Hipertensi Jadi Penyakit Terbanyak Kedua di Wilayah Terdampak Gempa NTT

Hipertensi menjadi salah satu penyakit yang banyak dilaporkan di wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hipertensi menempati urutan kedua setelah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam daftar penyakit yang ditemukan pada periode 15–25 Agustus 2026.

Dalam rentang waktu tersebut, tercatat sebanyak 4.686 kasus hipertensi di wilayah terdampak. Tingginya laporan ini menarik perhatian karena bencana alam, termasuk gempa bumi, dapat berkaitan dengan perubahan tekanan darah pada warga yang mengalami dampak langsung maupun tidak langsung dari peristiwa tersebut.

Hipertensi Menjadi Kasus Terbanyak Kedua

Gempa bumi tidak serta-merta menyebabkan seseorang mengalami hipertensi hanya karena tubuh merasakan getaran. Namun, terdapat kaitan medis antara situasi bencana dan meningkatnya tekanan darah. Kondisi yang mengancam, rasa takut, serta tekanan psikologis setelah gempa dapat memicu respons tubuh yang berpengaruh terhadap sistem kardiovaskular.

Data Kemenkes menunjukkan bahwa hipertensi merupakan penyakit kedua yang paling banyak dilaporkan di wilayah terdampak gempa NTT, setelah ISPA. Selain kedua penyakit tersebut, sejumlah keluhan dan penyakit lain juga tercatat, antara lain myalgia, trauma, diare atau gastroenteritis akut, gastritis, dispepsia, diabetes, penyakit kulit, serta low back pain.

Studi Menunjukkan Tekanan Darah Dapat Meningkat Setelah Gempa

Hubungan antara gempa dan peningkatan tekanan darah telah diteliti dalam sejumlah studi. Salah satunya dipublikasikan dalam American Journal of Hypertension. Penelitian tersebut melibatkan 221 pasien hipertensi setelah gempa Hanshin-Awaji di Jepang pada 1995.

Hasil penelitian menunjukkan tekanan darah pasien meningkat secara signifikan dalam beberapa pekan setelah gempa. Pada kelompok yang tinggal di wilayah dengan dampak paling berat, peningkatan tekanan darah mencapai puncaknya pada minggu pertama, yakni sekitar 6,7 mmHg. Setelah itu, tekanan darah perlahan kembali ke kondisi awal dalam waktu sekitar enam minggu.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, tekanan darah normal berada di angka 120/80 mmHg. Dengan adanya peningkatan sistolik sekitar 6,7 mmHg, tekanan darah dapat berada di kisaran 127 mmHg. Meski terlihat tidak terlalu besar, perubahan tersebut menunjukkan adanya respons tubuh setelah mengalami bencana.

Respons Tubuh Dapat Terjadi Sangat Cepat

Penelitian lain terhadap 16 pasien hipertensi yang tinggal dalam radius 50 kilometer dari episentrum gempa menemukan adanya peningkatan tekanan darah sekitar 11/6 mmHg pada hari terjadinya gempa. Tekanan darah pasien tetap berada pada tingkat yang lebih tinggi selama kurang lebih satu minggu, kemudian berangsur kembali ke kondisi awal dalam waktu sekitar empat minggu.

Studi tersebut memperlihatkan bahwa respons tubuh terhadap gempa dapat muncul dengan cepat. Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Hypertension Research. Penelitian itu menggunakan metode ambulatory blood pressure monitoring untuk mengukur tekanan darah 11 pasien hipertensi atau orang yang dicurigai mengalami hipertensi.

Pengukuran pertama dilakukan rata-rata hanya 14 menit setelah gempa. Hasilnya, tekanan darah meningkat dengan cepat dan tetap berada pada tingkat lebih tinggi selama sekitar enam jam. Temuan ini menunjukkan bahwa reaksi kardiovaskular dapat muncul dalam waktu singkat setelah seseorang mengalami peristiwa yang menakutkan atau mengancam.

Keterbatasan Obat Menjadi Tantangan Saat Bencana

Selain respons tubuh terhadap tekanan dan ketakutan, warga yang telah memiliki hipertensi juga menghadapi persoalan terkait pengobatan. Kondisi darurat akibat bencana dapat membuat seseorang kesulitan memperoleh obat atau tidak dapat mengonsumsinya secara rutin.

Gangguan terhadap rutinitas pengobatan tersebut menjadi hal penting dalam situasi bencana. Karena itu, tingginya laporan hipertensi di wilayah terdampak tidak hanya berkaitan dengan perubahan tekanan darah setelah gempa, tetapi juga dengan tantangan memperoleh perawatan dan obat selama masa darurat.

Rangkaian Gempa di Wilayah Flores

Gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026. Hingga Rabu, 26 Agustus 2026, tercatat sebanyak 7.492 gempa susulan. Gempa susulan terbesar memiliki kekuatan magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil tercatat magnitudo 1,0. Dari jumlah tersebut, sebanyak 33 gempa susulan memiliki magnitudo di atas 5.

Kesimpulan

Hipertensi tercatat sebagai penyakit kedua yang paling banyak dilaporkan di wilayah terdampak gempa NTT, dengan 4.686 kasus pada 15–25 Agustus 2026. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa gempa dapat memicu peningkatan tekanan darah dalam waktu singkat, terutama melalui respons tubuh terhadap rasa takut, ancaman, dan tekanan akibat bencana.

Di sisi lain, keterbatasan akses terhadap obat dapat menjadi tantangan tambahan bagi warga yang telah memiliki hipertensi. Dengan masih berlangsungnya gempa susulan di wilayah Flores, pemantauan kondisi kesehatan dan keberlanjutan pengobatan menjadi bagian penting dalam penanganan dampak kesehatan setelah bencana.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment