Zelensky Tolak Pemilu di Tengah Perang Ukraina, Sebut Berisiko Memecah Belah Negara

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menolak gagasan penyelenggaraan pemilu selama perang melawan Rusia masih berlangsung. Penolakan tersebut disampaikan empat hari setelah mantan Menteri Pertahanan Ukraina, Mykhailo Fedorov, secara terbuka mendesak agar masyarakat tetap diberi kesempatan untuk menggunakan hak pilihnya.

Dalam pernyataan resmi pada Minggu (23/8), Zelensky menilai pemilu di tengah situasi perang dapat menimbulkan risiko besar bagi stabilitas Ukraina. Menurutnya, pelaksanaan pemilu saat ini justru berpotensi memperlebar perpecahan di tengah masyarakat yang masih menghadapi konflik bersenjata.

Zelensky Nilai Pemilu Saat Perang Berisiko Besar

Zelensky menyampaikan sikap tersebut sebagai tanggapan terhadap video yang diunggah Fedorov pada Selasa (18/8). Dalam pernyataannya, Presiden Ukraina itu menggambarkan pemilu di tengah perang seperti “tsunami” bagi negara.

“Saya percaya bahwa dalam situasi perang seperti ini, penyelenggaraan pemilu adalah risiko yang sangat besar. Pemilu saat ini bagaikan tsunami bagi negara yang dapat memecah belah Ukraina,” tegas Zelensky.

Sikap Zelensky juga berkaitan dengan kondisi hukum yang berlaku di Ukraina. Sejak pasukan Rusia melancarkan invasi pada Februari 2022, pemerintah Ukraina memberlakukan undang-undang darurat militer. Ketentuan tersebut secara hukum melarang penyelenggaraan pemilu selama masa darurat berlangsung.

Mantan Menteri Pertahanan Desak Pemilu Tetap Digelar

Berbeda dari Zelensky, Fedorov meminta agar rakyat Ukraina tetap diberi ruang untuk menjalankan hak politik mereka. Dalam video yang diunggahnya, ia menyerukan adanya mekanisme yang memungkinkan pemilu dilaksanakan secara sah, aman, dan realistis meskipun perang masih berkepanjangan.

“Demokrasi tidak boleh disandera oleh Rusia. Harus ada mekanisme yang sah, aman, dan realistis yang memungkinkan Ukraina memulihkan proses demokrasi secara penuh, bahkan di tengah perang yang berkepanjangan,” ujar Fedorov.

Fedorov mengatakan perjuangan Ukraina dilakukan untuk mempertahankan statusnya sebagai negara Eropa yang merdeka. Karena itu, ia menilai pembahasan mengenai pemilu tidak seharusnya dihindari hanya karena negara sedang berada dalam situasi perang.

Dalam wawancara dengan BBC, Fedorov juga menegaskan bahwa masyarakat Ukraina tidak boleh takut mendiskusikan gagasan pemilu di masa perang. Ia mempertanyakan tujuan perjuangan apabila dirinya tidak dapat menyampaikan gagasan secara terbuka kepada masyarakat.

“Jika saya tidak dapat membagikan gagasan saya dan terbuka kepada masyarakat saya sendiri, lantas untuk apa kita bertempur?” cetus Fedorov.

Perbedaan Sikap Menjadi Tantangan Politik bagi Zelensky

Langkah Fedorov dipandang sebagai tantangan politik terbesar terhadap kekuasaan Zelensky sejak konflik Ukraina dan Rusia pecah. Meski demikian, Fedorov tidak mengungkapkan apakah desakannya tersebut berkaitan dengan ambisi politik pribadi.

Fedorov sebelumnya dicopot dari jabatan Menteri Pertahanan pada pertengahan Juli. Pemecatan tersebut disebut terjadi setelah perselisihan sengit yang berlangsung lama antara Fedorov dan Panglima Tinggi Ukraina, Jenderal Oleksandr Syrskyi.

Keputusan pencopotan itu sempat memicu aksi protes di sejumlah kota. Ribuan warga mengkritik langkah tersebut karena Fedorov dikenal sebagai sosok menteri yang populer di kalangan masyarakat.

Fedorov Soroti Dugaan Kasus Korupsi

Selain menyerukan pemilu, Fedorov juga menyebut Zelensky memiliki sejumlah “pertanyaan yang harus dijawab” terkait dugaan korupsi di lingkungan pemerintahannya. Pernyataan tersebut merujuk pada penyelidikan tindak pidana pencucian uang yang diumumkan pada pekan sebelumnya.

Pernyataan itu menambah ketegangan politik antara Fedorov dan pemerintahan Zelensky. Di satu sisi, Fedorov menekankan pentingnya keterbukaan serta keberlanjutan demokrasi. Di sisi lain, Zelensky memandang penyelenggaraan pemilu saat perang sebagai ancaman yang dapat mengganggu persatuan nasional.

Rekam Jejak Fedorov Selama Menjabat

Selama memimpin Kementerian Pertahanan Ukraina, Fedorov diakui berhasil mengubah peta pertempuran menjadi lebih menguntungkan bagi Ukraina. Ia disebut meningkatkan intensitas serangan jarak jauh ke wilayah dalam Rusia hingga sepuluh kali lipat.

Fedorov juga berperan dalam memperkuat persenjataan domestik Ukraina. Rekam jejak tersebut membuat pencopotannya mendapat perhatian luas dan memicu reaksi dari masyarakat di berbagai wilayah.

Kesimpulan

Perdebatan mengenai pemilu di Ukraina menunjukkan adanya perbedaan pandangan serius di tengah perang melawan Rusia. Zelensky menilai pemilu saat ini berisiko memecah belah negara dan bertentangan dengan ketentuan darurat militer. Sementara itu, Fedorov berpendapat bahwa demokrasi tetap harus dibicarakan dan memiliki mekanisme untuk dipulihkan, meskipun konflik belum berakhir.

Ke depan, perdebatan tersebut akan terus menjadi isu penting bagi Ukraina. Pemerintah perlu menghadapi tuntutan mengenai keterbukaan politik dan dugaan korupsi, sembari mempertahankan stabilitas negara selama perang berlangsung. Untuk saat ini, sikap Zelensky menunjukkan bahwa penyelenggaraan pemilu belum menjadi pilihan karena alasan keamanan, hukum, dan persatuan nasional.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment