China Bantah Proyek Hydropower Picu Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-Tibet
Beijing membantah tuduhan bahwa proyek hydropower raksasa China menjadi penyebab banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet. Kementerian Luar Negeri China menyatakan bencana tersebut dipicu oleh faktor alam, yakni runtuhnya gletser di dataran tinggi Nepal yang kemudian menyebabkan tanah longsor dan banjir bandang.
Pernyataan itu disampaikan saat spekulasi mengenai penyebab bencana ramai dibahas di media sosial. Sejumlah warganet mengaitkan banjir bandang yang menewaskan nyaris seribu orang di kawasan Nepal-Tibet dengan proyek pembangkit listrik tenaga air China yang berada di bagian hilir Sungai Yarlung Tsangpo, Tibet.
Kemlu China Sebut Bencana Dipicu Runtuhnya Gletser
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan para ahli dan lembaga resmi dari China serta Nepal telah menyimpulkan bahwa bencana tersebut bermula dari runtuhnya gletser di dataran tinggi Nepal. Peristiwa itu kemudian memicu tanah longsor dan banjir bandang di wilayah terdampak.
Guo dengan tegas menolak tuduhan yang mengaitkan proyek China dengan bencana tersebut. Ia menyebut tuduhan itu tidak memiliki dasar dan menegaskan bahwa China turut membantu penanganan musibah di kawasan perbatasan.
“Pemerintah China memberikan bantuan tunai darurat dan bantuan kemanusiaan kepada Nepal, dan 50 ton pertama bantuan bencana telah dikirim ke Kathmandu,” kata Guo dalam konferensi pers rutin pada Senin, 31 Agustus, seperti dikutip CGTN.
China Kirim Bantuan dan Tim Penyelamat
Selain menyalurkan bantuan kemanusiaan, China juga mengirimkan dua tim ahli penyelamat terowongan ke daerah terdampak di Nepal. Tim tersebut ditugaskan untuk membantu proses penanganan bencana di wilayah yang mengalami dampak banjir bandang.
Menurut Guo, Beijing juga telah membagikan sejumlah informasi penting kepada Nepal. Informasi itu mencakup citra, data satelit, serta data hidrologi dari daerah yang terdampak bencana.
China turut menyampaikan peringatan dini terkait keberadaan danau penghalang di wilayah hulu. Informasi tersebut disebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk mendukung penanganan situasi di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet.
Spekulasi soal Proyek Hydropower China
Sebelum bantahan dari Kemlu China disampaikan, media sosial ramai dengan spekulasi yang menghubungkan bencana tersebut dengan proyek hydropower raksasa Beijing. Proyek itu dibangun di bagian hilir Sungai Yarlung Tsangpo, Tibet.
Rencana pembangunan proyek tersebut mencakup lima pembangkit listrik tenaga air yang akan beroperasi secara berantai atau cascade. Konstruksinya diketahui dimulai pada Juli 2025.
Letak proyek di kawasan hulu dan hilir sungai serta skala pembangunannya menjadi alasan munculnya dugaan di media sosial. Namun, pemerintah China menegaskan bahwa proyek tersebut bukan penyebab banjir bandang yang terjadi.
Perdebatan tentang Dampak Aktivitas di Hulu
Brahma Chellaney, ahli geostrategi dan kolumnis asal India, juga menyatakan bahwa pemicu utama banjir bandang tersebut bersifat alamiah dan bukan disebabkan oleh proyek China.
Meski demikian, Chellaney memiliki pandangan berbeda mengenai dampak aktivitas China di kawasan hulu. Ia berpendapat bahwa modifikasi hidrologi serta jejak infrastruktur di sepanjang sisi perbatasan Tibet dapat memperparah musibah dan menimbulkan dampak berantai di wilayah hilir.
“Dengan kata lain, tindakan China di hulu tidak menyebabkan longsor gletser tetapi berkontribusi pada tingkat keparahan bencana dan dampak berantai di hilir,” ujar Chellaney dalam unggahan di media sosial, seperti dikutip South China Morning Post.
Kesimpulan
Kemlu China menegaskan bahwa banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet disebabkan oleh runtuhnya gletser di dataran tinggi Nepal, yang kemudian memicu tanah longsor dan banjir bandang. Beijing membantah tuduhan bahwa proyek hydropower menjadi penyebab langsung bencana tersebut.
Di sisi lain, pernyataan mengenai kemungkinan pengaruh aktivitas di kawasan hulu menunjukkan bahwa pembahasan tentang bencana ini tidak hanya berkaitan dengan faktor alam, tetapi juga dengan dampak infrastruktur dan modifikasi hidrologi. Ke depan, informasi dari para ahli, data hidrologi, citra satelit, serta koordinasi China dan Nepal akan menjadi bagian penting dalam memahami penyebab dan tingkat keparahan bencana secara lebih menyeluruh.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment