Arab Saudi Berjanji Membalas Serangan Rudal dan Drone Houthi

Arab Saudi menyatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap serangan yang dilancarkan milisi Houthi dari Yaman. Pernyataan itu disampaikan setelah pangkalan udara King Khalid di Khamis Mushait, wilayah tenggara Saudi, menjadi sasaran serangan menggunakan drone dan rudal balistik.

Koalisi Saudi bersama pemerintah Yaman menegaskan bahwa serangan tersebut tidak akan dibiarkan. Dalam pernyataan resminya, Koalisi Saudi menyebut langkah tegas akan ditempuh untuk melindungi kedaulatan kerajaan sekaligus mencegah aksi bermusuhan dan ekstremis.

Koalisi Saudi Siapkan Tindakan Balasan

“Koalisi akan menangani serangan itu dengan tegas demi melindungi kedaulatan Kerajaan,” demikian keterangan Koalisi Saudi seperti dikutip AFP pada Selasa (15/9).

Koalisi juga menyatakan akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mencegah tindakan bermusuhan serta aksi ekstremis. Pernyataan tersebut disampaikan setelah serangan Houthi memicu ledakan besar di sekitar pangkalan udara King Khalid.

Seorang saksi mengaku mendengar suara ledakan dahsyat. Api juga disebut berkobar dalam waktu yang cukup lama setelah serangan berlangsung. Insiden itu meningkatkan ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi yang dalam beberapa waktu terakhir terlibat dalam aksi saling serang.

Serangan Houthi Melukai Warga dan Merusak Bangunan

Pada Selasa dini hari, Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara di enam wilayah. Koalisi Saudi kemudian mengonfirmasi adanya serangan drone di Khamis Mushait, Abha, dan Taif.

Serangan tersebut menimbulkan sejumlah kerusakan dan korban luka. Sebanyak 13 orang dilaporkan terluka. Selain itu, tujuh rumah serta dua kendaraan mengalami kerusakan akibat gempuran tersebut.

Houthi juga menyatakan bahwa Arab Saudi telah membalas serangan dengan meluncurkan 50 serangan. Namun, hingga laporan tersebut disampaikan, belum ada pernyataan resmi dari Riyadh yang mengonfirmasi klaim itu.

Delapan Personel Pemerintah Yaman Tewas

Selain menyerang wilayah Arab Saudi, Houthi dilaporkan menggempur pasukan pemerintah Yaman. Serangan itu menyebabkan delapan personel tewas.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa konflik antara Houthi, pemerintah Yaman, dan Arab Saudi masih berlangsung. Dalam beberapa waktu terakhir, sasaran serangan mencakup sejumlah infrastruktur penting, seperti bandara dan gudang senjata.

Konflik Berlangsung di Tengah Ketegangan Regional

Pertempuran antara pihak-pihak yang berseberangan itu terjadi di tengah perang antara Amerika Serikat dan Iran, terutama di kawasan Selat Hormuz. Kondisi tersebut turut menjadi latar bagi meningkatnya ketegangan di kawasan.

Houthi disebut sebagai milisi yang memperoleh dukungan dan pendanaan dari Iran. Namun, Teheran membantah keterlibatan dalam serangan yang dilakukan Houthi terhadap Arab Saudi.

Di sisi lain, Arab Saudi dikenal sebagai sekutu Amerika Serikat. Riyadh dan Houthi juga memiliki rekam jejak permusuhan yang telah berlangsung cukup lama. Saling serang di antara keduanya terus menyasar wilayah dan fasilitas strategis.

Ketegangan Saudi dan Houthi Berpotensi Berlanjut

Ancaman pembalasan dari Arab Saudi menunjukkan bahwa serangan rudal dan drone Houthi berpotensi memicu aksi militer lanjutan. Koalisi Saudi telah menyatakan kesiapannya untuk melindungi kedaulatan kerajaan dan mencegah serangan berikutnya.

Namun, klaim mengenai jumlah serangan balasan Saudi masih menunggu konfirmasi resmi dari Riyadh. Sementara itu, korban luka, kerusakan rumah, dan kehancuran kendaraan menjadi dampak langsung dari eskalasi terbaru.

Ke depan, ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi diperkirakan masih menjadi perhatian karena kedua pihak terus terlibat dalam aksi saling serang. Selama serangan terhadap infrastruktur dan pasukan masih berlangsung, potensi memburuknya situasi di kawasan tersebut tetap terbuka.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment