Gunung Anak Krakatau Erupsi Delapan Kali, Radius Aman Tetap 3 Kilometer
Gunung Anak Krakatau terpantau mengalami delapan kali erupsi pada Selasa (8/9). Badan Geologi menyebut seluruh erupsi berlangsung dalam durasi singkat, yakni sekitar 10 hingga 15 detik. Abu vulkanik dari aktivitas tersebut juga tidak menyebar luas dan masih berada di sekitar kawasan gunung.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, rentetan erupsi tersebut terjadi dalam rentang waktu yang pendek. Berdasarkan pemantauan, sebaran abu vulkanik tidak melebihi radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Gunung Anak Krakatau Erupsi Delapan Kali
Lana menjelaskan bahwa delapan erupsi yang terjadi pada hari itu memiliki karakter singkat. Setiap erupsi hanya berlangsung selama beberapa detik sehingga abu vulkanik tidak menyebar secara luas.
“Hari ini kita melihat ada sebanyak delapan kali, tetapi dalam rentang yang sangat pendek. Durasi hanya 10 sampai 15 detik. Jadi tidak ada penyebaran abu vulkanik, penyebarannya hanya di sekitar gunung saja,” kata Lana saat diwawancarai wartawan, Selasa (8/9).
Menurut dia, radius sebaran erupsi tidak melebihi tiga kilometer. Karena itu, Badan Geologi masih menetapkan radius aman yang tidak boleh dimasuki masyarakat, yaitu sejauh tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Status Gunung Anak Krakatau Masih Siaga
Lana menuturkan, Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada level III dengan status “Siaga”. Aktivitas erupsi yang terjadi disebut tengah memasuki fase Strombolian, yang dinilai sesuai dengan karakter Gunung Anak Krakatau.
Fase tersebut ditandai oleh erupsi dengan amplitudo yang tidak terlalu besar, durasi yang tidak panjang, serta waktu kejadian yang hanya berlangsung beberapa detik. Kembalinya aktivitas Gunung Anak Krakatau ke fase tersebut dinilai menunjukkan karakter erupsinya kembali seperti sifat gunung api tersebut.
Erupsi Berlangsung Singkat
Dalam fase Strombolian, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak berlangsung dalam durasi panjang. Aktivitas vulkanik tetap terpantau, tetapi kekuatannya disebut tidak terlalu besar dan penyebaran material erupsi cenderung terbatas di sekitar gunung.
Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti ancaman abu vulkanik telah sepenuhnya hilang. Badan Geologi tetap menyatakan abu vulkanik sebagai salah satu potensi risiko bahaya yang perlu diwaspadai.
Ancaman Abu Vulkanik Dipengaruhi Arah Angin
Lana menjelaskan bahwa penyebaran abu vulkanik bergantung pada sejumlah faktor. Salah satunya adalah arah angin. Selain itu, penyebaran juga dipengaruhi oleh kolom udara atau plume serta intensitas erupsi yang terjadi.
Dengan demikian, meskipun erupsi saat ini berlangsung singkat dan berada dalam fase Strombolian, potensi penyebaran abu vulkanik tetap ada. Namun, apabila karakter erupsi tersebut masih bertahan, penyebaran abu diperkirakan tidak berlangsung panjang.
“Ancaman itu masih ada. Penyebaran abu vulkanik masih kita nyatakan sebagai potensi risiko bahaya. Semua tergantung pada arah angin, kolom udara atau plume, dan intensitas erupsi,” ujar Lana.
Pergerakan Seismik Menurun Sejak 5 September
Selain memantau aktivitas erupsi, Badan Geologi juga melakukan pengamatan terhadap kondisi seismik Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan hasil pemantauan, pergerakan seismik di gunung tersebut mengalami penurunan sejak 5 September.
Lana menyebut aktivitas vulkanik masih tetap terekam, tetapi tidak berada pada tingkat yang terlalu tinggi. Menurut dia, kondisi tersebut masih tergolong wajar karena berkaitan dengan pergerakan fluida di dalam tubuh gunung api.
Penurunan aktivitas seismik menjadi salah satu bagian dari pemantauan yang terus dilakukan terhadap Gunung Anak Krakatau. Namun, status gunung yang masih berada pada level III atau “Siaga” menunjukkan bahwa aktivitasnya tetap perlu diperhatikan.
Kesimpulan
Gunung Anak Krakatau mengalami delapan kali erupsi pada Selasa (8/9), dengan durasi masing-masing sekitar 10 hingga 15 detik. Abu vulkanik tidak menyebar luas dan masih berada dalam radius maksimal tiga kilometer dari pusat aktivitas. Kendati erupsi berlangsung singkat dan memasuki fase Strombolian, potensi bahaya abu vulkanik tetap ada karena dipengaruhi arah angin, kolom udara, serta intensitas erupsi.
Badan Geologi masih menetapkan radius aman tiga kilometer dan mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada level III atau “Siaga”. Pemantauan erupsi serta aktivitas seismik perlu terus dilakukan, terutama karena aktivitas vulkanik masih terekam meskipun pergerakan seismik dilaporkan menurun sejak 5 September.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment