Keluarga Korban Gempa NTT Tinggal di Bekas Kandang Babi, Rumah Hasil Merantau Rata dengan Tanah
Air mata Seriani Wati Mengo tak terbendung ketika menceritakan kondisi keluarganya setelah gempa melanda Nusa Tenggara Timur (NTT). Rumah yang dibangun bersama suaminya melalui perjuangan panjang selama satu dekade kini rusak berat dan tidak dapat lagi ditempati.
Seriani bersama suaminya, Siprianus Baeng, serta tiga anak mereka terpaksa mencari tempat berlindung seadanya. Warga Kampung Nara, Dusun Wancang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, itu kini menempati bekas kandang babi yang telah diperbaiki secara sederhana.
Tinggal di Bekas Kandang Babi
Bangunan sempit yang sebelumnya digunakan untuk memelihara babi tersebut kini menjadi tempat tinggal bagi keluarga Seriani. Tidak ada pilihan lain setelah rumah mereka mengalami kerusakan berat akibat gempa.
“Sebelumnya ini kandang babi, sekarang kami jadikan tempat tinggal. Rumah kami rusak berat, tak ada lagi tempat lain,” ungkap Seriani kepada CNNIndonesia.com, Senin (31/8).
Keluarga itu sempat tinggal di posko pengungsian. Namun, kondisi posko yang masih sangat darurat membuat mereka merasa tidak nyaman dan khawatir. Debu, ancaman hujan, serta kondisi tempat yang dinilai belum layak huni menjadi alasan keluarga tersebut kembali ke pekarangan rumah.
Setelah memperbaiki kandang babi seadanya, Seriani, suami, dan tiga anaknya memilih tinggal di sana. Bagi mereka, bangunan tersebut menjadi satu-satunya tempat untuk berteduh di tengah kondisi rumah yang telah runtuh.
Kebutuhan Pokok dan Pendidikan Anak Terancam
Musibah gempa tidak hanya menghilangkan tempat tinggal keluarga Seriani. Aktivitas mereka sebagai petani dan penenun juga terganggu sehingga tidak dapat berjalan secara normal. Padahal, kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi setiap hari.
Persediaan beras bantuan pemerintah yang sebelumnya diterima kini hanya tersisa sekitar tiga kilogram. Keterbatasan tersebut membuat Seriani semakin cemas karena keluarganya membutuhkan makanan, obat-obatan, dan air bersih.
“Beras sisa bantuan tinggal tiga kilo. Kami tak bisa bekerja, padahal butuh makan. Kami butuh beras, obat-obatan, air bersih, belum lagi biaya sekolah anak-anak,” kata Seriani.
Masa Depan Tiga Anak dalam Ketidakpastian
Selain persoalan kebutuhan sehari-hari, Seriani juga memikirkan keberlanjutan pendidikan ketiga anaknya. Anak pertama saat ini duduk di kelas III SMA, anak kedua berada di kelas II SMP, sedangkan anak bungsu berusia enam tahun.
Kerusakan rumah dan terhentinya aktivitas pekerjaan membuat biaya sekolah menjadi beban tambahan bagi keluarga tersebut. Seriani mengaku mulai memikirkan cara agar anak-anaknya tetap dapat bersekolah ketika tempat tinggal mereka sendiri sudah tidak ada.
“Kami sudah berpikir, bagaimana cara menyekolahkan anak kalau rumah saja sudah tak ada?” ujarnya.
Rumah Dibangun dari Hasil Merantau
Rumah yang hancur akibat gempa bukan sekadar bangunan bagi keluarga Seriani. Rumah tersebut merupakan hasil perjuangan panjang selama merantau ke Kalimantan. Selama sepuluh tahun, Seriani dan suaminya menabung sedikit demi sedikit untuk membangun tempat tinggal di kampung halaman.
Harapan yang dibangun melalui kerja keras selama bertahun-tahun itu musnah dalam waktu singkat ketika gempa terjadi. Kini, keluarga tersebut harus menjalani kehidupan di bekas kandang babi dan kandang ayam di sekitar rumah mereka yang rusak.
“Sepuluh tahun kami merantau ke Kalimantan hanya untuk bangun rumah ini. Tapi sekejap gempa datang, semuanya hancur. Yang paling sedih, sekarang kami tinggal di kandang babi dan kandang ayam,” tutur Seriani sambil terisak.
Berharap Bantuan Pemerintah
Di tengah keterbatasan, keluarga Seriani masih menyimpan harapan agar pemerintah melihat langsung kondisi mereka. Bantuan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan memperbaiki rumah sangat diharapkan agar keluarganya dapat kembali hidup dengan lebih layak.
Seriani berharap pemerintah memberikan bantuan untuk merenovasi rumah yang rusak berat. Menurutnya, dukungan tersebut akan membantu keluarganya keluar dari kondisi darurat sekaligus memberi kepastian tempat tinggal bagi tiga anaknya.
Musibah yang dialami keluarga Seriani menggambarkan beratnya dampak gempa bagi warga yang kehilangan rumah dan sumber penghasilan. Ke depan, perhatian terhadap kebutuhan hunian, pangan, kesehatan, air bersih, serta pendidikan menjadi hal penting agar keluarga terdampak dapat kembali menjalani kehidupan secara bertahap.
Kesimpulan
Keluarga Seriani Wati Mengo kini bertahan di bekas kandang babi setelah rumah yang dibangun dari hasil merantau selama sepuluh tahun hancur akibat gempa di NTT. Keterbatasan pangan, terganggunya pekerjaan, serta ancaman terhentinya pendidikan tiga anak menjadi persoalan yang harus mereka hadapi bersamaan.
Harapan keluarga tersebut kini tertuju pada bantuan pemerintah untuk memperbaiki rumah dan memenuhi kebutuhan dasar. Dukungan yang tepat diharapkan dapat membantu mereka bangkit dari kondisi darurat dan memperoleh kembali tempat tinggal yang layak.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment