Prabowo Tegaskan Konsisten Dukung Demokrasi, Ingatkan Bahaya Pembajakan oleh Pemodal Besar
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa dirinya telah konsisten mendukung demokrasi dan reformasi di Indonesia sejak dahulu. Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat malam (18/9).
Dalam kesempatan itu, Prabowo menyampaikan bahwa dukungannya terhadap demokrasi bukanlah sikap yang baru muncul. Ia mengaku telah memperjuangkan demokrasi, termasuk ketika masih berada di lingkungan militer. Menurutnya, demokrasi merupakan bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Prabowo Tegaskan Dukungan terhadap Demokrasi
Prabowo mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan demokrasi yang berjalan dengan baik. Ia juga menegaskan bahwa dirinya mendukung reformasi yang menjadi bagian penting dari perjalanan politik Indonesia.
“Kita ingin demokrasi. Jangan salah, saya di tentara saya dukung demokrasi, saya dukung reformasi,” kata Prabowo dalam acara tersebut.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Prabowo ingin menegaskan kembali rekam sikapnya terhadap demokrasi. Ia menyampaikan hal tersebut di hadapan para tamu dan kader PAN dalam rangkaian peringatan hari ulang tahun partai tersebut.
Bagi Prabowo, demokrasi harus tetap dijaga agar dapat menjadi sarana bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi dan menentukan arah kehidupan politik nasional. Namun, ia mengingatkan bahwa sistem demokrasi juga memiliki tantangan yang harus diwaspadai oleh seluruh pihak.
Demokrasi Dinilai Bisa Dibajak dan Dibeli
Prabowo meminta masyarakat serta seluruh elemen bangsa untuk berhati-hati terhadap potensi penyalahgunaan demokrasi. Ia menilai demokrasi dapat dibajak oleh pihak-pihak yang memiliki modal besar dan kepentingan tertentu.
Menurut Prabowo, demokrasi tidak boleh hanya dipahami sebagai proses politik yang berlangsung secara formal. Sistem tersebut juga harus dilindungi dari berbagai upaya manipulasi yang dapat memengaruhi pilihan masyarakat.
“Saudara-saudara, tapi kita harus hati-hati bahwa demokrasi bisa dibajak, bisa dibeli,” ujar Prabowo.
Peringatan tersebut disampaikan Prabowo sebagai bentuk perhatian terhadap potensi masuknya kekuatan finansial dalam proses politik. Ia menilai adanya modal besar dapat dimanfaatkan untuk memengaruhi tokoh-tokoh politik maupun opini publik.
Dugaan Penggunaan Buzzer dan Robot
Prabowo menyebut upaya pembajakan demokrasi dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk dengan berusaha menyogok tokoh-tokoh politik di Indonesia. Selain itu, ia menyoroti penggunaan teknologi dan jaringan digital untuk membentuk persepsi masyarakat.
Ia mengatakan terdapat pihak-pihak yang memelihara algoritma serta menggunakan buzzer dan robot untuk menyebarkan pengaruh. Menurutnya, strategi tersebut berpotensi menyasar anak-anak dan masyarakat luas melalui informasi yang tidak benar.
“Mereka memelihara algoritma, pakai buzzer-buzzer, robot-robot. Anak-anak kita, rakyat kita dirusak, coba mereka pengaruhi dengan fitnah,” kata Prabowo.
Pernyataan tersebut menggambarkan kekhawatiran terhadap penyebaran fitnah di ruang publik, khususnya melalui saluran digital. Informasi yang disebarkan secara berulang dan terorganisasi dinilai dapat memengaruhi cara masyarakat memandang tokoh maupun isu politik tertentu.
Prabowo Sebut Masyarakat Tidak Mudah Dibodohi
Meski mengingatkan adanya upaya memengaruhi masyarakat melalui fitnah dan penggunaan jaringan digital, Prabowo tetap menyampaikan keyakinannya terhadap kecerdasan rakyat Indonesia. Ia menilai masyarakat tidak mudah dibodohi oleh berbagai upaya propaganda.
“Alhamdulillah rakyat kita tidak bodoh,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi penutup pesan Prabowo mengenai pentingnya kewaspadaan dalam menjaga demokrasi. Ia menekankan bahwa masyarakat perlu memiliki daya kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang sengaja dibuat untuk menyesatkan atau memecah belah.
Kesimpulan
Prabowo Subianto menegaskan bahwa dirinya konsisten mendukung demokrasi dan reformasi sejak dahulu, termasuk ketika masih berada di lingkungan tentara. Namun, ia mengingatkan bahwa demokrasi dapat dibajak atau dibeli oleh pihak bermodal besar melalui pengaruh terhadap tokoh politik, penggunaan buzzer, robot, algoritma, serta penyebaran fitnah.
Ke depan, pesan tersebut menempatkan kewaspadaan masyarakat sebagai salah satu hal penting dalam menjaga kualitas demokrasi. Kemampuan rakyat untuk menilai informasi secara kritis diharapkan dapat menjadi benteng menghadapi berbagai upaya manipulasi di ruang politik dan digital.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment