sempat menawarkan isu itu sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan perdagangan.
Namun, setelah perundingan tarif baja, aluminium, dan otomotif tidak mengalami kemajuan, Ottawa membatalkan tawaran tersebut. AS juga meminta Kanada mencabut kebijakan sejumlah provinsi yang menarik minuman keras buatan AS dari rak toko. Kebijakan itu menyebabkan penjualan minuman keras AS di Kanada merosot.
Kanada pada akhirnya tidak memberikan konsesi tersebut karena pembahasan mengenai tarif logam dan otomotif tidak menghasilkan perkembangan berarti.
Trump Hidupkan Kembali Pasal dari Smoot-Hawley
Runtuhnya negosiasi juga berkaitan dengan keputusan Trump menggunakan ketentuan dalam Undang-Undang Tarif 1930 atau Smoot-Hawley. Undang-undang tersebut dikenal dalam sejarah karena dinilai para ekonom turut memperpanjang masa Depresi Besar.
Kebijakan tarif pada masa itu memicu perang dagang global, pembalasan dari negara lain, serta penurunan produk domestik. Perdagangan AS tercatat turun hingga dua pertiga pada periode 1929 hingga 1932.
Salah satu ketentuannya, yaitu Pasal 338, memberikan kewenangan kepada presiden AS untuk mengenakan tarif sepihak hingga 50 persen terhadap produk negara asing yang dianggap melakukan diskriminasi terhadap barang Amerika.
Pasal tersebut hampir tidak pernah digunakan sejak diberlakukan. Trump menghidupkannya kembali pada Juli dengan mengancam akan mengenakan tarif 50 persen terhadap Kanada. Ia menilai kebijakan perdagangan Kanada mendiskriminasi produk AS.
Setelah perundingan gagal, ancaman itu direalisasikan. AS mengenakan tarif hingga 50 persen terhadap ekspor Kanada senilai sekitar US$20 miliar. Produk yang terdampak mencakup suku cadang otomotif, hasil kehutanan, furnitur, tekstil, wiski, dan peralatan hoki.
Nilai produk yang terkena tarif tersebut setara dengan sekitar 4 persen dari total ekspor Kanada ke AS. Kanada sendiri merupakan salah satu pemasok utama barang ke Amerika Serikat. Pada 2025, nilai ekspor Kanada ke AS mencapai sekitar US$451 miliar, menempati peringkat kedua setelah Meksiko.
Kanada Balas Kenakan Tarif terhadap Produk AS
Pemerintah Kanada merespons kebijakan Trump dengan menyiapkan daftar produk Amerika senilai sekitar US$20 miliar yang akan dikenai tarif hingga 50 persen.
Ottawa memilih sejumlah barang yang berasal dari negara bagian penting di AS. Langkah tersebut dinilai dapat memberikan tekanan politik kepada pemerintahan Trump menjelang pemilihan paruh waktu AS. Produk yang menjadi sasaran antara lain keju dari Wisconsin, makanan laut dari Maine, serta mesin cuci dan pengering dari Kentucky.
Keputusan Kanada untuk membalas memiliki risiko besar karena perekonomian kedua negara sangat erat. Namun, penolakan publik Kanada terhadap tekanan Trump memberikan ruang bagi Carney untuk mengambil sikap lebih tegas terhadap Washington.
Dampak terhadap Konsumen dan Politik AS
Perang tarif berpotensi memberikan dampak langsung kepada konsumen dan perusahaan AS. Tarif merupakan pungutan yang dibayarkan importir ketika barang masuk ke suatu negara. Jika biaya tersebut tidak dapat ditanggung perusahaan, sebagian beban biasanya diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga.
Tarif terbaru Trump menyasar sejumlah barang Kanada yang sebelumnya memperoleh perlakuan lebih ringan berdasarkan Perjanjian AS-Meksiko-Kanada. Dampaknya diperkirakan lebih terasa di wilayah yang memiliki hubungan perdagangan erat dengan Kanada, seperti Maine, New York, Pennsylvania, Ohio, dan Wisconsin.
Michigan juga menjadi wilayah penting karena industri otomotif negara bagian itu terhubung erat dengan sektor otomotif di Ontario, Kanada. Gangguan pada rantai pasok lintas perbatasan dapat memengaruhi perusahaan dan pekerja di kedua negara.
Perang tarif tidak hanya merugikan importir Amerika. Kanada juga dapat mengurangi pembelian produk AS sebagai bentuk pembalasan. Kondisi tersebut berpotensi membuat petani dan produsen Amerika kehilangan sebagian pasar mereka di Kanada.
Dampak ekonomi itu dapat menjadi persoalan politik, terutama di negara bagian yang menjadi basis Partai Republik dan pendukung Trump. Jika tarif bertahan hingga pemilihan paruh waktu, kenaikan harga dan penurunan ekspor dapat digunakan Partai Demokrat untuk mengkritik kebijakan ekonomi pemerintahan Trump.
Ketegangan Melampaui Persoalan Perdagangan
Perselisihan tarif terbaru bukan satu-satunya sumber ketegangan antara Washington dan Ottawa. Sejak kembali menjabat sebagai presiden, Trump berulang kali mengkritik Kanada, menuduh negara tersebut menipu AS, dan menyebutnya sebagai pihak yang sulit diajak berurusan.
Trump juga beberapa kali menyampaikan kemungkinan menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 AS. Pernyataan tersebut memicu kemarahan banyak warga Kanada dan ikut menyatukan opini publik untuk menentang tekanan dari Washington.
Menurut Carney, salah satu persoalan utama dalam perundingan adalah tuntutan baru dari negosiator AS agar kebijakan perdagangan Kanada secara permanen diselaraskan dengan kepentingan Amerika. Carney menilai tuntutan itu berpotensi mengurangi kedaulatan Kanada.
Kesimpulan
Perang dagang AS-Kanada menunjukkan bahwa hubungan ekonomi yang erat tidak selalu menjamin tercapainya kesepakatan politik. Kegagalan negosiasi mengenai baja, aluminium, dan otomotif mendorong kedua negara menerapkan tarif hingga 50 persen terhadap produk lawan.
Dalam jangka pendek, kebijakan tersebut berisiko meningkatkan harga barang, mengganggu rantai pasok, dan mengurangi akses petani serta produsen AS ke pasar Kanada. Perselisihan ini juga dapat menjadi isu politik penting menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat.
Arah kebijakan Trump masih sulit diprediksi karena tarif dapat berubah sebelum pemilu maupun sebelum masa jabatannya berakhir pada 2028. Namun, jika konflik berlanjut, perseteruan AS dan Kanada berpotensi memperkuat kekhawatiran terhadap munculnya perang dagang yang lebih luas dan mengganggu sistem perdagangan global.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment