Hotspot Karhutla di Kalimantan dan Sumatera Turun Menjadi 567 Titik

Jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau di wilayah Kalimantan dan Sumatera mengalami penurunan. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi), jumlah hotspot berkurang 121 titik sehingga menjadi 567 titik pada Minggu (13/9).

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Ristianto Pribadi, mengatakan penurunan paling signifikan terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Meski demikian, peningkatan titik api masih tercatat di sejumlah wilayah, terutama Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan.

Hotspot Meningkat di Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan

Ristianto menjelaskan, Kalimantan Barat mengalami penambahan 40 titik api. Sementara itu, Sumatera Selatan mencatat peningkatan sebanyak 41 titik api. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena memerlukan penguatan pemantauan dan penanganan di lapangan.

Menurutnya, peningkatan hotspot di kedua wilayah tersebut ditindaklanjuti melalui penguatan patroli, pemeriksaan lapangan atau groundcheck, serta operasi pemadaman. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan titik panas dapat segera diverifikasi dan ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Di sisi lain, tidak ditemukan titik api di Riau dan Jambi berdasarkan data yang disampaikan. Pemerintah tetap mengerahkan sumber daya berdasarkan perkembangan hotspot, hasil verifikasi lapangan, kondisi kebakaran, serta faktor meteorologis.

Pengendalian Karhutla Dilakukan Melalui Berbagai Operasi

Kemenhut bersama tim gabungan terus memperkuat pengendalian karhutla melalui sejumlah metode. Operasi tersebut mencakup penanganan di darat, penerbangan patroli udara, pemadaman menggunakan water bombing, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

OMC masih dilakukan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sebagai bagian dari strategi pencegahan dan pengendalian kebakaran. Di Kalimantan Barat, OMC dilaksanakan pada periode 5 hingga 14 September dengan total sembilan sortie penerbangan. Dalam operasi itu, petugas menggunakan bahan semai berupa 7.200 kilogram natrium klorida atau NaCl.

OMC di Kalimantan Barat

Penyemaian awan di Kalimantan Barat menyasar sejumlah wilayah, yakni Mempawah, Singkawang, Bengkayang, Landak, Kubu Raya, Sanggau, Sekadau, Sintang, Ketapang, dan Kayong Utara.

Pelaksanaan OMC tersebut diperkirakan menghasilkan volume air hujan sekitar 87,9 juta meter kubik. Namun, perhitungan peningkatan curah hujan secara keseluruhan baru akan dilakukan setelah rangkaian operasi selesai.

OMC di Kalimantan Tengah

Sementara itu, OMC di Kalimantan Tengah dilaksanakan pada 6 hingga 15 September 2026. Operasi tersebut mencakup tujuh sortie penerbangan dengan penggunaan bahan semai sebanyak 5.600 kilogram NaCl.

Wilayah yang menjadi sasaran penyemaian meliputi sekitar Kapuas, Palangka Raya, Barito Selatan, Barito Utara, Barito Timur, dan Pulang Pisau. Hujan yang dihasilkan dari pelaksanaan OMC disebut membantu membasahi lahan dan mendukung tim pemadaman yang bekerja di lapangan.

53 Armada Udara Disiagakan

Untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas, pemerintah menyiagakan 53 unit armada udara. Sebanyak 34 armada digunakan untuk operasi water bombing, sedangkan 19 armada lainnya dimanfaatkan untuk patroli udara dan mendukung pelaksanaan OMC.

Kapasitas operasi udara juga diperkuat melalui dukungan Pemerintah Jepang. Tiga helikopter CH-47 Chinook telah tiba di Kalimantan Barat dan dipersiapkan untuk membantu operasi water bombing. Sebelum digunakan, seluruh helikopter tersebut harus melalui tahapan persiapan teknis dan pemeriksaan keselamatan penerbangan.

Penggunaan armada dan sumber daya dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan perkembangan hotspot, kondisi kebakaran, hasil pengecekan di lapangan, serta keadaan cuaca. Prioritas utama pemerintah adalah mencegah api meluas dan mempercepat penanganan di lokasi yang masih aktif.

Pemadaman di Lahan Gambut Harus Berkelanjutan

Ristianto mengingatkan bahwa penanganan kebakaran di ekosistem gambut membutuhkan upaya berkelanjutan. Pemadaman, pembasahan, dan pendinginan harus terus dilakukan karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah.

Kondisi tersebut membuat penanganan tidak berhenti setelah api terlihat padam. Tim di lapangan tetap perlu memastikan area terdampak memperoleh pembasahan dan pendinginan yang memadai agar bara tidak kembali memicu kebakaran.

Pemerintah Minta Pencegahan Dilakukan Sejak Dini

Penguatan operasi pengendalian karhutla sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar seluruh jajaran pemerintah bertindak sedini mungkin terhadap setiap hotspot. Pemerintah diminta tidak menunggu hingga titik panas berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

Selain penanganan melalui patroli dan operasi udara, langkah pencegahan juga diarahkan pada pembasahan lahan serta penyediaan sumber air di daerah rawan kebakaran. Strategi tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi risiko meluasnya api, terutama di wilayah yang memiliki potensi karhutla.

Kesimpulan

Penurunan jumlah hotspot di Kalimantan dan Sumatera menjadi perkembangan positif dalam pengendalian karhutla. Namun, peningkatan titik api di Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan menunjukkan bahwa kewaspadaan tetap harus dipertahankan. Pemerintah bersama tim gabungan masih memperkuat patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman darat, water bombing, patroli udara, serta OMC.

Ke depan, keberhasilan pengendalian karhutla akan bergantung pada kecepatan respons terhadap setiap hotspot, kesinambungan pembasahan di lahan gambut, kesiapan armada, dan partisipasi masyarakat. Kemenhut kembali mengimbau masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta segera melapor apabila melihat asap, titik api, atau aktivitas pembakaran agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment