Prabowo Bertemu Ramos-Horta, Bahas Potensi Kerja Sama Riset dan Pendidikan Tinggi
Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Timor-Leste Jose Ramos-Horta di Istana Kepresidenan. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah kunjungan delegasi Timor-Leste yang turut membawa sekitar 20 penerima Nobel Laureate dari berbagai bidang.
Sejumlah pejabat Indonesia hadir untuk mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan tersebut. Kehadiran Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menunjukkan adanya peluang pembahasan yang berkaitan dengan riset, pendidikan tinggi, dan kerja sama antarnegara.
BRIN Berpotensi Bahas Kontribusi Riset
Kepala BRIN tiba di Istana Kepresidenan pada Jumat (28/8) sekitar pukul 13.20 WIB. Ia datang untuk mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan dengan Presiden Ramos-Horta.
Menurut Kepala BRIN, pertemuan tersebut berpotensi membahas situasi terkini serta kontribusi riset dalam mendukung penyelesaian berbagai persoalan. BRIN juga dapat menyampaikan peran yang mungkin dilakukan melalui riset untuk membantu menghadirkan solusi.
“Hari ini tentu kami diundang oleh Bapak Presiden (Prabowo) untuk mendampingi beliau karena pertemuan dengan Presiden Timor-Leste. Dan biasanya sih setelah itu ada beberapa hal yang ingin dibicarakan terkait dengan situasi terkini, kemudian apa yang bisa disumbangkan BRIN untuk menjadi solusi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa riset dipandang sebagai salah satu aspek yang dapat mendukung pembahasan bilateral antara Indonesia dan Timor-Leste. Namun, rincian topik yang dibicarakan dalam pertemuan belum disampaikan secara lebih lanjut.
Peluang Kerja Sama Pendidikan Tinggi
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto juga tiba di Istana tidak lama setelah Kepala BRIN. Ia menyebut terdapat sejumlah ilmuwan penerima Nobel yang datang bersama rombongan delegasi Timor-Leste.
Brian mengatakan pertemuan tersebut berpotensi membahas kerja sama di bidang pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Kehadiran para penerima Nobel dinilai dapat menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mempelajari cara meningkatkan kualitas riset.
“Mungkin (membahas) kerja sama pendidikan ya, pendidikan tinggi terutama. Dan juga mungkin dengan peraih Nobel tentunya kan kita sangat ingin kualitas riset kita naik,” kata Brian.
Salah satu bentuk pembelajaran yang disebutkan Brian adalah mengirim mahasiswa program doktoral untuk belajar kepada ilmuwan penerima Nobel. Gagasan tersebut menjadi salah satu kemungkinan kerja sama yang dapat dibahas dalam konteks penguatan pendidikan tinggi dan riset.
Ilmuwan Nobel dari Berbagai Bidang
Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menjelaskan bahwa Presiden Jose Ramos-Horta datang bersama sekitar 20 delegasi yang merupakan penerima Nobel Laureate. Para delegasi tersebut sebelumnya menghadiri pertemuan mengenai sains di Timor-Leste pada 24-26 Agustus.
“Jadi hari ini Presiden Ramos-Horta membawa sekitar 20 delegasi yang merupakan Nobel Laureate, habis dari suatu pertemuan mengenai science di Timor-Leste yang pertemuannya diadakan tanggal 24-26,” ujar Arrmanatha.
Ia menambahkan, para penerima Nobel yang mendampingi Ramos-Horta berasal dari berbagai bidang. Di antaranya adalah bidang perdamaian, sains, kimia, pangan, serta bidang lainnya.
Keberagaman latar belakang para delegasi tersebut membuka kemungkinan berlangsungnya pertukaran pengetahuan dalam berbagai aspek. Meski demikian, pembahasan mengenai bentuk kerja sama secara lebih spesifik masih menunggu hasil pertemuan antara kedua negara.
Kesimpulan
Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Timor-Leste Jose Ramos-Horta berlangsung dengan kehadiran sekitar 20 penerima Nobel Laureate dari berbagai bidang. Indonesia melihat kunjungan tersebut sebagai peluang untuk membahas kerja sama pendidikan tinggi serta peningkatan kualitas riset.
BRIN berpotensi memberikan kontribusi melalui riset untuk mendukung solusi atas situasi terkini. Sementara itu, gagasan pengiriman mahasiswa program doktoral untuk belajar kepada ilmuwan penerima Nobel menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang dapat dipertimbangkan. Ke depan, kerja sama pendidikan, sains, dan riset antara Indonesia dan Timor-Leste berpeluang menjadi bagian dari pembahasan lanjutan kedua negara.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment