Mentan Respons Proyeksi Produksi Sawit Turun 3 Juta Ton akibat El Nino
JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merespons proyeksi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengenai potensi penurunan produksi minyak sawit Indonesia hingga 3 juta ton pada 2027 akibat dampak El Nino. Menurut Amran, cuaca ekstrem memang berpotensi memengaruhi produksi sawit, tetapi pemerintah berharap dampaknya tidak terlalu besar.
Amran menyampaikan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mempertahankan produktivitas perkebunan sawit. Upaya tersebut mencakup pemastian ketersediaan pupuk, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama, serta penanganan lahan yang terdampak kekeringan.
Amran Harap Dampak El Nino terhadap Sawit Tidak Besar
Amran mengatakan pengaruh El Nino terhadap produksi sawit kemungkinan tetap ada. Namun, ia berharap kondisi tersebut tidak menyebabkan penurunan produksi dalam skala besar.
“Kalau sawit mudah-mudahan tidak dampaknya. Mungkin ada pengaruhnya tapi mudah-mudahan tidak besar,” kata Amran di Karawang, Jawa Barat, Senin (31/8).
Untuk menjaga produktivitas tanaman, pemerintah berupaya memastikan pupuk tersedia dan disalurkan tepat waktu. Selain itu, pemeliharaan kebun serta pengendalian hama juga menjadi bagian dari langkah antisipasi terhadap potensi gangguan produksi.
“Upaya kita adalah tentu jangan sampai kekurangan pupuk. Pupuknya harus tepat waktu. Kemudian pemeliharaannya, kemudian hama, kemudian dampak kekeringan,” ujar Amran.
Pengairan Jadi Salah Satu Opsi untuk Tanaman Terdampak Kekeringan
Amran menjelaskan, tanaman sawit yang mengalami kekeringan dapat memperoleh pengairan apabila kondisi dan ketersediaan sumber air memungkinkan. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kondisi tanaman di tengah perubahan cuaca.
Ia juga menyebut produksi sawit Indonesia sebelumnya masih menunjukkan peningkatan. Amran mencontohkan, volume ekspor crude palm oil (CPO) dan produk sawit yang telah diolah setengah jadi meningkat dari 26 juta ton menjadi 32 juta ton.
“Karena CPO kita tahun lalu kan meningkat kan dari ekspor 26 (juta ton) menjadi 32 juta ton. Dengan seluruhnya ya, yang sudah diolah setengah jadi dan yang diekspor langsung,” kata Amran.
Pemerintah Tangani Lahan Pertanian yang Mengalami Kekeringan
Selain membahas perkebunan sawit, Amran menyampaikan kondisi kekeringan pada lahan pertanian secara umum. Menurut dia, luas lahan yang terdampak kekeringan masih relatif kecil dibandingkan total luas tanam nasional.
Berdasarkan laporan terakhir, sekitar 30 ribu hektare lahan mengalami kekeringan. Angka tersebut dibandingkan dengan total luas tanam nasional yang mencapai sekitar 11 juta hektare.
Amran menyatakan pemerintah telah menangani lahan yang terdampak kekeringan. Pemerintah juga berupaya mengajak pemilik atau pengelola lahan yang belum ditanami untuk kembali melakukan penanaman, terutama apabila lahan tersebut memiliki potensi sumber air.
“Kita sudah atasi. Dan yang menarik, di luar dari kekeringan, yang tidak tanam kita ajak tanam,” ujarnya.
Salah satu upaya yang disiapkan adalah pemasangan pompa pada lahan yang belum ditanami tetapi memiliki akses atau potensi sumber air. Dengan cara tersebut, lahan yang sebelumnya belum produktif diharapkan dapat kembali dimanfaatkan.
“30 ribu (hektare lahan) ini kita tangani, di luar 30 ribu kita target Jawa kalau bisa 100 ribu (hektare). 100 ribu (hektare) yang tidak tanam tapi ada potensi air, kita tanami,” kata Amran.
Gapki Revisi Proyeksi Penurunan Produksi Sawit
Sebelumnya, Gapki memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia pada 2027 dapat turun sekitar 3 juta ton akibat dampak cuaca ekstrem yang berkaitan dengan El Nino. Proyeksi tersebut telah direvisi dari perkiraan sebelumnya yang menyebut penurunan produksi bisa mencapai 4 juta hingga 5 juta ton.
Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengatakan sejumlah wilayah perkebunan sawit telah mengalami hujan. Meski demikian, kombinasi antara hujan berlebih, suhu panas, dan kondisi kering tetap berpotensi mengganggu siklus produksi tanaman serta proses pemupukan.
Apabila terealisasi, penurunan produksi sebesar 3 juta ton setara dengan sekitar 5 persen dari total produksi sawit Indonesia. Gapki memperkirakan produksi sawit Indonesia pada tahun ini mencapai 56,6 juta ton.
Ekspor Berpotensi Lebih Terdampak
Gapki memperkirakan penurunan produksi akan lebih berpengaruh terhadap ekspor. Hal ini karena pasokan untuk memenuhi kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas.
Penurunan produksi juga berpotensi memperketat pasokan sawit di pasar global. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan bahan baku untuk program biodiesel B50 diperkirakan meningkat.
Kesimpulan
Mentan Andi Amran Sulaiman mengakui El Nino berpotensi memengaruhi produksi sawit, tetapi berharap penurunannya tidak besar. Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari memastikan pupuk tersedia tepat waktu, memperkuat pemeliharaan tanaman, mengendalikan hama, hingga menangani dampak kekeringan melalui pengairan apabila memungkinkan.
Di sisi lain, Gapki tetap memproyeksikan produksi minyak sawit Indonesia pada 2027 berpotensi turun sekitar 3 juta ton atau sekitar 5 persen dari total produksi. Perkembangan produksi sawit ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, efektivitas pemeliharaan tanaman, serta kemampuan pemerintah dan pelaku usaha dalam mengantisipasi dampak kekeringan dan gangguan pemupukan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment