Warga Kanada Boikot Produk AS di Tengah Perang Dagang dan Pilih Barang Lokal

Warga Kanada semakin menunjukkan dukungan terhadap produk dalam negeri di tengah memanasnya perang dagang dengan Amerika Serikat. Gerakan membeli produk lokal menguat setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan sejumlah tarif terhadap barang asal Kanada dan berulang kali menyebut Kanada sebagai “negara bagian ke-51 AS”.

Sikap tersebut mendorong sebagian masyarakat Kanada untuk mengurangi, bahkan menghentikan, pembelian produk Amerika Serikat. Bagi mereka, memilih barang buatan Kanada bukan hanya keputusan konsumsi, melainkan juga bentuk dukungan terhadap perekonomian nasional dan respons terhadap kebijakan perdagangan Washington.

Warga Kanada Mulai Menghindari Produk Amerika Serikat

Salah satu warga Toronto, Mateus Gujrel, mengaku menjadi lebih sadar dalam memilih barang sejak perang dagang AS-Kanada kembali mencuat. Pengembang perangkat lunak tersebut mengganti merek susu almond yang biasa dikonsumsinya dan berhenti membeli LaCroix, minuman air berkarbonasi asal Amerika Serikat.

Sebagai gantinya, Gujrel memilih produk yang berasal dari Kanada. Ia mengatakan akan memprioritaskan barang lokal selama asal produknya dapat diketahui dengan jelas.

“Apa pun yang bisa kami lihat dengan jelas sebagai produk Kanada, akan kami pilih,” kata Gujrel seperti dilansir Al Jazeera.

Menurutnya, keputusan tersebut juga didorong keinginan untuk membatasi aliran uang masyarakat Kanada ke Amerika Serikat. Ia berusaha menghindari pembelian produk AS dengan cara yang masih memungkinkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya tidak ingin uang kami mengalir ke AS dengan cara apa pun yang bisa saya hindari,” ujarnya.

Boikot Produk AS Dinilai Bukan Tren Sesaat

Kepala operasional perusahaan riset pasar Narrative Research, Margaret Chapman, menilai kecenderungan warga Kanada untuk membeli produk lokal tidak bersifat sementara. Menurut dia, sentimen tersebut cukup kuat dan berpotensi bertahan dalam jangka panjang.

Chapman menyebut inisiatif untuk membeli produk Kanada sekaligus mendukung kepentingan nasional terus berlanjut. Pernyataan itu menunjukkan bahwa perang dagang telah memengaruhi cara konsumen Kanada menentukan pilihan di tengah tersedianya berbagai produk impor.

Perang Dagang AS-Kanada Kembali Memanas

Ketegangan perdagangan antara Kanada dan Amerika Serikat meningkat pada akhir Agustus setelah perundingan kedua negara gagal mencegah rencana penerapan tarif AS sebesar 50 persen. Kebijakan tersebut menyasar hampir US$20 miliar produk Kanada.

Sejumlah produk yang terdampak tarif Amerika Serikat antara lain mesin, tekstil, dan tongkat hoki. Tarif tersebut mulai berlaku pada 22 Agustus.

Kanada kemudian merespons dengan mengenakan tarif balasan sebesar 15 hingga 50 persen terhadap produk AS senilai sekitar US$20 miliar. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyebut kebijakan tersebut sebagai respons “dolar demi dolar” terhadap tarif yang diberlakukan Washington.

Daftar Produk yang Terkena Tarif Balasan Kanada

Produk Amerika Serikat yang terdampak tarif balasan Kanada mencakup baja, aluminium, produk susu, peralatan rumah tangga, pakaian, serta kosmetik. Namun, dampak langsung kebijakan tersebut terhadap konsumen belum sepenuhnya terlihat.

Oxford Economics memperkirakan hanya sekitar 0,25 persen dari rata-rata keranjang belanja konsumen yang terdampak secara langsung oleh tarif baru Kanada. Sebagian besar barang yang dikenai tarif digunakan oleh pelaku usaha dan tidak langsung dibeli oleh konsumen.

Harga Barang Berpotensi Naik dalam Beberapa Pekan

Meski dampak awal terhadap konsumen masih terbatas, harga sejumlah barang berpotensi mengalami kenaikan dalam beberapa pekan mendatang. Hal ini dapat terjadi karena bahan baku dan kemasan yang digunakan dalam produk konsumen juga bisa terdampak tarif.

Analis ritel Bruce Winder mengatakan, toko-toko saat ini kemungkinan masih menjual persediaan yang dibeli sebelum tarif diberlakukan. Setelah stok lama berkurang, harga di rak berpeluang meningkat mengikuti kenaikan biaya yang ditanggung pelaku usaha.

“Saya pikir Anda kemungkinan akan melihat beberapa harga di rak meningkat dalam beberapa pekan ke depan,” kata Winder.

Oxford Economics memperkirakan pelaku usaha akan menanggung sedikitnya setengah dari biaya tarif balasan tersebut. Sementara itu, rumah tangga diperkirakan menanggung sekitar 20 persen melalui kenaikan harga barang.

Konsumen Tetap Bersedia Membayar Lebih untuk Produk Lokal

Meski terdapat kemungkinan kenaikan harga, hasil survei menunjukkan banyak warga Kanada masih bersedia membayar lebih mahal demi mendapatkan produk dalam negeri. Penelitian Narrative Research menemukan bahwa 76 persen responden memilih keranjang belanja berisi produk Kanada seharga 120 dolar Kanada dibandingkan keranjang produk yang kemungkinan berasal dari Amerika Serikat dengan harga 100 dolar Kanada.

Ketika harga keranjang produk Kanada dinaikkan menjadi 140 dolar Kanada, sekitar 70 persen responden masih tetap memilihnya. Temuan ini memperlihatkan kuatnya preferensi terhadap produk lokal, bahkan ketika selisih harga dengan produk impor semakin besar.

Chapman mengatakan, kesediaan tersebut tidak hanya muncul dalam pernyataan survei, tetapi juga terlihat dalam perilaku belanja masyarakat. Menurutnya, warga Kanada tetap bersedia mengeluarkan lebih banyak uang jika pembelian itu dianggap mendukung negaranya, termasuk ketika kondisi ekonomi sedang sulit.

Kesimpulan

Perang dagang AS-Kanada telah mendorong semakin banyak warga Kanada untuk memilih produk dalam negeri dan menghindari barang asal Amerika Serikat. Gerakan tersebut tidak hanya mencerminkan respons terhadap tarif dan pernyataan Donald Trump, tetapi juga memperlihatkan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap asal produk.

Walaupun dampak tarif terhadap harga konsumen belum sepenuhnya terasa, kenaikan harga masih berpotensi terjadi ketika persediaan lama di toko habis. Namun, survei menunjukkan bahwa mayoritas warga Kanada tetap siap membayar lebih mahal untuk produk lokal. Jika sentimen ini terus bertahan, preferensi terhadap barang buatan Kanada dapat menjadi faktor penting dalam perkembangan konsumsi dan hubungan dagang kedua negara ke depan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment