Kasus ISPA di Kotawaringin Barat Meningkat, 515 Kasus Tercatat dalam Sepekan akibat Asap Karhutla
Kotawaringin Barat menghadapi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) seiring asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah. Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat mencatat sebanyak 515 kasus ISPA dalam satu pekan berdasarkan pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
Angka tersebut tercatat pada minggu ke-32. Peningkatan ini menjadi perhatian karena muncul setelah tren kasus ISPA menunjukkan kenaikan dalam beberapa pekan sebelumnya. Dinas Kesehatan Kobar pun terus memantau perkembangan kasus untuk melihat pola persebaran berdasarkan wilayah layanan kesehatan dan kelompok umur.
Kasus ISPA Meningkat Sejak Minggu ke-28
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kotawaringin Barat, Jhonferi Sidabalok, mengatakan kasus ISPA memperlihatkan pola fluktuatif. Namun, peningkatan cukup nyata terlihat sejak minggu ke-28 hingga minggu ke-32.
Menurut Jhonferi, sebanyak 515 kasus ISPA tercatat hanya dalam satu pekan pada minggu ke-32. Kondisi tersebut terjadi ketika asap karhutla masih mengepung sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah.
“Tren kasus ISPA menunjukkan pola fluktuatif dengan peningkatan yang cukup nyata pada minggu ke-28 sampai minggu ke-32. Dinas Kesehatan mencatat sekitar 515 kasus ISPA hanya dalam satu pekan,” kata Jhonferi.
Peningkatan yang berlangsung selama beberapa pekan membuat pengawasan terhadap kasus ISPA perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pemantauan melalui SKDR digunakan untuk mendeteksi perubahan situasi kesehatan secara lebih dini sekaligus melihat perkembangan kasus dari waktu ke waktu.
Puskesmas Sungai Rangit Catat Laporan Tertinggi
Jika dilihat berdasarkan wilayah layanan kesehatan, jumlah laporan kasus ISPA tidak tersebar secara merata. Puskesmas Sungai Rangit tercatat sebagai wilayah dengan jumlah laporan tertinggi, yakni 1.933 kasus atau 16,43 persen.
Rincian Kasus Berdasarkan Wilayah Layanan
Setelah Puskesmas Sungai Rangit, laporan kasus tertinggi berikutnya berasal dari Puskesmas Madurejo dengan 1.169 kasus atau 9,94 persen. Puskesmas Kumai berada di urutan berikutnya dengan 1.152 kasus atau 9,79 persen.
Sementara itu, Puskesmas Karang Mulya mencatat 914 kasus dan Puskesmas Mendawai sebanyak 905 kasus. Data tersebut menjadi bagian dari pemantauan Dinas Kesehatan Kobar dalam melihat persebaran ISPA di berbagai wilayah pelayanan kesehatan.
Perbedaan jumlah laporan antarwilayah menunjukkan pentingnya analisis yang lebih terperinci. Dinas Kesehatan Kobar menilai data tidak cukup hanya dilihat secara keseluruhan, tetapi juga perlu dikaji berdasarkan wilayah dan kelompok umur.
Analisis Kelompok Umur dan Persebaran Kasus
Analisis berdasarkan wilayah diperlukan untuk mengetahui daerah yang mencatat laporan kasus lebih tinggi. Sementara itu, pemetaan berdasarkan kelompok umur dapat membantu mengidentifikasi kelompok masyarakat yang paling terdampak oleh peningkatan ISPA di tengah kondisi asap karhutla.
Dinas Kesehatan Kobar terus memberikan perhatian terhadap pola kasus yang berkembang sejak minggu ke-28 hingga minggu ke-32. Pengamatan secara berkala menjadi penting karena jumlah kasus tercatat mengalami perubahan dari satu pekan ke pekan berikutnya.
Data melalui SKDR juga menjadi dasar untuk melihat perkembangan situasi ISPA di Kotawaringin Barat. Dengan pemantauan tersebut, perubahan tren dapat diketahui lebih cepat, terutama ketika kasus menunjukkan peningkatan seperti yang terjadi pada minggu ke-32.
Kesimpulan
Kasus ISPA di Kotawaringin Barat meningkat di tengah asap karhutla yang masih mengepung sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Dinas Kesehatan Kobar mencatat 515 kasus dalam satu pekan pada minggu ke-32, setelah tren peningkatan terlihat sejak minggu ke-28.
Puskesmas Sungai Rangit mencatat jumlah laporan tertinggi dengan 1.933 kasus, disusul Puskesmas Madurejo, Puskesmas Kumai, Puskesmas Karang Mulya, dan Puskesmas Mendawai. Ke depan, pemantauan berdasarkan wilayah serta kelompok umur perlu terus dilakukan agar pola persebaran dan kelompok masyarakat yang paling terdampak dapat diketahui secara lebih jelas.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment