Bandung Zoo Siapkan Mitigasi untuk Lindungi Satwa dari Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Bandung Zoo menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk melindungi satwa dari dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Upaya tersebut dilakukan menyusul laporan bahwa abu vulkanik dari erupsi gunung tersebut telah menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Lampung, Banten, dan Jawa Barat.

Mitigasi yang disiapkan Bandung Zoo meliputi penempatan satwa di kandang tertutup, pemasangan tirai atau plastik pada kandang tertentu, serta penyemprotan di area kandang dan kawasan kebun binatang. Penerapan langkah-langkah tersebut akan disesuaikan dengan kondisi sebaran abu vulkanik berdasarkan pemantauan pengurus satwa.

Satwa Ditempatkan di Kandang Tertutup

Salah satu langkah perlindungan yang disiapkan Bandung Zoo adalah menempatkan satwa di ruang tertutup atau area isolasi. Satwa yang biasanya berada di kandang peragaan dan memiliki kandang malam tidak akan dikeluarkan apabila kondisi abu vulkanik dinilai berpotensi mengganggu.

Pengurus Bandung Zoo, Rohmat, mengatakan satwa-satwa tersebut untuk sementara dapat berada di kamar tidur atau area holding. Kebutuhan makan dan minum satwa juga akan tetap dipenuhi di area tertutup tersebut.

“Mungkin ada beberapa satwa yang memang, untuk jenis satwa yang di kandang peragakan dan ada kandang malamnya, mungkin tidak dikeluarkan. Jadi mereka mungkin beberapa saat berada di kamar tidur atau di holding, plus makan dan minum juga di sana,” ujar Rohmat saat dihubungi pada Senin (7/9).

Tirai Disiapkan untuk Kandang Tanpa Ruang Tertutup

Selain memanfaatkan kandang malam, Bandung Zoo juga menyiapkan perlindungan bagi satwa yang berada di kandang tanpa ruang tertutup. Kandang-kandang tersebut dapat ditutupi menggunakan tirai maupun plastik apabila abu vulkanik telah mencapai ambang batas yang dianggap perlu diantisipasi.

Perlindungan untuk Satwa Burung

Langkah penutupan kandang secara khusus dipertimbangkan untuk jenis-jenis burung. Menurut Rohmat, kandang burung dapat ditutup dengan berbagai cara guna mengurangi risiko paparan abu vulkanik apabila kondisi di kawasan Bandung Zoo berubah.

“Kalau untuk jenis-jenis burung, mungkin kalau abu vulkaniknya sudah melewati ambang batas kita, mungkin akan kita tutup dengan berbagai upaya, bisa pakai tirai atau mungkin plastik,” katanya.

Penyemprotan Menjadi Bagian dari Mitigasi

Mitigasi lain yang disiapkan adalah penyemprotan pada kandang dan area Bandung Zoo. Namun, hingga Senin (7/9), penyemprotan tersebut belum dilakukan secara keseluruhan. Pengurus masih menjalankan langkah perlindungan dan melakukan penyemprotan pada beberapa kandang sesuai kebutuhan.

Rohmat menyebut kondisi satwa di Bandung Zoo saat ini masih relatif terlindungi dari paparan abu vulkanik. Keberadaan banyak pepohonan di kawasan kebun binatang dinilai membantu menyaring abu sebelum mencapai kandang satwa.

“Sampai saat ini untuk Bandung Zoo belum begitu terasa terkait paparan dari abu vulkanik. Karena di Bandung Zoo banyak pepohonan, mungkin masih banyak tersaring sama pepohonan,” kata Rohmat.

Ia menambahkan, sejumlah pohon di kawasan tersebut masih terlihat hijau dan belum menunjukkan adanya abu yang beterbangan. Meski demikian, pengurus tetap memantau kondisi lingkungan dan satwa secara berkala.

Sebaran Abu Vulkanik Mengarah ke Sejumlah Wilayah

Gunung Anak Krakatau diketahui mengalami erupsi sejak Jumat (4/9) malam. Pada Senin (7/9), sebaran abu vulkanik dilaporkan telah bergerak ke arah Jakarta, Lampung, hingga Jawa Barat.

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Senin pukul 04.00 WIB, abu vulkanik bergerak menjauhi puncak Gunung Anak Krakatau dan terdeteksi pada dua lapisan ketinggian dengan arah sebaran berbeda.

Pada lapisan rendah dengan ketinggian hingga 15.000 kaki atau sekitar 4,57 kilometer, abu bergerak dari arah tenggara hingga barat laut. Sebaran ini meliputi sebagian wilayah Jakarta, Banten, Lampung, Jawa Barat, dan wilayah di sekitarnya. BMKG menyebut abu pada lapisan tersebut berpotensi memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang.

Sementara itu, sebaran pada lapisan tinggi hingga 50.000 kaki atau sekitar 15,24 kilometer bergerak ke arah barat daya hingga barat. Wilayah yang tercakup antara lain Samudra Hindia di sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten.

Menurut BMKG, sebaran abu pada lapisan tinggi terutama berdampak terhadap penerbangan karena berada di jalur lintasan pesawat udara. Sebaran abu vulkanik pada Senin pagi itu juga diperkirakan terus meluas ke arah barat.

Mitigasi Menyesuaikan Hasil Pemantauan

Bandung Zoo akan menerapkan langkah mitigasi berdasarkan pantauan pengurus satwa terhadap kondisi kawasan. Apabila abu vulkanik mulai memenuhi area kebun binatang, perlindungan yang telah disiapkan akan dijalankan, termasuk menempatkan satwa di ruang tertutup, menutup kandang, dan melakukan penyemprotan.

Dengan pemantauan yang berkelanjutan, Bandung Zoo berupaya memastikan kondisi satwa tetap terlindungi di tengah potensi penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Langkah berikutnya akan ditentukan berdasarkan perubahan kondisi di lapangan dan seberapa jauh abu vulkanik mencapai kawasan tersebut.

Kesimpulan

Bandung Zoo menyiapkan berbagai mitigasi untuk melindungi satwa dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, mulai dari isolasi di kandang tertutup, pemasangan tirai atau plastik, hingga penyemprotan area kandang. Untuk saat ini, paparan abu di kawasan Bandung Zoo belum terasa signifikan karena banyaknya pepohonan yang membantu menyaring abu. Namun, pengurus tetap memantau situasi dan siap menerapkan langkah perlindungan apabila sebaran abu semakin meluas.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment