Kasus ISPA Melonjak di Kalimantan, WALHI Soroti Masker dan Layanan Kesehatan
Pemerintah membagikan masker kepada masyarakat sebagai respons atas meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah wilayah Kalimantan. Lonjakan penyakit tersebut dikaitkan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah daerah.
Namun, langkah pembagian masker itu mendapat sorotan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Organisasi tersebut menilai masker yang diterima masyarakat belum memenuhi standar perlindungan yang dibutuhkan untuk menghadapi paparan asap dengan tingkat konsentrasi udara berbahaya hingga sangat berbahaya.
WALHI Kritik Masker yang Dibagikan Pemerintah
Perwakilan WALHI Kalimantan Barat, Sri, mengatakan pembagian masker belum memberikan perlindungan maksimal kepada masyarakat. Menurut dia, ketika konsentrasi udara berada pada level berbahaya dan sangat berbahaya, masyarakat seharusnya memperoleh masker dengan kemampuan perlindungan yang sesuai.
“Pembagian masker yang dilakukan pemerintah tidak memenuhi standar. Misalnya, dengan konsentrasi udara yang berbahaya dan sangat berbahaya itu di atas 300, kemudian kita membagikan masker yang memang tidak standar seperti N95,” kata Sri pada Selasa (15/9).
Ia menegaskan, penggunaan masker yang tidak tepat dapat membuat masyarakat hanya terlindungi secara simbolis. Masker tersebut dinilai belum mampu memberikan perlindungan penuh dari ancaman asap karhutla yang berpotensi memperburuk gangguan pernapasan.
“Tidak berpengaruh, jadi orang hanya sekadar bermasker, tetapi secara perlindungan tidak tepat,” ujar Sri.
Kasus ISPA di Kalimantan Terus Meningkat
Kritik tersebut disampaikan di tengah meningkatnya laporan kasus ISPA di sejumlah provinsi di Kalimantan. Di Kalimantan Barat, misalnya, tercatat 165.727 kasus ISPA sepanjang Januari hingga 22 Agustus 2026.
Sri menyebut dampak kabut asap dirasakan oleh berbagai kelompok masyarakat. Lansia, anak-anak, dan balita termasuk kelompok yang disebut terdampak. Ia bahkan menyatakan bahwa hampir seluruh penduduk Kalimantan Barat terkena ISPA berdasarkan laporan yang disampaikan.
Kasus di Kalimantan Selatan
Di Kalimantan Selatan, jumlah kasus ISPA dilaporkan telah mencapai lebih dari 3.900 kasus. Data tersebut disampaikan oleh WALHI Kalimantan Selatan, yang juga menilai penanganan pemerintah daerah terhadap masyarakat terdampak belum berjalan secara maksimal.
Menurut Sri, persoalan tidak hanya berkaitan dengan upaya pencegahan melalui pembagian masker. Masyarakat yang mengalami ISPA juga disebut belum memperoleh dukungan pembiayaan kesehatan secara memadai.
“Pemerintah bahkan tidak menanggung biaya rumah sakit terhadap masyarakat yang terdampak ISPA di Kalimantan Selatan,” kata Sri.
Lonjakan Kasus di Kalimantan Tengah
Situasi serupa dilaporkan terjadi di Kalimantan Tengah. Berdasarkan laporan WALHI Kalimantan Tengah, kasus ISPA selama Agustus 2026 meningkat sebanyak 3.963 kasus.
Kota Palangka Raya tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni mencapai 17.061 kasus. Angka tersebut menunjukkan besarnya dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat di wilayah yang terdampak karhutla.
Pelayanan Puskesmas Dinilai Belum Maksimal
Selain menyoroti kualitas masker dan pembiayaan pengobatan, WALHI juga mengkritik pelayanan fasilitas kesehatan. Sri menyebut penanganan ISPA oleh pemerintah belum dilakukan secara komprehensif, salah satunya karena pelayanan posko kesehatan dan Puskesmas dinilai belum berjalan maksimal.
Ia mengatakan Puskesmas semestinya memberikan pelayanan selama 24 jam ketika terjadi kondisi darurat akibat kabut asap. Namun, berdasarkan pemantauannya, masih terdapat Puskesmas yang tutup pada akhir pekan meskipun sebelumnya pemerintah telah menganjurkan agar fasilitas tersebut siaga sepanjang waktu.
“Saya memantau di minggu yang lalu ketika pemerintah membuat anjuran Puskesmas itu siaga 24 jam, tetapi masih ada di akhir pekan Puskesmas yang seharusnya buka 24 jam tetapi tutup,” ujar Sri.
Ia juga mengaitkan penurunan jumlah data pelayanan pada situs Dinas Kesehatan Kalimantan Barat dengan tidak maksimalnya pelayanan di lapangan. Menurut Sri, berkurangnya data tersebut bukan semata-mata menunjukkan penurunan kasus, melainkan dapat berkaitan dengan layanan kesehatan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Kesimpulan
Meningkatnya kasus ISPA di Kalimantan akibat kabut asap karhutla menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya melalui pembagian masker. WALHI menilai jenis masker yang diberikan belum sesuai dengan kebutuhan masyarakat di tengah kondisi udara yang berbahaya.
Di sisi lain, tingginya jumlah kasus di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah juga disertai sorotan terhadap biaya pengobatan serta kesiapsiagaan Puskesmas. Ke depan, pemerintah perlu mengevaluasi kesesuaian perlindungan masker, memastikan akses layanan kesehatan berjalan maksimal, dan memperhatikan kebutuhan kelompok rentan yang terdampak ISPA.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment