Putin Kecam “Taktik Jelek” Barat dan Sebut Rusia Dibebani Lebih dari 30.000 Sanksi

Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam negara-negara Barat yang dinilai menggunakan tekanan perdagangan dan diplomatik sebagai bentuk campur tangan terhadap negara lain. Menurut Putin, persaingan antarnegara telah berkembang menjadi tindakan yang semakin keras dan berpotensi mengganggu hubungan geopolitik.

Pernyataan tersebut disampaikan Putin dalam pidatonya pada forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di New Delhi, India. Dalam kesempatan itu, ia menyoroti berbagai langkah yang disebutnya sebagai “taktik jelek” untuk menekan Rusia dan negara-negara yang tidak mengikuti kepentingan pihak tertentu.

Putin Soroti Lebih dari 30.000 Sanksi terhadap Rusia

Dalam pidatonya, Putin menyebut Rusia telah menghadapi lebih dari 30.000 sanksi. Ia mengatakan jumlah tersebut mencapai dua kali lipat dari total sanksi yang dijatuhkan kepada seluruh negara lain di dunia jika digabungkan.

“Lebih dari 30.000 sanksi telah dijatuhkan terhadap Rusia; jumlah ini dua kali lipat dari total sanksi yang dikenakan terhadap semua negara lain di dunia jika digabungkan,” ujar Putin, seperti dikutip dari NDTV.

Putin menilai tekanan terhadap Rusia tidak lagi terbatas pada kebijakan perdagangan atau hubungan diplomatik. Menurut dia, persaingan telah berubah menjadi bentuk intervensi di tingkat negara dan pemerintah.

Tekanan Perdagangan Dinilai Berubah Menjadi Gangguan Geopolitik

Putin memaparkan sejumlah tindakan yang disebutnya sebagai contoh meningkatnya konflik perdagangan menjadi gangguan geopolitik yang ekstrem. Ia menyinggung pemblokiran koridor transportasi internasional, penghancuran pipa penyalur, penerapan pembatasan yang dianggap ilegal, serta ancaman yang disebut sebagai sanksi sekunder.

Menurut Putin, tekanan semacam itu juga diarahkan kepada negara-negara yang memilih untuk tidak tunduk pada kepentingan pihak lain. Ia menilai negara-negara tersebut menghadapi konsekuensi karena berusaha mengutamakan kepentingan nasionalnya sendiri.

“Terkadang persaingan mengambil bentuk yang buruk. Bentuk buruk ini adalah sesuatu yang kita lihat bahkan di tingkat negara, di tingkat pemerintah,” kata Putin.

Ia kemudian menjelaskan bahwa bentuk tekanan tersebut tidak hanya bersifat ekonomi atau administratif. Dalam beberapa kasus, langkah yang diambil dinilai memiliki konsekuensi fisik, termasuk penghancuran pipa penyalur dan upaya menghambat jalur transportasi internasional.

“Terkadang langkah-langkah yang diambil bersifat fisik, seperti penghancuran pipa penyalur, upaya memblokir koridor transportasi internasional untuk menyita kapal laut, penerapan pembatasan ilegal, serta adanya ancaman sanksi sekunder terhadap pihak-pihak yang tidak mau mengikuti kepentingan orang lain dan lebih memilih mengutamakan kepentingan mereka sendiri,” tutur Putin.

Kecaman Diduga Mengarah ke Amerika Serikat dan Sekutunya

Dalam pernyataannya, Putin tidak secara langsung menyebut Amerika Serikat. Namun, kecaman terhadap tekanan perdagangan, pembatasan diplomatik, dan ancaman sanksi sekunder tersebut tampak merujuk kepada Washington serta negara-negara yang menjadi sekutunya.

Putin menggambarkan kebijakan tersebut sebagai bentuk persaingan yang telah melewati batas hubungan dagang biasa. Ia menilai langkah-langkah itu berpengaruh terhadap hubungan antarnegara dan dapat menekan negara yang mengambil keputusan berdasarkan kepentingannya sendiri.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah penekanan Putin mengenai pentingnya kedaulatan nasional. Ia menyebut Rusia berupaya mempertahankan kemampuannya untuk menentukan arah kebijakan dan hubungan luar negeri tanpa tunduk pada tekanan pihak lain.

Rusia Perluas Hubungan dengan Mitra yang Dianggap Andal

Di tengah sanksi yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya, Putin mengatakan Moskow telah mengubah strategi perdagangannya. Rusia, kata dia, memperluas hubungan dengan mitra-mitra yang dianggap dapat diandalkan dan mampu memberikan kepastian.

Putin menilai strategi tersebut menjadi bagian dari upaya Rusia menghadapi tekanan eksternal sekaligus memperkuat kedaulatan nasional. Ia mengatakan pemerintah Rusia telah bekerja secara aktif dan berhasil mencapai sejumlah kemajuan di tengah situasi yang sulit.

“Di tengah situasi sulit ini, Rusia telah bekerja secara aktif dan berhasil meraih pencapaian besar. Kami telah memperkuat kedaulatan nasional dan sedang mengembangkan hubungan dengan mitra-mitra yang dapat diandalkan serta dapat diprediksi,” ujar Putin.

Pertumbuhan Ekonomi Disebut Melampaui Rata-Rata Dunia

Putin juga menjadikan kinerja ekonomi sebagai salah satu indikator ketahanan Rusia dalam menghadapi tekanan. Ia menyatakan pertumbuhan ekonomi Rusia dalam tiga tahun terakhir telah melampaui rata-rata dunia.

“Selama tiga tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Rusia melampaui rata-rata dunia,” kata Putin. Pernyataan itu digunakan untuk menegaskan bahwa Rusia tetap mampu menjalankan aktivitas ekonominya meski menghadapi gelombang sanksi dalam jumlah besar.

Kesimpulan

Dalam pidatonya di KTT BRICS, Vladimir Putin menuduh negara-negara Barat menggunakan tekanan perdagangan dan diplomatik sebagai bentuk campur tangan di tingkat negara. Ia menyoroti lebih dari 30.000 sanksi terhadap Rusia, pemblokiran koridor transportasi, penghancuran pipa penyalur, pembatasan ilegal, serta ancaman sanksi sekunder.

Putin menegaskan bahwa Rusia berupaya menghadapi tekanan tersebut dengan memperkuat kedaulatan nasional dan memperluas kerja sama dengan mitra yang dianggap andal. Ia juga menyebut pertumbuhan ekonomi Rusia dalam tiga tahun terakhir telah melampaui rata-rata dunia. Ke depan, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Moskow akan terus menekankan pentingnya hubungan dengan mitra-mitra yang dapat diprediksi di tengah tekanan dan persaingan geopolitik.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment