Gunung Ili Lewotolok Erupsi 270 Kali, Dua Bandara di NTT Masih Ditutup

Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, terus menunjukkan peningkatan. Dalam periode pengamatan pada Selasa (15/9), gunung api tersebut tercatat mengalami 270 kali letusan yang disertai lontaran material pijar dan dentuman dengan intensitas lemah hingga sedang.

Erupsi yang berlangsung sepanjang hari itu tidak hanya menjadi perhatian warga di sekitar gunung. Sebaran abu vulkanik yang terbawa angin juga berdampak terhadap ruang udara di wilayah sekitar. Kondisi tersebut membuat dua bandara, yakni Bandara Wunopito Lembata dan Bandara Gewayantana Larantuka di Flores Timur, masih menutup layanan penerbangan sejak awal September.

Gunung Ili Lewotolok Meletus 270 Kali

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ili Lewotolok, Nanda Pramtriwans Joshua Game, menyampaikan bahwa aktivitas letusan berlangsung terus-menerus sejak pukul 00.00 hingga 24.00 WITA. Kolom asap yang muncul dari kawah teramati setinggi 100 hingga 200 meter dengan warna putih hingga kelabu.

Selain itu, pijar api terlihat jelas pada malam hari. Saat pengamatan berlangsung, kondisi cuaca berada pada kisaran cerah hingga berawan. Suhu tercatat antara 24 dan 32 derajat Celsius, sementara angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat daya serta barat.

“Teramati 270 kali letusan disertai lontaran material pijar serta dentuman dengan intensitas lemah hingga sedang. Saat erupsi, gunung tampak jelas hingga berkabut, dengan asap bertekanan lemah berwarna putih,” ujar Nanda dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (16/9).

Aktivitas Kegempaan Masih Terekam

Selain mencatat ratusan letusan, pengamatan kegempaan Gunung Ili Lewotolok juga menunjukkan sejumlah aktivitas lain. Data mencatat 127 kali embusan, dua kali guguran, tiga kali tremor nonharmonik, lima kali gempa vulkanik hybrid dan dangkal, serta satu kali gempa tektonik jauh.

Meskipun aktivitas erupsi meningkat, status Gunung Ili Lewotolok masih berada pada Level II atau waspada. Aktivitas gunung api dan perkembangan sebaran abu terus menjadi perhatian karena dapat memengaruhi kondisi di sekitar kawah serta ruang udara wilayah setempat.

Sebaran Abu Berdampak pada Penerbangan

Sebaran abu vulkanik bergerak ke arah barat dan barat daya. Arah pergerakan tersebut berdampak langsung pada ruang udara di sekitar Lembata dan wilayah lain di sekitarnya. Salah satu fasilitas penerbangan yang terdampak adalah Bandara Wunopito Lembata.

Kepala Bandara Wunopito Lembata, Sudarmana, mengonfirmasi bahwa pelayanan penerbangan di bandara tersebut telah dihentikan sejak 1 September. Hingga saat ini, belum terdapat tanda-tanda pembukaan kembali layanan penerbangan.

“Dampak erupsi Ili Lewotolok, pelayanan di bandara sudah tutup mulai 1 September. Sampai saat ini belum ada penerbangan. Kami mengimbau pengguna jasa terus memperbarui informasi resmi dari maskapai maupun pihak bandara,” kata Sudarmana.

Bandara Gewayantana Larantuka Dievaluasi Setiap Hari

Dampak sebaran abu vulkanik juga dirasakan di Kabupaten Flores Timur. Kepala Kantor UPBU Kelas III Gewayantana Larantuka, Puguh Lukito, menyatakan abu vulkanik turut menutupi ruang udara di wilayah Larantuka.

Keputusan untuk membuka kembali Bandara Gewayantana akan dievaluasi setiap hari dengan mempertimbangkan data ASHTAM Lewotolok. Jika abu vulkanik masih menutupi ruang udara Larantuka pada pagi hari, status penutupan bandara akan tetap diberlakukan.

“Menyesuaikan data ASHTAM Lewotolok, jika besok pagi abu masih menutupi ruang udara Larantuka, status tetap closed. Calon penumpang diimbau terus berkomunikasi dengan maskapai terkait jadwal,” tegas Puguh.

Penutupan Bandara Gewayantana berdampak terhadap 62 penumpang yang menggunakan rute Larantuka-Kupang maupun penerbangan dari Kupang menuju Larantuka. Para calon penumpang diminta terus memantau informasi dari maskapai dan pengelola bandara karena jadwal penerbangan bergantung pada kondisi ruang udara.

Kesimpulan

Peningkatan aktivitas Gunung Ili Lewotolok ditandai dengan 270 kali letusan, lontaran material pijar, dentuman, serta sejumlah aktivitas kegempaan lainnya. Sebaran abu vulkanik ke arah barat dan barat daya kemudian memengaruhi ruang udara hingga menyebabkan Bandara Wunopito Lembata dan Bandara Gewayantana Larantuka tetap ditutup.

Status Gunung Ili Lewotolok masih berada pada Level II atau waspada. Ke depan, kondisi penerbangan di wilayah Lembata dan Flores Timur akan bergantung pada perkembangan erupsi serta hasil evaluasi sebaran abu vulkanik. Pengguna jasa penerbangan perlu mengikuti informasi resmi dari pihak bandara dan maskapai terkait.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment