Xanana Gusmao Ingatkan Generasi Muda agar Tidak Bergantung Berlebihan pada AI dan Google
Perdana Menteri Timor-Leste, Xanana Gusmao, mengingatkan generasi muda agar tidak terlalu bergantung pada teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Menurutnya, penggunaan AI dan mesin pencari seperti Google secara berlebihan dapat memengaruhi kemampuan manusia untuk berpikir secara mandiri.
Pesan tersebut disampaikan Xanana saat menerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (5/9). Dalam kesempatan itu, ia menyoroti pentingnya menjaga kemampuan berpikir, memeriksa fakta, serta memahami persoalan secara langsung sebelum mencari jawaban melalui teknologi.
Xanana Soroti Ketergantungan pada AI dan Google
Xanana menilai perkembangan teknologi memang memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi. Namun, kemudahan tersebut tidak seharusnya membuat generasi muda berhenti menggunakan kemampuan berpikirnya sendiri. Ketika seseorang selalu mengandalkan jawaban dari AI atau Google, proses memahami persoalan dan mencari solusi secara mandiri berisiko semakin berkurang.
Ia bahkan menyampaikan peringatan tegas mengenai dampak ketergantungan tersebut terhadap kehidupan manusia. “Generasi muda, jika mereka terlalu bergantung pada Google dan AI, mereka bukan lagi manusia. Mereka menjadi mesin,” kata Xanana kepada wartawan.
Menurut Xanana, generasi muda perlu membiasakan diri untuk melihat suatu persoalan secara utuh. Mereka juga perlu memeriksa fakta dan berusaha memahami masalah sebelum menggunakan teknologi untuk menemukan jawaban. Dengan cara itu, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan manusia dalam berpikir dan mengambil keputusan.
Kepemimpinan Tumbuh dari Kemampuan Menghadapi Masalah
Dalam pernyataannya, Xanana juga menjelaskan pandangannya mengenai proses lahirnya seorang pemimpin. Ia menilai kepemimpinan tidak muncul hanya karena seseorang ditunjuk atau mendapatkan pendidikan formal. Menurutnya, kepemimpinan berkembang secara alami melalui pengalaman menghadapi kesulitan dan kemampuan mencari jalan keluar.
Seseorang, kata Xanana, mulai menunjukkan potensi kepemimpinan ketika mampu melihat berbagai persoalan dan memikirkan cara untuk menyelesaikannya. Namun, solusi yang diambil tidak cukup hanya untuk mengatasi masalah saat ini. Penyelesaian tersebut juga harus disertai visi mengenai masa depan.
“Ketika seseorang melihat berbagai kesulitan, mereka mulai berpikir bagaimana cara menyelesaikannya. Namun, penyelesaian itu harus disertai dengan visi untuk masa depan. Dari situlah pemimpin akan muncul. Kepemimpinan akan datang secara alami,” ungkapnya.
Peran Universitas dalam Melahirkan Pemimpin
Xanana menilai universitas memiliki peran penting dalam mempersiapkan pemimpin bangsa pada masa mendatang. Lembaga pendidikan tinggi tidak hanya bertugas menyampaikan pengetahuan, tetapi juga harus mengajarkan cara berpikir dan cara memahami persoalan berdasarkan fakta.
Ia menekankan bahwa proses pendidikan perlu mendorong mahasiswa untuk memeriksa berbagai fakta dari sejumlah sudut pandang. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan secara ilmiah, alamiah, maupun sosiologis. Dengan kemampuan tersebut, generasi muda diharapkan mampu memahami persoalan secara lebih mendalam dan merumuskan solusi yang tepat.
“Peran universitas, yaitu bagaimana universitas mengajarkan orang untuk berpikir dan bagaimana seseorang memeriksa seluruh fakta, baik secara ilmiah, alamiah, maupun sosiologis. Pemimpin-pemimpin baru akan lahir dari sana,” jelasnya.
Teknologi Harus Tetap Digunakan secara Bijak
Peringatan Xanana bukan berarti teknologi harus sepenuhnya ditinggalkan. Ia menekankan agar perkembangan AI dan mesin pencari tidak membuat manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir sendiri. Teknologi seharusnya digunakan secara bijak, sementara proses memahami masalah, menilai informasi, dan menentukan keputusan tetap menjadi tanggung jawab manusia.
Generasi muda perlu membangun mentalitas yang mendorong keingintahuan, ketelitian, dan kemandirian. Sebelum membuka Google atau menggunakan AI, mereka perlu terlebih dahulu berusaha memahami pertanyaan yang dihadapi. Kebiasaan tersebut dapat membantu menjaga kemampuan berpikir kritis dan mendorong lahirnya pribadi yang mampu menghadapi kesulitan.
Kesimpulan
Xanana Gusmao mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI dan Google dapat membuat generasi muda kehilangan kemampuan berpikir secara mandiri. Ia mendorong anak muda untuk memeriksa fakta, memahami persoalan, serta mencari solusi dengan mengandalkan kemampuan sendiri sebelum memanfaatkan teknologi.
Di sisi lain, universitas dinilai memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi yang mampu berpikir kritis dan melahirkan pemimpin masa depan. Seiring perkembangan AI, tantangan ke depan bukan hanya bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan manusia tetap menjadi pengambil keputusan utama.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment