Cara Menyiapkan Dana Darurat untuk Menghadapi Risiko Bencana
Bencana dapat terjadi kapan saja dan tidak selalu bisa diprediksi. Selain mengancam keselamatan, bencana juga berpotensi menimbulkan tekanan finansial, mulai dari biaya perbaikan rumah dan kendaraan hingga kebutuhan kesehatan. Karena itu, menyiapkan dana darurat menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi keuangan tetap stabil ketika situasi tidak terduga terjadi.
Perencana keuangan menilai masyarakat tidak perlu menunggu kondisi finansial benar-benar ideal untuk mulai membentuk dana darurat. Kesadaran bahwa bencana dan kondisi darurat lainnya dapat terjadi kapan saja seharusnya menjadi dorongan untuk mulai menyisihkan sebagian penghasilan.
Mulai Dana Darurat Sedini Mungkin
Perencana Keuangan Andi Nugroho mengatakan waktu terbaik untuk mulai menyiapkan dana darurat adalah ketika seseorang menyadari bahwa risiko bencana juga dapat terjadi pada dirinya.
“Waktu yang paling tepat untuk memulainya adalah ketika kita mulai menyadari bahwa kondisi-kondisi seperti jawaban pertanyaan nomor satu itu bisa terjadi juga pada kita, maka kita mulai dari sekarang untuk menyiapkan dana darurat tersebut,” kata Andi.
Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia Dandy menambahkan, pemahaman mengenai pentingnya dana darurat harus segera diikuti tindakan nyata. Menurut dia, kesadaran saja tidak cukup apabila seseorang tidak mulai menyisihkan uang untuk membentuk dana tersebut.
Pilih Instrumen yang Aman dan Mudah Dicairkan
Dana darurat memiliki tujuan yang berbeda dari dana investasi. Investasi umumnya digunakan untuk mengejar keuntungan dalam jangka panjang, sedangkan dana darurat harus tersedia ketika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Oleh sebab itu, dana untuk menghadapi bencana sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang relatif rendah risiko dan mudah dicairkan. Andi menyebut beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan, antara lain rekening bank, deposito, logam mulia, serta reksa dana berbasis pasar uang atau pendapatan tetap.
Karakter rendah risiko dan likuid penting agar dana dapat segera digunakan ketika kondisi darurat terjadi. Dengan begitu, masyarakat tidak perlu khawatir nilai aset sedang mengalami penurunan akibat risiko investasi saat dana tersebut dibutuhkan.
Dandy menyarankan dana darurat ditempatkan pada instrumen yang paling likuid, seperti rekening bank. Uang tunai juga dapat disiapkan dalam jumlah tertentu. Namun, menyimpan terlalu banyak uang tunai memiliki risiko tersendiri.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menempatkan dana darurat pada instrumen berisiko tinggi seperti saham. Dana tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk mengejar keuntungan dari instrumen high risk karena tujuan utamanya adalah menjaga ketersediaan dana ketika terjadi keadaan mendesak.
Berapa Besaran Dana Darurat yang Ideal?
Kebutuhan dana darurat dapat berbeda-beda, tergantung pada kondisi keuangan setiap orang. Andi menyebut seseorang idealnya memiliki dana darurat minimal sebesar tiga kali penghasilan bulanan.
“Jadi idealnya kita memiliki dana darurat itu minimal sebesar 3x penghasilan bulanan kita,” ujar Andi.
Sementara itu, Dandy menggunakan acuan tiga kali pengeluaran bulanan. Perhitungan tersebut didasarkan pada kebutuhan rutin yang tetap harus dibayarkan apabila seseorang menghadapi kondisi darurat.
Kedua acuan tersebut dapat menjadi gambaran awal bagi masyarakat dalam menentukan target dana darurat. Namun, jumlah yang disiapkan tetap perlu disesuaikan dengan penghasilan, pengeluaran, serta kondisi masing-masing.
Asuransi sebagai Pelengkap Perlindungan Keuangan
Dana darurat tidak harus menjadi satu-satunya perlindungan keuangan ketika menghadapi bencana. Asuransi dapat digunakan sebagai pelengkap, terutama ketika kebutuhan yang muncul jauh lebih besar daripada tabungan yang tersedia.
Andi menyebut asuransi sebagai bentuk leverage. Dengan membayar premi yang relatif kecil, seseorang dapat memperoleh perlindungan dengan nilai pertanggungan yang lebih besar. Perlindungan tersebut dapat membantu menutup kesenjangan antara kebutuhan finansial dan dana darurat yang sudah tersedia.
Apabila kondisi keuangan masih mencukupi, masyarakat juga dapat mempertimbangkan asuransi rumah dan kendaraan bermotor. Namun, jenis perlindungan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi, tanggungan, serta risiko yang paling mungkin dihadapi.
Sesuaikan Produk Asuransi dengan Kebutuhan
Andi menyebut asuransi kesehatan dan asuransi jiwa sebagai dua jenis perlindungan yang dapat dipertimbangkan. Asuransi kesehatan dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang belum memiliki perlindungan kesehatan atau merasa belum cukup nyaman hanya mengandalkan BPJS Kesehatan.
Sementara itu, asuransi jiwa dapat dipertimbangkan untuk memberikan perlindungan kepada keluarga apabila pencari nafkah meninggal dunia. Tulang punggung keluarga atau generasi sandwich yang memiliki banyak tanggungan termasuk pihak yang dapat mempertimbangkan perlindungan tersebut.
Dandy mengingatkan masyarakat agar tidak membeli produk asuransi secara sembarangan. Kebutuhan dan tingkat urgensi perlindungan harus menjadi pertimbangan utama untuk menghindari kesalahan dalam memilih produk.
Masyarakat yang tidak memiliki asuransi dari kantor, atau merasa perlindungan dari perusahaan belum mencukupi, dapat mempertimbangkan asuransi kesehatan. Pilihan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial dan kebutuhan masing-masing.
Atur Porsi Penghasilan untuk Perlindungan
Besaran dana yang dialokasikan untuk asuransi dan instrumen dana darurat lainnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap orang. Andi menyebut porsi tersebut dapat dibagi secara seimbang, misalnya 50 persen berbanding 50 persen, atau diatur kembali berdasarkan kondisi finansial.
Dandy memberikan acuan berbeda dengan menyarankan masyarakat menyisihkan sekitar 10 persen hingga 20 persen dari pendapatan untuk kebutuhan asuransi. Namun, persentase tersebut bukan angka mutlak karena harus disesuaikan dengan kemampuan membayar premi dan tingkat perlindungan yang dibutuhkan.
Kesimpulan
Menyiapkan dana darurat untuk menghadapi risiko bencana sebaiknya dimulai sedini mungkin tanpa menunggu kondisi keuangan sempurna. Dana tersebut perlu ditempatkan pada instrumen rendah risiko dan mudah dicairkan, dengan target yang dapat mengacu pada tiga kali penghasilan atau pengeluaran bulanan.
Asuransi dapat menjadi perlindungan tambahan ketika dana darurat belum mencukupi kebutuhan akibat bencana. Ke depan, masyarakat perlu membangun kombinasi perlindungan yang sesuai dengan kemampuan, tanggungan, dan risiko masing-masing agar kondisi keuangan lebih siap menghadapi situasi tidak terduga.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment