Achmad Hidayat Buka Suara soal Pemecatan dari PDIP Usai Sowan ke Jokowi
Eks Wakil Sekretaris DPC PDIP Kota Surabaya, Achmad Hidayat, angkat bicara mengenai pemecatan dirinya dari keanggotaan partai. Keputusan tersebut diambil setelah Achmad melakukan kunjungan ke Solo dan menyampaikan gagasan agar Joko Widodo dipulihkan sebagai kader PDIP.
Achmad mengungkapkan bahwa dirinya telah dipanggil Komite Etik PDIP untuk dimintai penjelasan terkait kunjungannya ke Solo. Dalam forum tersebut, ia menjelaskan alasan kedatangannya serta isi pembicaraan dengan Jokowi.
Achmad Dipanggil Komite Etik PDIP
Menurut Achmad, pemanggilan oleh Komite Etik PDIP berlangsung pada 26 Agustus. Komite tersebut dipimpin oleh Wakil Sekretaris Jenderal PDIP, Sadarestuwati. Pemanggilan itu disebut sebagai tindak lanjut atas kunjungannya ke Solo sekitar satu bulan sebelumnya.
Dalam pemeriksaan, Achmad mengaku ditanya mengenai hal-hal yang dibicarakan saat bertemu Jokowi. Ia menyebut pertemuan tersebut berlangsung sederhana dan tidak membahas agenda politik secara khusus.
“Lalu apa yang kamu bicarakan di sana? Loh, tidak bicara apa-apa, salaman, habis itu foto,” ujar Achmad saat menirukan pertanyaan dalam persidangan, Senin (14/9).
Meski demikian, Achmad mengakui bahwa dirinya sempat menanyakan hubungan Jokowi dengan Megawati Soekarnoputri, yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PDIP. Ia menyampaikan pertanyaan tersebut karena menilai persatuan dan kekompakan penting untuk kepentingan bangsa.
Bahas Hubungan Jokowi dan Megawati
Achmad mengatakan, dalam pertemuan itu Jokowi menyampaikan bahwa hubungannya dengan Megawati tetap baik. Jokowi juga disebut meyakini bahwa pada suatu waktu akan bertemu dengan Megawati.
“Saya juga sempat menanyakan, Pak Jokowi, bagaimana untuk urusan bangsa ini? Kita harus kompak. Apakah Bapak tidak punya keinginan untuk bertemu Bu Megawati? Kalau dengan Pak Prabowo kan sering,” kata Achmad, mengulang pertanyaannya kepada Jokowi.
Menurut Achmad, Jokowi kemudian menjawab bahwa dirinya tidak memiliki masalah dengan Megawati dan pertemuan keduanya kemungkinan akan terjadi pada waktu mendatang.
“Saya tidak ada masalah dengan Ibu Mega, dan suatu saat nanti mesti akan ketemu,” ujar Achmad menirukan jawaban Jokowi.
Tepis Dugaan Memiliki Motif Politik
Komite Etik PDIP disebut mencurigai adanya motif politik lain di balik kunjungan Achmad ke Solo. Salah satu dugaan yang muncul adalah kemungkinan Achmad berpindah ke Partai Solidaritas Indonesia atau PSI.
Achmad membantah dugaan tersebut. Ia menilai sikap partai terhadap kunjungannya ke Solo terlalu berlebihan. Menurut dia, sejumlah kader PDIP juga pernah berkunjung ke kediaman Jokowi di Solo, termasuk anggota DPR, kepala daerah, serta pengurus DPP.
Perbedaannya, kata Achmad, sebagian kader tersebut melakukan kunjungan secara tertutup. Sementara itu, ia memilih menyampaikan kunjungannya secara terbuka melalui unggahan di media sosial.
Achmad menjelaskan bahwa sikap terbuka tersebut berkaitan dengan prinsip yang ia pegang berdasarkan AD/ART PDIP. Ia menyebut partai berlandaskan Pancasila 1 Juni, Undang-Undang Dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Legawa atas Keputusan Pemecatan
Meski menyampaikan kritik terhadap keputusan partai, Achmad mengaku menerima pemecatan tersebut dengan lapang dada. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada PDIP karena pernah memberikan kesempatan kepadanya untuk berkontribusi dalam sejumlah agenda politik di Surabaya dan Jawa Timur.
Achmad menyebut dirinya pernah terlibat dalam upaya memenangkan pasangan Eri Cahyadi-Armuji pada Pilkada Surabaya selama dua periode. Ia juga menyatakan pernah ikut memenangkan Tri Rismaharini dalam Pilgub Jawa Timur di wilayah Surabaya.
Di tengah isu mengenai kemungkinan dirinya bergabung dengan PSI, Achmad memastikan belum menerima pinangan dari partai tersebut.
“Kalau saat ini DPP partai melihat langkah saya itu berat ke urusan partai, bukan urusan kebangsaan, ya monggo. Nanti biar waktu yang menguji,” ujar Achmad.
Isi Keputusan Pemecatan Achmad Hidayat
Pemecatan Achmad tertuang dalam Surat Keputusan DPP PDIP Nomor 105/KPTS/DPP/IX/2026. Surat tersebut ditandatangani Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto di Jakarta pada 4 September 2026.
Dalam surat keputusan itu, DPP PDIP mencantumkan sejumlah dugaan pelanggaran terhadap kode etik dan disiplin anggota partai. Dugaan tersebut antara lain penyalahgunaan wewenang, permintaan serta penerimaan sejumlah uang dengan alasan yang dinilai tidak dapat dibuktikan, dan tindakan intimidatif terhadap pengurus partai.
Selain itu, Achmad disebut membawa dokumen partai tanpa persetujuan pengurus. Surat tersebut juga menyatakan bahwa ia pernah menerima sanksi pemberhentian dari jabatan karena dianggap melakukan tindakan yang melanggar AD/ART partai.
Kesimpulan
Pemecatan Achmad Hidayat dari PDIP menjadi sorotan setelah ia melakukan kunjungan ke Solo dan mengusulkan pemulihan Joko Widodo sebagai kader partai. Achmad menegaskan bahwa kunjungannya tidak didasari motif politik untuk berpindah partai, sementara DPP PDIP menjadikan sejumlah dugaan pelanggaran etika dan disiplin sebagai dasar pemecatan.
Untuk sementara, Achmad menyatakan menerima keputusan tersebut dan menyerahkan penilaian kepada waktu. Perkembangan selanjutnya akan menentukan sikap politik Achmad sekaligus dampak keputusan ini terhadap dinamika internal PDIP.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment