Karhutla dan Kabut Asap, Sekolah di Kaltim Diliburkan Sementara dan Batam Terapkan BDR

JAKARTA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memutuskan untuk meliburkan sementara kegiatan belajar mengajar tatap muka sebagai dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebijakan tersebut diambil karena masih terdapat sisa asap di sejumlah wilayah, meskipun kondisi secara umum dinilai masih terkendali dan aman.

Selain Kaltim, kegiatan pembelajaran tatap muka juga dihentikan sementara di Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Di wilayah tersebut, sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh atau belajar dari rumah (BDR) setelah kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat akibat kiriman asap karhutla dari Sumatra dan Kalimantan.

Sekolah di Kaltim Diliburkan karena Sisa Asap Karhutla

Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud mengatakan, keputusan meliburkan sekolah diambil sebagai langkah pencegahan terhadap dampak asap karhutla. Meskipun situasi masih berada dalam kondisi aman, pemerintah tetap meminta anak-anak untuk tidak mengikuti pembelajaran tatap muka untuk sementara waktu.

“Tapi saat ini masih dalam kondisi yang aman. Tetapi anak-anak sekolah masih kita liburkan dan kita berikan masker untuk beraktivitas di luar,” kata Rudy seusai mengikuti rapat di Komisi II DPR, Selasa (15/9).

Rudy juga menyampaikan bahwa Kaltim tidak termasuk dalam wilayah dengan kondisi karhutla yang paling memprihatinkan. Menurut dia, sejumlah provinsi yang saat ini mendominasi kasus karhutla adalah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi.

“Ah, jadi itu yang paling besar. Kalau Kaltim insyaallah tidak,” ujar Rudy.

Program MBG Tetap Menjadi Prioritas

Di tengah penghentian sementara kegiatan belajar mengajar tatap muka, Rudy memastikan program makan bergizi gratis (MBG) tetap menjadi prioritas di seluruh wilayah Kalimantan Timur. Namun, ia mengaku belum mengetahui secara rinci teknis pelaksanaan program tersebut selama sekolah diliburkan.

“Kalau yang libur tentunya, saya nggak tahu persis teknisnya di lapangan kalau untuk MBG-nya, tapi untuk di seluruh Kalimantan Timur MBG tetap menjadi prioritas,” katanya.

Batam Terapkan Belajar dari Rumah

Kebijakan serupa diterapkan di Kota Batam, Kepulauan Riau. Pemerintah daerah mengubah kegiatan pembelajaran tatap muka menjadi belajar dari rumah bagi peserta didik tingkat PAUD, SD, dan SMP.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam Hendri Arulan mengatakan, kebijakan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Nomor 9 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Kegiatan Belajar dari Rumah. Surat edaran itu dibagikan kepada seluruh kepala satuan pendidikan di Kota Batam pada Selasa (15/9).

Penerapan BDR juga merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Wali Kota Batam Nomor 47 Tahun 2026 tentang Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan terhadap Kabut Asap di Wilayah Kota Batam.

“Hari ini kita edarkan surat ke setiap kepala satuan pendidikan mulai dari tingkat PAUD, SD, dan SMP se-Kota Batam. Besok baru kegiatan belajar dari rumah,” kata Hendri.

BDR Berlangsung hingga Kualitas Udara Membaik

Hendri menjelaskan, keputusan mengalihkan pembelajaran tatap muka ke BDR didasarkan pada indeks kualitas udara langsung atau AQI yang mencapai 154. Angka tersebut masuk dalam kategori tidak sehat.

Kegiatan belajar dari rumah mulai diberlakukan pada 16 September 2026 dan akan berlangsung sampai kualitas udara membaik serta dinyatakan aman. Dengan demikian, pemerintah belum menetapkan batas akhir pelaksanaan BDR karena pelaksanaannya masih menyesuaikan perkembangan kondisi udara.

“Untuk sampai kapan BDR dilakukan, kita melihat kualitas udara membaik dan dinyatakan aman,” ujar Hendri.

Peran Sekolah dan Orang Tua Selama BDR

Selama pembelajaran dari rumah berlangsung, kepala sekolah diminta menyusun skenario penugasan dan bahan ajar yang terstruktur. Materi pembelajaran juga harus disesuaikan dengan kondisi serta keterbatasan akses murid di wilayah masing-masing.

Kepala sekolah juga bertanggung jawab memastikan kehadiran dan aktivitas peserta didik tetap terdokumentasi dengan baik. Selain itu, mereka perlu melakukan supervisi, pemantauan, serta pelaporan secara berkala mengenai pelaksanaan BDR, kualitas udara, dan kesehatan warga sekolah kepada Dinas Pendidikan Kota Batam.

Orang tua murid turut diminta mendampingi anak selama mengikuti pembelajaran dari rumah. Mereka juga diimbau membatasi aktivitas anak di luar rumah untuk mengurangi risiko paparan kabut asap.

Selain membatasi kegiatan di luar rumah, keluarga diingatkan untuk menjaga pola hidup bersih dan sehat, mengonsumsi air putih yang cukup, serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah.

Kesimpulan

Peliburan sementara sekolah di Kaltim dan penerapan BDR di Batam menjadi langkah pemerintah untuk menjaga keberlangsungan pendidikan sekaligus melindungi peserta didik dari dampak kabut asap karhutla. Kaltim masih berada dalam kondisi aman dan terkendali, sementara Batam menerapkan BDR karena indeks kualitas udara telah masuk kategori tidak sehat.

Ke depan, pelaksanaan pembelajaran tatap muka di kedua wilayah akan bergantung pada perkembangan kualitas udara dan tingkat keamanan bagi warga sekolah. Selama kondisi belum dinyatakan membaik, sekolah, orang tua, dan pemerintah perlu menjalankan peran masing-masing agar proses belajar tetap berlangsung serta kesehatan anak-anak tetap terlindungi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment